Tampilkan postingan dengan label Jet Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jet Tempur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 04, 2020

China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

J-31

Berdasarkan publikasi oleh laman Global Times China, yang mengutip laporan dari industri penerbangan China, pesawat tempur J-31 baru akan siap tahun depan.

Pengembangan J-31 dipimpin oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC) - perusahaan milik negara China yang bergerak dalam produksi pesawat sipil dan militer.

Belum banyak data tentang pesawat baru ini. Sebelumnya J-31 dianggap akan beroperasi dari kapal induk China. Pesawat itu dikembangkan berdasarkan Shenyang FC-31 - prototipe pesawat tempur generasi kelima Tiongkok, yang melakukan penerbangan pertamanya pada 2012 silam. Faktanya, saat ini hanya dua pesawat seperti itu yang telah dibuat.

Banyak analis yang berbicara tentang kemungkinan transformasi J-31 menjadi pesawat kapal induk. Entah ini hanya rumor atau bukan, tapi yang jelas armada kapal induk Tiongkok sekarang mengoperasikan J-15 - pesawat tempur berbasis kapal induk yang dibangun berdasarkan desain Sukhoi Su-33 Soviet (atau lebih mudah menyebutnya sebagai tiruan Su-33).

Saat ini China sudah mengoperasikan satu jenis pesawat tempur generasi kelima, yaitu Chengdu J-20. Pesawat ini dipamerkan kepada umum pada 2016.

Baca juga: Pesawat dan Helikopter Terbaik Buatan Rusia

Lebih lanjut tentang J-31
Bagi negara-negara yang ingin membeli pesawat tempur siluman canggih, J-31 atau FC-31 disediakan China sebagai analog murah dari F-35 Amerika. Enaknya, China tidak akan memaksakan iklim politik untuk menjualnya, tidak seperti Amerika.

Pabrik J-31 belum lama ini memposting foto-foto model J-31 yang dihiasi lambang Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, yang pengamat militer menilai bahwa pesawat militer itu kemungkinan juga akan digunakan PLA, meskipun sebelumnya pabrik pernah menyatakan bahwa J-31 khusus untuk ekspor.

Modelnya menyerupai desain asli FC-31. Membawa roket di bawah sayap, kompartemen senjata terbuka dan lambang PLA di bagian ekor.

Sekali lagi, ini memicu perdebatan tentang kemungkinan pesawat itu akan melayani PLA.

Masa depan J-31 tampaknya baru akan jelas apabila kapal induk ketiga China sudah selesai pembangunannya, di mana kapal induk ini disebutkan akan menggunakan pesawat tempur baru.

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

J-31

Sebagai analogi, Angkatan Udara AS memiliki F-22 dalam jumlah yang relatif sedikit, yang melengkapi armada besar F-35. Sama seperti F-22, pesawat tempur J-20 akan China gunakan sendiri, tidak diekspor, dan status J-31 kemungkinan akan sama dengan F-35 Amerika.

Harga J-31 diperkirakan akan berfluktuasi di kisaran $ 70 juta, dan ini tidak hanya membuat FC -31 bagus, tetapi hampir merupakan tawaran yang tidak dapat ditolak di pasar pesawat siluman.

Tidak ada negara lain yang mampu menawarkan pesawat tempur siluman dengan harga sedemikian rupa. Ini akan memberikan peluang besar bagi industri penerbangan China untuk menapakkan kakinya di pasar penerbangan militer global.

Apa yang akan diterima pembeli jika J-31 ditawarkan untuk ekspor? Pertama, tidak seperti F-35, J-31 tidak hanya murah, tetapi mesinnya dua. Meskipun kita tidak bisa mengatakan pesawat bermesin ganda lebih dapat diandalkan dari pesawat bermesin tunggal.

Selain itu, karakteristik penerbangan J-31 terlihat lebih baik. Misalnya, kecepatan maksimum J-31 adalah 2.200 km/jam, dibandingkan dengan 1.930 km/jam untuk F-35.

Kedua pesawat memiliki ukuran dan bobot yang hampir sama: panjang J-31 adalah 16,9 m, rentang sayap 11,5 m, berat maksimum lepas landas 25 ton, berat muatan 8 ton, Batas ketinggian terbang praktis 18.200 meter, dan radius tempur 1.200 kilometer.

China mengklaim bahwa J-31 memiliki fitur siluman yang baik, kesadaran informasi, kemudahan operasi dan kemampuan untuk menyerang target udara, darat dan laut, dan usai pakai hingga 30 tahun.

Secara teori, semua yang ditawarkan J-31 harusnya menarik bagi pelanggan asing. Poin penting lain yang perlu dicatat bahwa mesin RD-93 (mesin pada JF-17 Thunder) Rusia telah diganti dengan mesin WS-13E buatan mereka sendiri.

J-31 dan F-35

Su-57 Rusia dan J-20 China
Ketika Su-57 memasuki produksi serial, Moskow juga melakukan upaya untuk mengekspor pesawat tempur itu kepada para importir senjata utama Rusia seperti Turki, India, dan China.

Selama beberapa tahun terakhir, media pertahanan Tiongkok sangat antusias mengikuti perkembangan Su-57. Ulasan-ulasan mereka yang sebagian besar bernada positif sering dianggap sebagai salah satu penentu minat impor China.

Tetapi bagaimana jika pertanyaannya terbalik? Apa pendapat Rusia tentang pesawat tempur J-20 China?

Sementara ulasan-ulasan media pada umumnya hanya memuji Su-57, rekan media Rusia mereka jauh lebih bijak menyikapi J-20. Dalam sebuah artikel belum lama ini tentang kerjasama saling menguntungkan dari kesepakatan impor Su-57 China, outlet pertahanan Rusia terkemuka RG menyimpulkan bahwa Su-57 tidak lebih baik atau lebih buruk daripada J-20, keduanya memenuhi tujuan operasional yang sama sekali berbeda.

J-20 dirancang sebagai platform siluman untuk menembus pertahanan udara canggih untuk menargetkan infrastruktur penting atau aset militer. Su-57, di sisi lain, unggul sebagai platform superioritas udara yang "menggadaikan" fitur siluman dan serangan daratnya demi potensi pertempuran "dog fight." Dengan demikian, RG sudah dengan tepat mencirikan dorongan argumen ekspor Rusia, yaitu: Angkatan Udara China harus membeli Su-57 bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai pelengkap J-20.

Mungkin aspek yang paling lazim, jika tidak kontroversial, komentar Rusia mengenai J-20 adalah soal tuduhan berulang bahwa China membangun J-20 berdasarkan proyek pesawat tempur generasi kelima Soviet yang diajukan pada tahun 2000.

Baca juga: Pesawat dan Helikopter Terbaik Buatan Rusia
Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57

Dmitry Drozdenko, wakil editor publikasi militer Rusia "Arsenal of the Fatherland," mengatakan kepada Sputnik bahwa J-20 didasarkan pada MiG 1.44 yang bernasib malang: "Menurut saya, mesin (maksudnya pesawat J-31) tersebut didasarkan pada MiG 1.44 Rusia. Pesawat itu dibuat untuk bersaing dengan PAK FA desain awal. Pesawat China sangat mirip. Meskipun belum diumumkan secara resmi, J-20 menggunakan mesin AL-31F kami, yang dikembangkan oleh Salut, yang dibeli orang China dengan harga setengah miliar dolar."

Artikel itu kemudian mengutip konfigurasi canard dan bagian ekor yang berbentuk serupa sebagai contoh kemiripan yang diduga aneh antara kedua pesawat tempur.

TASS, kantor berita terkemuka Rusia, mencatat bahwa sejumlah J-20 saat ini dijalankan dengan mesin AL-31F dan bahwa J-20 berbagi desain aerodinamika "mirip bebek" yang khas dengan MiG-1.44, tetapi belum ada laporan yang menyebutkan bahwa orang China berkonsultasi secara langsung dengan Rusia untuk membangun J-20.

Berhubungan dengan masalah mesin, komentator pertahanan Rusia senada dengan rekan-rekan Barat mereka dalam skeptisisme mereka tentang status mesin WS-15 yang seharusnya digunakan J-20.

MiG 1.44 dan J-20

Baca juga: Perbandingan: J-20 China VS F-22 Raptor AS
Baca juga: China Klaim Jet Tempur Siluman J-20 Bisa 'Beast Mode' Seperti F-35

Masalah kinerja dan keandalan mesin WS-15 telah memaksa China memproduksi J-20 awal dengan WS-10B yang berdesain lebih tua dan inferior. Ada spekulasi singkat pada 2018 bahwa para insinyur China telah berhasil memperbaiki WS-15, tetapi belum ada konfirmasi lebih lanjut hingga saat ini.

Meskipun Moskow mungkin tidak memiliki niat untuk mengimpor pesawat tempur siluman andalan China itu, persepsi mereka tentang hal itu relevan dengan upaya berkelanjutan Rusia untuk menjual Su-57 pada China. Secara khusus, Rosoboronexport - agen ekspor senjata Rusia - harus membuat kasus yang meyakinkan bahwa Su-57 memang memiliki sesuatu yang dibutuhkan oleh China, sesuatu yang tidak dimiliki J-20.

Demikian juga, evaluasi mereka terhadap J-20 secara strategis penting dalam konteks hubungan pertahanan China-Rusia yang sedang berkembang di mana masing-masing pihak tidak ingin diturunkan statusnya menjadi mitra junior.

Rabu, Juni 17, 2020

Su-27: Pesawat Tempur Aerobatik yang Mengubah Wajah Aviasi Modern

Su-27

Dibangun pada akhir 1960-an, Su-27 menjadi dasar bagi pengembangan dan modifikasi puluhan pesawat tempur lainnya pada masa selanjutnya. Su-27 adalah pencegat tempur multifungsi yang dapat melakukan misi kapan pun dan dalam kondisi cuaca apa pun.

Lebih dari empat dasawarsa lalu, pada 20 Mei 1977, prototipe pesawat tempur generasi keempat Su-27 untuk pertama kalinya lepas landas. Sebagai simbol kemajuan teknologi aviasi domestik dan dunia kala itu, para perancang Su-27 berhasil menciptakan mesin tercanggih yang belum pernah ada sebelumnya.

Tak heran, pengembangan pesawat tempur ini cukup lama. Bertahun-tahun kemudian, Su-27 menjadi dasar bagi pengembangan dan modifikasi puluhan pesawat tempur lainnya.

Su-27

Su-27 mulai dibangun pada akhir 1960-an. Para desainer diminta untuk membangun sebuah pesawat yang melampaui pesawat tempur F-15 Eagle Amerika. Tiga biro desain terkemuka menjawab tantangan tersebut: Sukhoi, Yakovlev, dan Mikoyan.

Pada 1972, pemerintah Rusia memilih dua proyek dari Biro Desain MiG dan Biro Desain Sukhoi. Kedua biro inilah yang kemudian menciptakan dua pesawat tempur generasi keempat buatan dalam negeri yang pertama: MiG-29 dan Su-27.

Baca juga: Pesawat Tempur MiG, Si Canggih yang Kurang Dikenal
Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Su-27

Diterbangkan oleh pilot penguji Vladimir Ilyushin, prototipe pertama Su-27 mengudara pada 20 Mei 1977. Ada lima pesawat yang dibangun untuk tes penerbangan. Namun, pesawat-pesawat tersebut ternyata tak mampu melampaui karakteristik F-15 dan terus disempurnakan. Pada 1981, model T-10S Su-27 yang sudah ditingkatkan diluncurkan untuk pertama kalinya. Setahun kemudian, pesawat tersebut mulai beroperasi di unit-unit aviasi militer Soviet.

Baca juga: F-15 Eagle, Salah Satu yang Terbaik dari AS

Su-27

Empat tahun kemudian, pesawat dengan pilot penguji Viktor Pugachev melesat ke ketinggian 3.000 meter hanya dalam tempo 25,4 detik dan mencetak rekor dunia. Pada Maret 1987, Nikolai Sadovnikov, pilot penguji lainnya, mendaki ke ketinggian 15 kilometer hanya dalam tempo 76 detik.

Pesawat ini terbukti sukses dan bahkan berhasil mencatatkan lebih dari 30 rekor dunia di bidang aeronautika, termasuk rekor ketinggian, daya angkut, dan banyak lainnya.

Baca juga: Su-27 Rusia: Flanker Ancaman NATO

Su-27

Su-27 akhirnya menyita perhatian dunia selama Pertunjukan Udara Paris Le Bourget pada 1989. Selama pertunjukan tersebut, Su-27 menampilkan gaya aerobatik baru, yang nantinya dikenal dengan nama Kobra Pugachev (sesuai nama sang pilot).

Saat melesat di angkasa, pesawat tersebut tiba-tiba mengangkat moncongnya dengan tajam tanpa mengubah kecepatan. Posisi tersebut otomatis meningkatkan sudut serangan hingga 120 derajat. Dalam posisi yang tampak seperti ular kobra yang siap mematuk tersebut, pesawat melayang-layang di udara dan kemudian kembali ke posisi normal.

Trik semacam itu dipercaya bisa menyelamatkan dari serangan rudal dengan sistem penjejak radar independen (active radar homing) lantaran kecepatan pesawat menurun drastis secara tiba-tiba. Selain itu, manuver ini juga digunakan saat meninggalkan musuh selama pengejaran.

Su-27

Untuk lebih meningkatkan sudut serangan, Su-27 didukung dengan thrust vector control (TVC) untuk memanipulasi arah daya dorong (thrust) yang dihasilkan mesin pesawat. Dengan demikian, pesawat tersebut bisa melakukan trik-trik seperti Cakra Frolov ketika mencapai ketinggian tertentu sambil mengurangi kecepatan. Dari posisi ini, pesawat akan bermanuver membuat “lingkaran maut” dan membuat sudut serangan hingga 360 ​​derajat.

Baca juga: J-11 Tiongkok vs Su-27 Rusia: Serupa tapi Tak Sama

Su-27

Sistem kontrol elektronik baru, yang tak ada pada pesawat tempur generasi ketiga, membantu Su-27 melakukan trik-trik rumit semacam itu. Alih-alih menggunakan kabel, sinyal listrik membuat Su-27 menjadi pesawat yang stabil dan supermanuver. Dijuluki Flanker-B (Flanker) oleh NATO, Su-27 dilengkapi dengan radar baru berupa sistem pengarah elektronik optik dan mesin AL-31F yang kuat.

Su-27

Su-27 secara resmi mengawali layanan militernya pada 23 Agustus 1990. Pada saat itu, Su-27 telah mengatasi segala kekurangan yang teridentifikasi selama pengujian. Sejak dimulainya produksi massal pada 1984, sekitar 1.500 unit Su-27 dan modifikasinya, serta Su-30, Su-33, Su-34, dan Su-35 telah diproduksi. Su-27 juga menjadi dasar percobaan untuk membuat pesawat tempur Su-47 Berkut yang menjanjikan dengan sayap terbalik dan penggunaan lebih lanjut bahan komposit dalam perancangan pesawat.

Baca juga: Sukhoi Su-34 Fullback
Baca juga: VIDEO: Kemampuan Tempur dan Manuver Su-35

Su-27

Spesifikasi
Rentang sayap: 14,7 m
Luas sayap: 62 m²
Panjang: 21,935 m
Tinggi: 5,935 m
Berat kosong: 16.000 kg
Berat isi: 23.000 kg
Berat maksimum saat lepas landas: 30.000 kg
Mesin: AL-31F
Mesin dorong dengan pembakar lanjut: 2 x 12.500 kgF
Laju maksimum: 2.500 km/jam
Daya jangkau: 3.900 km
Jangkauan mendaki: 18.500 m
Kru: satu awak

Resources

Jumat, Mei 08, 2020

Turki Menjadi Kekuatan Besar Drone Timur Tengah?

Drone Anka-S Turki
Drone Anka-S Turki. (Gambar via Weapon News)

Rudal MAM-L dikembangkan berdasarkan rudal anti-tank L-UMTAS Turki.

Rudal MAM-L membuktikan bahwa gelontoran dana besar Turki untuk membangun industri senjatanya telah terbayarkan. Turki membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan analog dengan sistem canggih lainnya dengan cepat dan efektif, mengadaptasi teknologi persenjataan yang sudah ada dari desain sebelumnya.

Industri drone dan persenjataan Turki menjadi sorotan setelah keberhasilan drone bersenjatanya selama misi di Suriah pada bulan Februari dan Maret 2020. Drone Turki dilaporkan menghancurkan beberapa kendaraan pertahanan udara buatan Rusia yang dioperasikan militer Suriah, meskipun sumber-sumber Rusia membantah ini. Namun, keefektifan drone Turki dalam memukul target musuh tidak perlu diragukan lagi.

Seperti halnya senjata khas drone MQ-1 Predator Amerika Serikat, yaitu rudal AGM-114 Hellfire yang telah terkenal lewat perang global AS melawan teror, Turki juga telah mengembangkan senjata ideal untuk drone dalam rudal MAM-L. Namun, tidak seperti Hellfire yang tetap serupa untuk varian drone dan helikopternya, MAM-L didesain ulang secara signifikan dari rudal asalnya khusus untuk menjadi senjata khusus drone.

Rudal MAM-L Turki
Rudal MAM-L Turki. (Gambar: Defence Turkey)

Rudal MAM-L dibuat berdasarkan rudal anti-tank L-UMTAS Turki. Tetapi karena dirancang untuk diluncurkan dari drone, maka MAM-L membuang mesin roket dari L-UMTAS, yang membuat ukurannya hanya setengah dari ukuran panjang L-UMTAS dan juga lebih ringan. Namun, teknologi pencari, kontrol permukaan, dan hulu ledak tetap memakai milik L-UMTAS.

MAM-L juga tersedia dalam berbagai jenis hulu ledak daripada L-UMTAS, yang hanya memiliki hulu ledak HEAT tandem. MAM-L ditawarkan dengan hulu ledak fragmentasi tinggi, termobarik, dan tandem HEAT, mungkin sebagai antisipasi untuk digunakan terhadap berbagai target yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan amunisi drone mikro lainnya, yang menggantikan hulu ledak ukuran kecil dengan menawarkan varian khusus yang dioptimalkan untuk jenis target tertentu.

Namun, MAM-L tetap saja masih memiliki beberapa kekurangan. Secara umum, MAM-L setara dengan dengan AGM-176 Griffin AS, dengan berat keduanya kurang dari 25 kilogram dan panjangnya sekitar 1 meter. Tetapi sirip tetap MAM-L membuat penggunaannya terbatas sebagai senjata drone. Sedangkan Griffin didesain dengan sirip 'pisau jack' yang menyembul keluar, memungkinkannya untuk dibawa dan diluncurkan dari tabung. Hal ini memungkinkan lebih banyak Griffin untuk dibawa dalam unit tertentu, dan memungkinkan untuk pemasangan inovatif seperti peluncuran dari ramp pesawat kargo.

Tapi mungkin saja fitur-fitur ini nantinya akan ditambahkan ke MAM-L seiring waktu, tetapi Roketsan, pabrikan MAM-L tampaknya saat ini lebih fokus pada MAM-C, rudal yang lebih kurus namun lebih panjang yang tetap mempertahankan sirip tetap.

Apapun itu, MAM-L membuktikan bahwa investasi Turki untuk membangun industri persenjataannya telah terbayar atau setidaknya membuahkan hasil. Terbukti mampu menghasilkan analog dengan sistem canggih lainnya dengan cepat dan efektif, mengadaptasi teknologi yang ada dari desain sebelumnya.*

Selasa, April 21, 2020

Video dari Kokpit MiG-31 Rusia Bertemu dengan F-16 NATO

MIg-31 Rusia bertemu F-16 NATO

Video menarik dari Foxhound Rusia dalam pertemuan dekat dengan F-16 NATO.

Video di bawah ini direkam dari kokpit MiG-31 yang sedang mengawal pesawat pembom Tu-95MS Rusia ketika muncul F-16 milik Angkatan Udara Norwegia mendekatinya. Pilot MiG-31 Rusia memberi kode jempol pada pilot F-16.

Sayangnya, tidak disebutkan kapan dan di mana pencegatan itu terjadi, meskipun sangat mungkin bahwa pertemuan dekat ini terjadi di wilayah udara internasional Norwegia, di mana Tu-95 Rusia dan Tu-142MK ASW (Anti-Submarine Warfare) dan pesawat patroli maritim dibayangi oleh jet Angkatan Udara Norwegia.

Seperti yang diberitakan media, pada 7 Maret 2020, ketika Tu-142MK dan Tu-142MR Bear-J, dikawal oleh setidaknya satu MiG-31 Foxhound (dipersenjatai dengan rudal R-33) dicegat oleh F-16 dan juga F-35A Norwegia yang diluncurkan dari Orland Air Station.



Interaksi antara jet NATO dan Rusia belakangan cenderung ramah, tidak seperti yang sering terjadi selama beberapa dekade Perang Dingin. Tidak ada yang seperti "intersepsi tidak aman" yang sering dilaporkan belakangan ini atau yang ditampilkan dalam video.

Pencegatan terbaru yang tidak aman dilaporkan pada 15 April 2020, ketika sebuah pesawat P-8A Poseidon Angkatan Laut AS yang terbang di wilayah udara internasional di atas Laut Mediterania timur dicegat oleh Su-35 Rusia yang melakukan manuver berbalik berkecepatan tinggi, berjarak hanya 25 kaki langsung di depan pesawat itu. Menempatkan pilot dan kru Poseidon dalam bahaya (karena muncul turbulensi), menurut klaim USN.

Kembali ke video baru ini, perlu diingat bahwa MiG-31 Foxhound adalah pengganti untuk MiG-25 Foxbat yang dikonfigurasi dengan cara yang sama, pencegat berkecepatan tinggi dan ketinggian tinggi yang awalnya didesain sebagai tanggapan strategis atas pesawat pembom strategi XB-70 Valkyrie AS yang berkecepatan lebih dari 3 Mach yang tidak pernah masuk layanan.

Foxbat mencapai ketenaran pada 6 September 1976, ketika pilot Rusia Viktor Belenko membelot ke Barat dengan mendarat di Jepang dengan MiG-25.

MiG-31 Foxhound adalah turunan dua tempat duduk dari MiG-25.

MiG-31 adalah pencegat berkecepatan tinggi, ketinggian tinggi, yang beroperasi sejak tahun 1983 yang diturunkan untuk mengatasi pembom B-1B AS, yang dirancang untuk terbang di ketinggian rendah, di bawah jangkauan radar. Oleh karena itu, MiG-31 memiliki kemampuan terbang rendah yang cukup baik dan dilengkapi dengan radar canggih dengan kemampuan look-down-shoot-down yang diperlukan untuk mendeteksi pesawat pembom terbang rendah, dan data bus, yang memungkinkan untuk mengkoordinasi serangan dengan jet tempur Rusia lainnya.

Meskipun bukan pesawat generasi baru, dengan kecepatan tertinggi 2,83 Mach dan jangkauan 1.450 km, Foxhound masih merupakan salah satu pencegat paling menakjubkan yang pernah dibangun. Rusia baru-baru ini mengupgrade armada MiG-31 mereka dengan kemampuan baru yang mencakup rudal hipersonik dan bahkan kemampuan peluncuran satelit kecil.*

Minggu, April 12, 2020

Asal-Usul Nama dan Keunggulan Su-57

Sergey Bobilev/TASS

Jet tempur generasi kelima Rusia ini awalnya bernama T-50 dan baru resmi disebut Su-57 pada Agustus 2017. Apa makna dibalik angka 57 tersebut? Lalu apa pula keunggulan jet tempur ini dari jet tempur lainnya?

Sejarah Su-57
Jet tempur ini telah dikembangkan sejak awal abad ke-21. Sepuluh tahun kemudian (pada 2010), Su-57 mengangkasa untuk pertama kalinya.

Awalnya proyek ini dikritik secara luas, karena berbagai masalah yang tidak memungkinkannya memenuhi kriteria jet tempur generasi kelima. Salah satu masalah terbesar adalah mesinnya

Selama bertahun-tahun, ia masih menggunakan mesin dari jet tempur generasi sebelumnya, sehingga tidak menghadirkan kemampuan terbang dan pertempuran udara yang diinginkan selama pengujian. Namun pada akhir 2018, masalah ini diselesaikan dan Su-57 masuk ke tahap produksi serial. 

Su-57
Olga Sokolova/Reuters

Asal-usul nama Su-57
Jet tempur generasi kelima Rusia awalnya dinamai T-50. Berdasarkan tradisi produksi jet Rusia, huruf 'T' diberikan kepada proyek-proyek jet yang memiliki sayap segitiga. Sedangkan angka 50 berasal kata "poltinik" (koin setengah rubel), nama tak resmi yang diberikan para perancang jet itu.

Pada Agustus 2017, barulah Panglima Angkatan Udara (AU) Rusia secara resmi menyebut jet itu dengan nama Su-57.

Su, tentu saja, berasal dari konstruktor dan pabrik pembuatnya yaitu Sukhoi. Angka 57 juga memiliki makna tersembunyi: 5 menunjukkan generasi kelima dari jet tempur Rusia, dan 7 adalah nomor keberuntungan, yang menunjukkan hubungan dengan jet tempur terbaik generasi sebelumnya, Su-27.

Kontrak pengiriman Su-57 ke AU Rusia ditandatangani pada forum "Army-2019". jet ini telah diuji di langit Suriah dan sedang menjalani proses persiapan mode operasi mesin fase kedua.

Su-57
Global Look Press

Yang istimewa dari Su-57
Apakah Su-57 lebih baik daripada jet tempur generasi kelima Amerika dan Tiongkok? Kita tidak tahu. Berikut adalah klaim pengembang untuk keunggulan Su-57.

Jet tempur pertama buatan Rusia milik NATO?
Tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin meninjau Su-57 bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan di pameran udara MAKS-2019, di pinggiran kota Moskow. Keduanya bahkan membahas potensi pembelian jet-jet ini oleh Turki yang merupakan anggota NATO. Namun, kedua negara masih harus menyelesaikan semua rincian potensial dan belum menandatangani kontrak.

Satu-satunya saingan jet tempur terbaik Amerika
Su-57 adalah jet tempur kedua dalam kelasnya (generasi kelima) yang telah sepenuhnya dibangun di dunia (Tiongkok masih berkutat mengerjakan Chengdu J-20). Jet tempur ini dibuat untuk menyaingi jet terbaik Amerika F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Su-57
Reuters

Mesin garang Su-57
Su-57 menerima mesin jet generasi baru yang memungkinkannya berakselerasi dalam mode non-afterburner ke kecepatan supersonik dan mempertahankannya di keseluruhan penerbangan.

Kecepatannya melebihi 2.000 km/jam, selagi bermanuver dan melakukan aerobatik, sehingga mampu menghindari tembakan rudal dan senjata musuh dengan lebih baik. 

Tidak terdeteksi radar 
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan jet generasi kelima secara umum adalah untuk menyembunyikan mereka dari sistem pertahanan udara modern. 

Untuk mencapai itu para insinyur harus menyembunyikan semua persenjataan (rudal dan bom) di dalam badan jet. Mereka juga harus menggunakan bahan komposit terbaru dan termahal dalam konstruksi badan jet. 

Tugas-tugas ini sangat sulit, karena jet tempur yang kelebihan beban harus bertahan di udara, saat terbang dengan kecepatan tinggi dan bermanuver selama melakukan dogfight (pertarungan udara jarak dekat di mana posisi jet berada di belakang jet musuh).

Su-57
Vladimir Astapkovich/Sputnik

Memiliki persenjataan termutakhir
Su-57 memiliki banyak rudal udara ke udara dan udara ke permukaan, serta senapan 30-mm. Seperti disebutkan sebelumnya, tidak ada yang menggantung di sayap, melainkan tersembunyi di dalam tubuh jet.

Selama beroperasi di Suriah, Angkatan Udara Rusia menguji serangkaian senjata yang mungkin dipasang pada jet tempur generasi kelima. Bom penerbangan jenis pembakar berdaya ledak tinggi OFZAB-500 dan jenis peledakan denotasi ODAB-500PMB juga dapat melengkapi persenjataan Su-57.

Teknologi rudal hipersonik juga dikembangkan untuk digunakan oleh Su-57.

Akan ada 76 Su-57 di militer Rusia
Setidaknya, itu sudah jumlah yang telah dipesan oleh angkatan udara Rusia. Su-57 akan dikerahkan di seluruh Rusia dan belum ada rencana untuk menempatkan mereka di wilayah sekutu.

Disebutkan bahwa bahwa setiap produksi Su-57 menelan biaya 34,4 juta dolar AS. Namun, ini hanya rumor. Bagaimanapun, jumlah itu hampir lima kali lebih murah daripada saingannya F-22 Raptor Amerika, yang menelan biaya 146,2 juta dolar AS untuk setiap jet. 

Su-57
Vitaly V. Kuzmin/www.vitalykuzmin.net

Mana yang lebih baik, Su-57 atau F-22?
Kedua jet tempur generasi kelima ini adalah maha karya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya  jika dibandingkan satu sama lain.

Ahli penerbangan internasional menilai bahwa Su-57 Rusia jauh lebih baik bermanuver dalam sebuah pertempuran udara potensial daripada F-22 dan F-35. Analisis menyatakan bahwa teknologi siluman yang mahal diimplementasikan ke dalam F-22 dan F-35 yang secara drastis mengurangi kemampuan terbang mereka.

Mereka mengatakan bahwa secara praktis memang jet-jet Amerika tidak terlihat di radar, tetapi jika terdeteksi, mereka memiliki lebih sedikit kemungkinan untuk menghindari serangan udara pada mereka. (Russia Beyond)

Jumat, Oktober 19, 2018

Mengapa Su-35 Menjadi Salah Satu Pesawat yang Perlu Ditakuti AS

Su-35

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah jet tempur superioritas udara terbaik yang dioperasikan Rusia saat ini, dan mewakili puncak desain jet tempur generasi keempat. Su-35 akan terus seperti itu sampai Rusia mengoperasikan pesawat tempur siluman generasi kelima PAK-FA.

Dibedakan oleh kemampuan manuvernya yang tak tertandingi, sebagian besar kemampuan elektronik dan senjata Su-35 telah berhasil melampaui pesaing Baratnya, seperti F-15 Eagle. Tapi sementara Su-35 mungkin menjadi musuh yang mematikan bagi F-15, Eurofighter, dan Rafale, sebuah tanda tanya besar seberapa efektif pesawat ini dapat bersaing dengan jet tempur siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35.

Sejarah

Su-35 adalah evolusi dari Su-27 Flanker, desain era akhir Perang Dingin yang dimaksudkan untuk dicocokkan dengan F-15 dalam hal konsep. Su-27 adalah sebuah pesawat tempur multiperan bermesin ganda yang mengkombinasikan kemampuan kecepatan, dogfighting, dan muatan senjata yang sangat baik.

Pada tahun 1989, Su-27 mengejutkan penonton di Paris Air Show ketika mendemonstrasikan Pugachev Cobra, sebuah manuver di mana pesawat harus menahan moncongnya hingga vertikal 120 derajat — tetapi terus melambung di depan sikap asli pesawat.

Meskipun sudah banyak yang diekspor, Flanker sama sekali belum berbenturan dengan pesawat Barat, tetapi pernah terlibat dalam pertempuran udara-ke-udara militer Ethiopia selama perang perbatasan dengan Eritrea, 'membunuh' empat MiG-29 tanpa kerugian. Flanker juga telah digunakan untuk misi serangan darat.

Sejarah perkembangan Su-35 sedikit rumit. Upgrade Flanker dengan kanard (tambahan sayap kecil di depan pesawat) yang disebut sebagai Su-35 (Su-27M) pertama kali muncul pada tahun 1989, tetapi itu bukan pesawat yang sama dengan model Su-35 sekarang; hanya lima belas yang diproduksi. Upgrade Flanker, Su-30 dua kursi, telah diproduksi dalam jumlah signifikan, dan variannya diekspor ke belasan negara.

Model Su-35 saat ini adalah tanpa kanard, dan merupakan tipe keluarga Flanker yang paling modern. Ini mulai dikembangkan pada tahun 2003 oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO), subkontraktor dari Sukhoi. Prototipe pertama diluncurkan pada 2007 dan produksi dimulai pada 2009.

Airframe dan Mesin

Keluarga pesawat Flanker adalah supermaneuverable — artinya direkayasa untuk melakukan manuver terkendali yang tidak mungkin melalui mekanisme aerodinamis reguler. Pada Su-35, ini sebagian dicapai melalui penggunaan mesin thrust-vectoring: nozel turbofan mesin Saturn AL-41F1S dapat secara independen mengarah ke arah yang berbeda dalam penerbangan untuk membantu pesawat dalam berguling dan mengoleng (menyimpang dari lintasan lurus). Hanya satu jet tempur operasional Barat yang memiliki teknologi serupa, yakni F-22 Raptor.

Ini juga memungkinkan Su-35 untuk mencapai sudut serangan yang sangat tinggi — dengan kata lain, pesawat bisa bergerak ke satu arah sementara moncongnya mengarah ke arah lain. Sudut serangan yang tinggi memungkinkan Su-35 lebih mudah menghajar target dengan rudalnya dan melakukan manuver yang sempit.

Manuver seperti itu mungkin berguna untuk menghindari rudal atau dogfighting pada jarak dekat — meskipun melakukannya akan menguras energi pesawat.

Flanker-E dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 2,25 (2.778km/jam) pada ketinggian tinggi (lebih kurang sama dengan F-22 dan tapi lebih cepat daripada F-35 atau F-16) dan memiliki akselerasi yang sangat baik. Namun, berbeda dengan isu awal, Su-35 tampaknya tidak supercruise — melakukan penerbangan supersonik secara kontinyu tanpa menggunakan afterburner — saat muatan penuh. Ketinggian terbang maksimal pesawat ini adalah 60.000 kaki (16.288 meter), setara dengan F-15 dan F-22, dan sepuluh ribu kaki lebih tinggi daripada Super Hornet, Rafale, dan F-35.

Kapasitas bahan bakar Su-35 telah ditingkatkan, memberikannya jangkauan 2.200 mil (3.540 km) dengan menggunakan bahan bakar internal, atau 2.800 mil (4.506 km) dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Baik airframe (badan pesawat) yang merupakan titanium ringan dan mesin memiliki usia pakai yang secara signifikan lebih lama dari pendahulunya, yakni masing-masing 6.000 dan 4.500 jam penerbangan, masing-masing. (Sebagai perbandingan, usia pakai airframe F-22 dan F-35 adalah 8.000 jam).

Airframe Flanker bukan berteknologi siluman tulen. Namun, penyesuaian pada kanopi dan inlet (lubang masuk) mesin, dan penggunaan bahan penyerap radar, diduga mengurangi radar cross-section Su-35; sebuah artikel bahkan mengklaim radar cross-section Su-35 mungkin turun menjadi antara satu dan tiga meter. Ini bisa menurunkan kemampuan musuh untuk mendeteksi dan menargetkan, tetapi tetap saja Su-35 bukan pesawat siluman.

Persenjataan

Su-35 memiliki dua belas hingga empat belas cantelan senjata, yang memberikannya kemampuan memuat senjata yang sangat baik dibandingkan F-15C dan F-22 yang delapan cantelan, atau empat rudal internal saja pada F-35.

Untuk target jarak jauh, Su-35 dapat menggunakan rudal-rudal yang dipandu radar K-77M (dikenal oleh NATO sebagai AA-12 Adder), yang diklaim dapat menjangkau target lebih dari 200 km.

Untuk serangan jarak pendek, rudal R-74 (sebutan NATO: AA-11 Archer) dipandu inframerah dengan melihat target melalui penglihatan optik-mount helm, pilot dapat menargetkan pesawat musuh naik enam puluh derajat dari lokasinya. R-74 memiliki jangkauan lebih dari 25 mil (40 km), dan juga menggunakan teknologi thrust-vectoring.

Rudal R-27 jarak menengah dan tambahan R-37 jarak jauh (alias AA-13 Arrow, untuk digunakan melawan pesawat AWAC, EW dan tanker) melengkapi ragam rudal udara ke udara yang melengkapi Su-35.

Selain itu, Su-35 dipersenjatai dengan kanon 30mm 150 putaran untuk memberondong atau dogfighting.

Flanker-E juga dapat membawa hingga 17.000 pon (7.711 kg) amunisi udara ke darat. Namun, secara historis Rusia membatasi penggunaan precision-guided munitions (PGM) dibanding angkatan udara Barat.

Sensor dan Avionik

Peningkatan paling penting Su-35 dari pendahulunya mungkin dalam perangkat keras. Su-35 dilengkapi dengan sistem penanggulangan elektronik L175M Khibiny yang kuat yang dimaksudkan untuk mendistorsi gelombang radar dan mengacaukan arah rudal musuh. Ini dapat secara signifikan menurunkan upaya musuh untuk menargetkan dan memukul Flanker-E.

Radar IRBIS-E passive electronically scanned array (PESA) dibekalkan pada Su-35 agar dapat memberikan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi pesawat siluman. Radar PESA diklaim mampu melacak hingga tiga puluh target udara dengan Radar-cross section tiga meter hingga 250 mil (402 km) jauhnya - dan target dengan radar cross-sections kecil 0,1 meter lebih dari lima puluh mil (80 km) jauhnya. Namun, radar PESA lebih mudah dideteksi dan dijamming daripada radar Active Electronically Scan Array (AESA) yang sekarang digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Barat. IRBIS juga memiliki mode udara ke darat yang dapat menitik hingga empat target permukaan pada satu waktu untuk PGM.

Melengkapi radar adalah sistem penargetan OLS-35 yang mencakup sistem Infra-Red Search and Track (IRST) yang disebutkan memiliki jangkauan 50 mil (80 km) - berpotensi memberikan ancaman signifikan pada pesawat siluman.

Sistem yang umum pada jet tempur tetapi vital — seperti multi-function display pilot dan avionik fly-by-wire — juga telah diperbarui secara signifikan.

Unit Operasional dan Pengguna di Masa Depan

Saat ini, Angkatan Udara Rusia hanya mengoperasikan 48 Su-35. Lima puluh lainnya dipesan pada Januari 2016, dan akan diproduksi dengan sebanyak 10 unit setiap tahun. Empat Su-35 dikerahkan ke Suriah Januari lalu setelah Su-24 Rusia ditembak jatuh oleh F-16 Turki. Bersenjata penuh dengan rudal udara-ke-udara, Su-35 dimaksudkan untuk mengirim pesan bahwa Rusia akan menimbulkan ancaman udara jika diserang.

China telah memesan dua puluh empat Su-35 dengan biaya $ 2 miliar, tetapi diperkirakan tidak akan membeli lebih banyak. Minat Beijing membeli Su-35 diyakini hanya karena ingin mengcopy mesin thrust-vector Su-35 untuk digunakan pada pesawat desainnya sendiri. Sebelum ini, China sudah mengoperasikan Shenyang J-11, yang merupakan copy dari Su-27.

Upaya untuk memasarkan Su-35 di luar negeri, terutama ke India dan Brasil, tampaknya telah kandas. Terakhir, Indonesia telah menyatakan niatnya membeli 11 unit, meskipun penandatanganan kontrak sempat tertunda beberapa kali. Aljazair dilaporkan mempertimbangkan akuisisi sepuluh Su-35 senilai $ 900 juta. Mesir, Venezuela, dan Vietnam juga merupakan pelanggan potensial.

Perkiraan harga per unit Su-35 adalah antara $ 40 juta dan $ 65 juta; Namun, untuk kontrak ekspor telah berada di harga lebih dari $ 80 juta per unit.

Melawan Pesawat Generasi Kelima

Su-35 setidaknya sama — jika bukan melebihi — kemampuan pesawat-pesawat tempur generasi empat Barat yang tercanggih. Pertanyaan besarnya, seberapa baik Su-35 untuk dihadapkan pada pesawat siluman generasi kelima seperti F-22 atau F-35?

Kemampuan manuver Su-35 membuatnya menjadi dogfighter yang tak tertandingi saat ini. Namun, pertempuran udara di masa depan menggunakan rudal terbaru (R-77, Meteor, AIM-120) dapat berpotensi terjadi pada jarak yang sangat jauh, bahkan untuk pertempuran jarak pendek dengan rudal seperti AIM-9X dan R-74 tidak lagi perlu untuk mengarahkan pesawat ke target. Meskipun demikian, kecepatan Su-35 (yang berkontribusi terhadap kecepatan rudal) dan kemampuan membawa muatan yang besar berarti Su-35 akan dapat mempertahankan kemampuannya sendiri dalam pertempuran jarak jauh. Sementara itu, kelincahan dan penanggulangan elektronik Flanker-E ini dapat membantu menghindari rudal lawan.

Masalahnya adalah kita tidak tahu seberapa efektif teknologi siluman bila berhadapan dengan lawan berteknologi tinggi. F-35 bila melakukan duel jarak dekat dengan Flanker-E maka akan berada dalam kesulitan besar - tapi seberapa baik kesempatan Flanker E untuk mendekati pesawat siluman itu yang perlu dicari tahu.

Sebagaimana kemampuan yang Angkatan Udara AS miliki, pesawat tempur siluman akan melepaskan rudal-rudal dari jarak seratus mil tanpa musuh memiliki cara untuk membalas tembakan sampai mereka berada jarak dekat, di mana visual dan IR scanning ikut bermain. Para proponen pesawat tempur Rusia berpendapat bahwa mereka dapat mengandalkan radar low-bandwidth berbasis darat, dan radar PESA dan sensor IRST on-board, untuk mendeteksi pesawat siluman. Namun, perlu diingat bahwa kedua teknologi ini kurang akurat untuk menargetkan senjata.

Kedua belah pihak jelas memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang sangat besar untuk mengunggulkan produk mereka. Meskipun berguna untuk memeriksa teknis dari Su-35 dan pesawat tempur siluman, tapi jawaban pastinya hanya dapat diselesaikan dengan pertempuran yang sesungguhnya. Selanjutnya, faktor-faktor lain seperti aset pendukung, profil misi, pelatihan pilot dan jumlah juga memainkan peran besar dalam menentukan hasil dari pertarungan udara.

Sukhoi Su-35 mungkin adalah dogfighter terbaik yang pernah dibuat dan platform pengiriman rudal yang mumpuni — tetapi apakah itu cukup mengingat sekarang adalah era teknologi siluman? (ni/fr)

Jumat, September 28, 2018

Debut Pertempuran Jet Tempur Siluman F-35B

Debut pertempuran F-35
Pesawat tempur marinir Amerika Serikat, F35B Lightning II, lepas landas dari kapal serbu amfibi USS Essex untuk menyerang Taliban di Afganistan pada 27 September 2018. Penyerangan ini merupakan debut F-35B dalam pertempuran. (Mass Communication Specialist 3rd Class Matthew Freeman/U.S. Navy)

Jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat (AS) melakukan serangan udara untuk pertama kalinya. Korbannya adalah kelompok Taliban di Afghanistan.

Jet-jet tempur F-35B Lightning II Korps Marinir lepas landas dari kapal amfibi USS Essex dan meluncurkan serangan udara pada hari Kamis (27/9/2018). Target serangannya adalah basis Taliban di Provinsi Kandahar, Afghanistan.
Debut pertempuran F-35
Pesawat tempur generasi kelima, F35B Lightning II, bersiap lepas landas dari kapal serbu amfibi USS Essex pada 27 September 2018. Militer Amerika Serikat melaporkan penyerangan dengan pesawat siluman itu berhasil. (Mass Communication Specialist 3rd Class Matthew Freeman/U.S. Navy)

Debut pertempuran F-35
Pesawat tempur siluman F35B Lightning II dari skuadron 211 Marine Fighter Attack bersiap lepas landas dari USS Essex untuk menyerang Taliban di Afganistan pada 27 September 2018. Sebagai bagian dari Grup USS Essex, F35B mendukung operasi di darat dari perairan internasional. (Mass Communication Specialist 3rd Class Matthew Freeman/U.S. Navy)

Debut pertempuran F-35
Pesawat tempur siluman F35B Lightning II dari skuadron 211 Marine Fighter Attack bersipa lepas landas dari USS Essex untuk menyerang Taliban di Afganistan pada 27 September 2018. Pesawat tempur siluman ini untuk pertama kalinya dilibatkan dalam sebuah pertempuran. (Mass Communication Specialist 3rd Class Matthew Freeman/U.S. Navy)

Debut pertempuran F-35
Pesawat tempur siluman F35B Lightning II dari skuadron 211 Marine Fighter Attack bersipa lepas landas dari USS Essex untuk menyerang Taliban di Afganistan pada 27 September 2018. Pesawat tempur siluman ini untuk pertama kalinya dilibatkan dalam sebuah pertempuran. (Mass Communication Specialist 3rd Class Matthew Freeman/U.S. Navy)

Resources
  • Tempo / Sindonews

Sabtu, Mei 26, 2018

Super Hornet Block III, Senjata Lebih Banyak dan Jangkauan Lebih Jauh

Super Hornet Block III

Sedikit lebih siluman, daya gempur lebih besar, terbang lebih cepat, dan mengusung sistem komunikasi dan targeting yang lebih baik. Begitulah ucapan para pejabat Boeing soal jet tempur F/A-18E/F Super Hornets Block III yang akan mereka produksi tahun depan. Hal ini diungkapkan saat jumpa pers Boeing di kantornya di Washington, D.C. untuk memberikan informasi tentang status program Super Hornet Block III (23/05/2018).

Pada 2013 lalu, Boeing berencana mengembangkan Super Hornet yang 50 persen lebih siluman daripada Super Hornet low-radar signature design yang ada saat ini. Tapi US Navy sebagai pengguna utama Super Hornet menolak rencana tersebut, menjelaskan bahwa mereka tidak butuh Super Hornet yang lebih siluman karena pekerjaan itu akan dilakukan oleh F-35 Lighting II JSF. US Navy menginginkan Super Hornet yang mampu membawa lebih banyak senjata, usia pakai lebih lama, dan terintegrasi dengan baik ke dalam sistem Naval Integrated Fire Control-Counter Air (NIFC-CA).

Solusinya, menurut Boeing, adalah bahwa Super Hornets Block III hanya sedikit lebih siluman daripada Super Hornet Block II tetapi akan memiliki jangkauan yang lebih jauh dan kemampuan membawa senjata lebih banyak, dan airframe yang lebih kuat untuk bertahan hingga 9.000 jam terbang - sekitar satu dekade lebih lama dari airframe Super Hornet saat ini.

Block III ini juga akan dibekali kemampuan pemrosesan data dan komunikasi yang jauh lebih unggul daripada Block II.

Boeing sudah bekerja untuk mengupgrade Super Hornet Block II yang pertama, dan US Navy telah mengajukan permintaan dana untuk pembangunan Block III yang akan dimulai tahun depan. Pihak Boeing menyebutkan bahwa Block III yang pertama akan diterima US Navy pada awal tahun 2021, tapi pada tahun depan, 2 Super Hornet Block III hasil upgrade sudah akan diterima untuk uji coba. 

Menurut perhitungan Boeing, dalam enam tahun dari sekarang, setengah armada Super Hornet AS akan berupa Block III. Dalam satu dekade, seluruh armada Super Hornet yang ditugaskan pada kapal induk - sekitar 480 pesawat - akan menjadi Super Hornet Block III. Ini terdiri atas 116 Super Hornet baru dan sekitar 364 Super Hornet Block II yang di-upgrade airframe.

US Navy sendiri tetap akan mempertahankan sekitar 100 Super Hornet Block I untuk tujuan pelatihan.

Super Hornet Block III

Boeing memfokuskan pembangunan Block III pada melengkapi Super Hornet dengan Advanced Network Infrastructure, menggunakan sistem yang sudah menjadi bagian dari pesawat peperangan elektronik Boeing EA-18G Growler. Super Hornets Block III akan memiliki Distributed Targeting Processor Network (DTP-N), yang 17 kali lebih kuat daripada sistem sebelumnya. Super Hornets Block III juga mendapatkan link data Tactical Targeting Networking Technology (TTNT) dan komunikasi satelit untuk konektivitas jaringan canggih.

Namun, tidak ada rencana Boeing untuk mengupgrade mesin Super Hornet. Padahal General Electric sebagai pengembang mesin Super Hornet, sudah sejak lama mengusulkan penggantian mesin F414 Super Hornet dengan F414-EPE yang dilaporkan memberikan dorongan 20 persen lebih besar.

US Navy akan mengoperasikan jet-jet ini bersama dengan F-35C. Namun, peningkatan jaringan di Block III Super Hornet masih belum mengatasi masalah yang menjengkelkan bagi armada udara US Navy di masa depan - mencari cara bagi jet F-35 untuk berkomunikasi dengan jet jenis lain (termasuk Super Hornet) tanpa kehilangan fitur siluman mereka. Pejabat Boeing mengakui bahwa mereka masih mengerjakan solusinya tetapi tidak akan menguraikannya.

Mungkin perubahan yang paling mencolok adalah lokasi tangki bahan bakar di Super Hornets Block III. Alih-alih membawa drop-tank eksternal seperti versi sebelumnya, Super Hornets Block III akan memiliki tangki bahan bakar konformal yang dipasang di belakang kokpit di pundak jet. Memang tangki konformal tidak mampu menampung bahan bakar sebanyak drop tank eksternal, tetapi karena nantinya Block III akan lebih ringan dan lebih aerodinamis, hasil akhirnya adalah peningkatan jangkauan sekitar 200 kilometer.

Lebih penting lagi bagi pilot, tangki bahan bakar baru akan membebaskan ruang under wing Super Hornet sehingga dapat membawa lebih banyak senjata.

Resources
  • https://news.usni.org/2018/05/23/33808
  • http://www.thedrive.com/the-war-zone/21045/here-is-boeings-master-plan-for-the-f-a-18e-f-super-hornets-future

Rabu, Mei 02, 2018

Su-27 Rusia: Flanker Ancaman NATO

Su-27

Versi orisinil dari Flanker telah menikmati kesuksesan ekspor yang luar biasa, dan masih terbang di sebelas angkatan udara di seluruh dunia. Sebagian besar Flanker diterbangkan oleh Rusia (359 unit) dan China (59 unit). Dalam beberapa konflik, seperti Rusia-Ukraina, Ethiopia-Eritrea, Vietnam-China, kedua pihak sama-sama menerbangkan Su-27 Flanker. Secara keseluruhan, 809 Flanker telah dioperasikan, plus pesanan skala besar untuk beberapa variannya.

Sebagian besar pesawat legendaris Soviet era Perang Dingin terlahir dari biro desain Mikoyan Gurevitch, sebut saja MiG-15 "Fagot," MiG-21 "Fishbed," MiG-25 "Foxbat" dan MiG -29 "Fulcrum." Tapi jika ditanya pesawat tempur terbaik Soviet era Perang Dingin, maka jawabannya adalah Sukhoi Su-27 "Flanker."

Flanker dikembangkan untuk mengalahkan pesawat-pesawat tempur AS di Eropa tengah dalam konflik NATO-Pakta Warsawa dan untuk berpatroli di wilayah udara Uni Soviet menghadapi serbuan pesawat pembom AS. Tidak hanya sekedar 'selamat' dari berakhirnya Perang Dingin, Su-27 juga menjadi salah satu pesawat tempur ekspor terbaik di dunia.

Pengembangan

Flanker muncul sebagai bagian dari konsep high part of the high-low fighter mix yang diadopsi oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1970-an dan 1980-an. Di Angkatan Udara AS konsep pengembangan semacam ini terwujud dalam F-15 dan F-16; di Angkatan Laut AS, F-14 dan F/A-18.

Biro Desain Sukhoi mendesain Flanker dengan menanamkan kemampuan F-15 Eagle, dan pesawat yang muncul memang menyerupai Eagle, yang cepat, bersenjata berat, dan jangkauan jauh. Sementara 'tubuh' Eagle terlihat 'atletis', Flanker berpenampilan ramping.

Meskipun dirancang sebagai pesawat superioritas udara, Su-27 (sangat mirip dengan Eagle) telah terbukti cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan peran interceptor dan ground strike.

Sukhoi juga telah mengembangkan berbagai varian Flanker, yakni Flanker khusus untuk misi tertentu tetapi tetapi secara keseluruhan tetap mempertahankan kemampuan multiperannya.

Su-27 memasuki layanan lebih lambat daripada rekan generasi keempatnya di Amerika Serikat (atau dalam hal ini MiG-29). Serangkaian kecelakaan dalam uji coba di tahun-tahun pertamanya sempat mengacaukan program, dengan beberapa pilot yang tewas.

Ketika resmi dioperasikan pada pertengahan 1980-an, masalah produksi kemudian menghambat transisi pesawat ini untuk menjadi pesawat garis depan. Karena ketika Perang Dingin berakhir, berlaku pembatasan produksi pesawat tempur.

Su-27 sangatlah tangguh. Sang Flanker mampu mencapai kecepatan Mach 2,35 dengan thrust-to-weight ratio di atas satu (tergantung pada fuel load). Flanker mampu membawa hingga delapan rudal udara-ke-udara (rudal jarak pendek hingga menengah; varian lain Flanker khusus untuk pertempuran Beyond Visual Range) atau serangkaian bom dan rudal.

Di tangan seorang pilot yang berpengalaman, Su-27 dapat melakukan manuver edan dan membingungkan. Pertunjukan udara oleh Flanker selalu ditunggu-tunggu seluruh orang di dunia.

Su-27 memiliki basic frame yang terbukti sangat fleksibel. Angkatan Udara Rusia telah memodifikasi sebagian besar armada Flanker yang ada dengan berbagai avionik canggih, meningkatkan kapasitas udara-ke-udara dan juga memberikan kemampuan serangan darat yang efektif.

Beberapa varian Flanker, terutama yang diekspor, memiliki nama-nama tersendiri.

Su-27 Flanker

Ekspor

Versi asli Flanker telah menikmati kesuksesan ekspor luar biasa, dan masih terbang di sebelas angkatan udara di seluruh dunia. Sebagian besar pesawat diterbangkan oleh Rusia (359 unit) dan China (59 unit). Dalam beberapa konflik, seperti Rusia-Ukraina, Ethiopia-Eritrea, Vietnam-China, kedua pihak menerbangkan Su-27 Flanker. Secara keseluruhan, 809 Flanker telah memasuki layanan, plus pesanan skala besar untuk beberapa variannya.

Penjualan Su-27 ke China menyebabkan banyak gesekan tak terduga antara Moskow dan Beijing. China membeli beberapa Flanker, setuju untuk memproduksi bersama pada pembelian berikutnya, dan memperoleh lisensi untuk memproduksi sendiri Flanker.

Rusia menuduh China melanggar ketentuan perjanjian dengan memasang avioniknya pada J-11 (sebutan China untuk Flanker yang mereka produksi), merampas kekayaan intelektual Rusia dan mengembangkan Flanker varian kapal induk (disebut J-16).

Perselisihan itu lantas menurunkan antusiasme Rusia untuk mengekspor senjata ke China, situasi yang sama terjadi hingga saat ini.

Pertempuran

Untuk sebuah pesawat yang luar biasa, Su-27 relatif jarang bertempur. Su-27 telah terbang untuk misi tempur di beberapa teater di seluruh dunia. Flankers terbang di beberapa perang yang menandai disintegrasi Uni Soviet, dan telah menjadi inti kekuatan udara Rusia dalam Perang Rekonsolidasi Rusia. Dan Su-27 juga telah terbang di konflik Ukraina.

Su-27 Angkatan Udara Rusia saat ini juga terbang di Suriah. Su-27 juga telah diterbangkan dalam Perang Sipil Angola dan Perang Ethiopia-Eritrea, mencetak kemenangan tempur udara-ke-udara atas MiG-29 Eritrea.

Su-27 adalah pesawat generasi keempat terakhir yang memasuki layanan, dengan desain yang sangat sukses. Flanker masih cukup besar dan cukup kuat untuk dimodifikasi dan diupgrade, dan Flanker harus tetap dioperasikan angkatan-angkatan udara di dunia. (Robert Farley / NI)

Article Resources
  • http://nationalinterest.org/blog/the-buzz/russias-deadly-su-27-the-plane-terrifies-nato-buzzes-its-25642?page=show

Rabu, April 18, 2018

Indonesia Keluar dari Program KF-X/IF-X ?

Desain KFX/IFX

Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk keluar dari program dengan Korea Selatan untuk mengembangkan jet tempur next generation Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X), laman Jane mengungkapkan.

Berbicara pada pameran Defence Services Asia (DSA) 2018 di Kuala Lumpur, pejabat Indonesia mengatakan bahwa untuk saat ini keterlibatan Indonesia pada proyek KF-X/IF-X masih berlanjut. Namun, ada beberapa masalah utama yang menyebabkan Indonesia harus mempertimbangkan kembali keikutsertaannya dalam program ini.

Masalah-masalah ini diantaranya masalah keuangan, sejauh mana "manfaat teknis strategis" yang bakal diperoleh Indonesia, dan juga faktor geopolitik. Pejabat anonim tersebut juga mengindikasikan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam program ini di masa mendatang akan ditentukan oleh pemimpin-pemimpin tinggi Indonesia, termasuk oleh Presiden Joko Widodo.

Salah satu narasumber industri Indonesia mengatakan, “Sebenarnya, uang bukanlah masalah utama meskipun diakui ada beberapa masalah terkait dengan hal ini. Faktor-faktor utama dalam pertimbangan ini adalah manfaat teknis yang dapat diperoleh Indonesia melalui program KF-X/IF-X dan beberapa faktor geopolitik yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia. ”

Terkait dengan faktor geopolitik, narasumber tersebut menyebutkan nama tiga negara, yaitu: Rusia, AS, dan Korea Selatan. Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut korelasinya dengan faktor geopolitik terkait program KF-X/IF-X.

Meskipun tidak dijelaskan, IHS Jane memahami bahwa keterlibatan Indoensia dalam program ini telah menjadi membuat prihatin AS, pemasok utama teknologi KF-X/IF-X, yang mewaspadai hubungan militer-teknis Indonesia dengan Rusia yang sudah berlangsung lama.

Pada Januari 2018, pejabat Kementerian Pertahanan Indonesia menyatakan dalam sebuah komentar kepada media lokal bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar Rp 1,85 triliun (USD140 juta) yang harus dibayar ke Korea Selatan sebagai imbalan keterlibatan dalam program KF-X / IF-X sesuai perjanjian finansial yang ditandatangani pada tahun 2015. IHS Jane menyebutkan bahwa pembayaran Indonesia ke Korsel untuk program ini masih kurang sekitar 40% dari komitmen keuangan yang disepakati sebelumnya.

Sekilas program KF-X /IF-X

Korea Aerospace Industries KF-X / Indonesian Aerospace IF-X adalah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan jet tempur multiperan next generation untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU), dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Ini adalah program pengembangan jet tempur kedua Korea Selatan setelah FA-50.

Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada bulan Maret 2001. Korea Selatan dan Indonesia sepakat untuk bekerjasama dalam memproduksi jet tempur KF-X/IF-X di Seoul pada bulan 15 Juli 2010.

Persyaratan operasional awal untuk program KF-X / IF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Agency for Defense Development) adalah mengembangkan jet berpilot tunggal, bermesin ganda dengan teknologi siluman melebihi kemampuan Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, namun tidak lebih baik dari Lockheed Martin F-35 Lightning II.

Fokus keseluruhan dari program ini adalah memproduksi jet tempur generasi ke 4,5 dengan kemampuan lebih tinggi daripada jet tempur kelas KF-16 pada tahun 2020. Jumlah jet tempur yang diproduksi rencananya 120 unit untuk Angkatan Udara ROK dan 80 unit untuk Angkatan Udara Indonesia. Korea Selatan berencana untuk membeli dari tahun 2023 sampai 2030.

Article Resources
  • http://www.janes.com/article/79330/dsa-2018-indonesia-considers-pulling-out-of-kfx-ifx-project
  • Wikipedia
  • Gambar: Asian Military Review

Senin, Oktober 05, 2015

Infographic Menarik, Su-34 Fullback Rusia

Su-34 Fullback

Sukhoi Su-34 Fullback menjadi pesawat tempur tercanggih milik Angkatan Udara Rusia yang telah dikerahkan di Suriah.

Su-34 yang dikembangkan oleh Biro Desain Sukhoi di pertengahan 1980-an adalah pesawat tempur pembom yang utamanya didesain untuk menghancurkan berbagai target darat dan laut. Mampu beroperasi secara tunggal maupun dalam kelompok di siang dan malam hari pada saat cuaca/lingkungan yang tidak bersahabat.

Masuk menjadi bagian aktif Angkatan Udara Federasi Rusia pada tahun 2014 lalu, Sukhoi Su-34 Fullback memiliki dua kursi dengan jangkauan maksimum 4.000 km, payload (muatan) hingga 12.000 kg yang terletak pada 12 hardpoint (cantelan), serta kemampuan untuk membawa rudal R-77 (AA-12 Adder) dan R-73 (AA-11 Archer), kanon GSH-30-1 30 mm dan perlengkapan sistem penanggulangan elektronik (ECM) Khibiny.

Enam unit Su-34 Fullback telah dikerahkan Rusia ke Latakiyah, Suriah pada 28 September 2015 untuk bergabung dengan kontingen Angkatan Udara Rusia lainnya yang telah tiba duluan. Pesawat-pesawat ini juga telah ambil bagian pada serangan udara pada target ISIS.

Tercatat hingga Agustus 2015 telah 76 unit Su-34 yang diproduksi oleh Rusia dan saat ini hanya Angkatan Udara Rusia yang menggunakannya.

Infographic di bawah ini dipublikasikan oleh laman Sputnik, yang memberikan gambaran menarik dan rinci dari Su-34 Fullback.


Kredit gambar: Sputnik

Selasa, Februari 03, 2015

Tejas, Pesawat Tempur Supersonik India

Tejas

Tejas, pesawat tempur ringan, satu kursi, bermesin tunggal dan bersayap delta, serta dibekali kecepatan supersonik ini telah menjalani ribuan uji coba penerbangan dalam persiapannya untuk dioperasikan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut India.

Hingga bulan Januari 2015, Tejas telah melakukan uji penerbangan lebih dari 2.800 kali dengan kecepatan hingga Mach 1,4 (1.715 km per jam). Tejas didesain dan dikembangkan oleh Aeronautical Development Agency (ADA) Departemen Pertahanan India, bekerjasama dengan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) India.

Prototipe pertama Tejas terbang pertama kali pada tahun 2003, dilanjutkan prototipe kedua dan ketiga masing-masing pada tahun 2005 dan 2006. Di tahun 2006, pemerintah India menyetujui untuk memproduksi (produksi skala terbatas) 20 Tejas untuk Angkatan Udara India.

Pada tahun 2007, pesawat produksi Tejas yang pertama berhasil terbang ke langit, dan dilanjutkan oleh Tejas-Tejas produksi berikutnya dalam tahun-tahun selanjutnya. Kemudian pada tahun 2009, India meluncurkan Tejas varian pelatihan.

Tejas

Tejas berhasil menembakkan rudal udara-ke-udara infrared seeking saat uji penerbangan yang dilakukan pada bulan Desember 2013.

Antara tahun 2015 dan 2016, HAL berencana untuk memproduksi enam pesawat tempur Tejas dan kemudian meningkatkan produksi delapan hingga 16 pesawat per tahun. Tejas juga memiliki varian untuk angkatan laut yang terbang pertama kali pada tahun 2012. Total, saat ini Tejas telah berjumlah 16 unit termasuk prototipe.

Desain

Tejas yang ringan, multiperan, dan bermesin tunggal ini merupakan pesawat tempur taktis terkecil di dunia. Angkatan Udara India menginginkan 140 Tejas untuk melengkapi tujuh skuadronnya.

Tejas varian angkatan laut (untuk dioperasikan di kapal induk) telah dilakukan modifikasi pada nose, memperkuat landing gear dan menambah arrested hook untuk memudahkan pendaratan di kapal induk. Rencananya, Tejas varian angkatan laut ini akan menggantikan armada pesawat Sea Harrier Angkatan Laut India.

Tejas varian angkatan laut

Angkatan Udara India memulai uji coba penerbangan tahap kedua Tejas dalam cuaca panas pada tahun 2010. Sistem kontrol penerbangan digital, sistem avionik, radar multimode, RWR (radar warning receiver) dan sistem kontrol environment dan kelistrikan diperiksa pada dua pesawat Tejas yang terbang secara sortie. Uji coba dilakukan pada suhu hingga 45°C.

Kokpit

Tejas dilengkapi dengan kaca kokpit night vision dengan kursi ejeksi Martin Baker (Inggris). Di dalam kokpit terdapat dua display multifungsi yang dikembangkan oleh Bharat Electronics India, head-up display dikembangkan oleh Central Scientific Instruments Organisation (CSIO) milik pemerintah India. Pilot juga akan menggunakan helm HMDS dengan display dan sight. Hands on throttle dan stick control system meminimalkan pekerjaan pilot dan memaksimalkan kesadaran situasional.

Pesawat ini dibekali dengan sistem kontrol penerbangan otomatis digital quadruplex fly-by-wire. Perangkat navigasi terdiri dari sistem navigasi inersia Sagem SIGMA 95N yang terintegrasi dengan global positioning system (GPS).

Peralatan komunikasi terdiri dari radio komunikasi VHF-UHF dengan sistem countermeasure, pertukaran data udara-ke-udara dan udara ke-darat dan informasi musuh, teman atau interogator. Kokpit dilengkapi dengan sistem kontrol environment yang dikembangkan oleh Spectrum Infotech of Bangalore India. Sistem-sistem yang terintegrasi dengan peralatan avionik Tejas antara lain, utility health-monitoring system, ground proximity warning system, terrain referenced navigation system, instrument landing system, global positioning system, stores management system dan tiga 1553B 32-bit mission computer.

Senjata

Tejas memiliki delapan cantelan (hardpoint) eksternal untuk membawa senjata dan perlengkapan lainnya, tiga masing-masing di bawah setiap sayap, satu di tengah badan pesawat dan satu dipasang di sisi kiri air intake. Senjata dua laras Gsh-23 23 mm dengan firing rate 50 putaran per detik terpasang di fairing blister di kanan bawah air intake.

Tejas dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara, udara-ke-darat, rudal anti-kapal, precision-guided munitions, roket dan bom. Juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik, dan sistem penargetan, pengawasan dan pengintaian. Drop tank yang berkapasitas 4.000l juga dapat dibawa pada cantelan.

Tejas bermanuver

Pada tahun 2007, Tejas berhasil menembakkan rudal udara-ke-udara R-73. Vympel R-73 (AA-11 Archer) adalah rudal jarak pendek buatan Rusia. Rudal ini dapat mencegat target pada ketinggian antara 0,02 km hingga 20 km, g-load hingga 12g dan dengan kecepatan hingga 2.500 km per jam.

Sistem peperangan elektronik Tejas, yang dikembangkan oleh Advanced Systems Integration and Evaluation Organisation (ASIEO) India, terdiri dari jammer dan radar warning receiver, laser warner, missile approach warner, chaff dan flare dispenser.

Performa

Prototipe Tejas menggunakan mesin turbofan General Electric F404-GE-F2J3 (buatan AS) dengan afterburner. Tejas lini produksi menggunakan satu mesin turbofan General Electric 85kN F404-GE-IN20 dengan full authority digital engine control, yang dipesan HAL pada tahun 2007 dengan total 24 mesin.

Mesin turbofan baru Tejas, GTX-35VS Kaveri, saat ini masih dikembangkan oleh Gas Turbine Research Establishment (GTRE) India yang rencananya akan dipasang pada pesawat lini produksi, namun karena kerterlambatan pengembangan maka untuk sementara waktu Tejas menggunakan mesin dari General Electric.

Tejas yang berdimensi panjang 13,2 m, rentang sayap 8,2 m dan tinggi 4,4 meter ini mampu terbang dengan kecepatan maksimum 2.205 km per jam dan di ketinggian 15.200 m (ketinggian maksimum 16.500 km). Jangkauan Tejas sekitar 3.000 km, berbobot sekitar 6.500 kg dan berat maksimum saat lepas landas adalah 13.500 kg. Harga satu unit Tejas diperkirakan sekitar USD 31 juta.

                        
Referensi: HAL, Air Force Technology, Wikipedia.
Gambar: Wiki common

Senin, Desember 29, 2014

Pembunuh di Udara, Pesawat Tempur Su-35 Rusia

Su-35
Su-35. (Kredit: Sukhoi)

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah pesawat tempur terkuat yang dioperasikan Angkatan Udara Rusia saat ini. Pesawat bermesin ganda yang kuat dan merupakan turunan langsung dari Sukhoi Su-27 era Soviet ini mampu terbang cepat di ketinggian tinggi, dan membawa banyak rudal.

Dilengkapi sistem avionik canggih, membuat Su-35 sebagai pesawat yang paling berbahaya bagi pesawat tempur lain. Mungkin inilah salah satu alasan Angkatan Udara China ingin memilikinya.

"Ini adalah pesawat yang tangguh dan sangat berbahaya, apalagi jika diproduksi dalam jumlah yang banyak," ujar seorang pejabat tinggi Angkatan Udara AS yang memiliki banyak pengalaman dengan pesawat tempur generasi kelima. Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa di atas kertas F-15C dan Super Hornet akan tereliminasi oleh Su-35.

Berbeda dari pernyataan seorang pilot Super Hornet Angkatan Laut AS yang lulusan sekolah TOPGUN: "Ketika digunakan sebagai platform (pesawat) tunggal, Su-35 unggul dari seluruh platform (pesawat) kami, dengan mungkin pengecualian atas F-22 dan F-15C." Pilot ini tidak menyebutkan F-35 mungkin karena F-35 saat ini yang belum benar-benar operasional.

Tapi seorang pejabat Angkatan Udara AS yang memiliki banyak pengalaman dengan F-35 JSF mengatakan bahwa Su-35 dapat menimbulkan ancaman serius bahkan bagi pesawat-pesawat tempur siluman AS. F-35 utamanya didesain sebagai pesawat serang dan tidak memiliki kecepatan tinggi atau terbang di ketinggian tinggi seperti halnya Su-35. "Kemampuan Su-35 untuk terbang tinggi dan cepat merupakan masalah besar, termasuk bagi F-35," kata pejabat tersebut.
Keunggulan dari pesawat tempur yang terbang tinggi dan cepat adalah energi peluncuran rudal udara ke udara jarak jauhnya menjadi lebih maksimal.
Su-35 akan meluncurkan rudal dari kecepatan supersonik sekitar Mach 1,5 pada ketinggian lebih dari 45.000 kaki, sedangkan F-35 utamanya akan terbang di kisaran ketinggian 30.000 kaki dengan kecepatan sekitar Mach 0,9.

Su-35 dikembangkan dengan menggunakan desain airframe kuat, yang dalam banyak hal kemampuan aerodinamisnya sudah melampaui F-15 Eagle. Su-35 menggunakan airframe yang ringan dan lengkap dengan thrust vectoring tiga dimensi, avionik canggih dan kemampuan jamming yang kuat.

Dengan mesin yang kuat, mampu terbang supercruise dalam waktu yang lama, avionik canggih, radar passive electronically-scanned array Irbis E, boresight yang luas dan peralatan jamming yang baik, menjadikan Su-35 sebagai pesawat tempur yang sulit dikalahkan di atas kertas.

Su-35 dikategorikan sebagai pesawat tempur generasi 4++ karena kemampuannya yang lebih, dan sebagian teknologinya menggunakan teknologi pesawat tempur generasi kelima.

Penambahan kemampuan serangan elektronik (EA) pada pesawat ini dianggap menjadi masalah bagi pesawat-pesawat tempur Barat karena jammer memori frekuensi radio digital pada Su-35 akan menyebabkan penurunan kemampuan radar pesawat musuh secara signifikan. Juga efektif 'membutakan' radar onboard, seperti yang ditemukan pada rudal udara ke udara AS seperti AIM-120 AMRAAM.

Lebih jauh, seorang pejabat Angkatan Udara AS lainnya mengatakan bahwa meskipun pesawat-pesawat generasi ke-4 saat ini diupgrade maka tetap akan mengalami masalah serius ketika berhadapan dengan varian Flanker baru ini. Pejabat tersebut mengatakan bahwa radar AESA pada pesawat-pesawat generasi ke-4 AS bukan merupakan keunggulan yang besar ketika berhadapan dengan Su-35.

"Kami Departemen Pertahanan AS masih berusaha menemukan metode yang tepat untuk mengatasi EA," kata seorang pejabat Angkatan Udara AS yang berpengalaman dengan F-22 Raptor. "Jadi meskipun (pesawat) kami siluman, kami akan membutuhkan kerja keras dan waktu yang lebih untuk mengatasi EA dalam rangka menargetkan Su-35 dan rudal juga akan menemui kesulitan untuk menghancurkannya."
Su-35 juga dilengkapi dengan sistem pencarian dan pelacakan inframerah, serta sensor non EM (elektromagnetik) untuk membantu mendeteksi pesawat lain, yang sangat berguna untuk pendeteksian jarak jauh.
Keunggulan besar Su-35 lainnya adalah bahwa pesawat ini mampu membawa rudal udara ke udara dalam jumlah yang banyak. Seorang pilot Super Hornet mengatakan: "Satu hal yang saya sangat suka dari Su-35 adalah ia ibarat truk high-end; yang dapat membawa satu ton rudal udara ke udara dalam pertempuran.".

Di atas kertas, Su-35 terbilang unggul, namun seorang pilot Angkatan Udara AS yang berpengalaman dengan F-22 Raptor mengatakan: "Apakah mereka bisa mengaplikasikannya dengan taktik tempur yang baik?" Seperti diketahui, Angkatan Udara AS menerjunkan banyak platform untuk mendukung kemenangan pertempuran, seperti pesawat AWACS, tanker dan peperangan elektronik.

Sebagian pilot tempur berpengalaman Angkatan Udara AS  mengatakan bahwa masih banyak hal tentang Su-35 dan kemampuan militer Rusia yang belum diketahui. "Anda tidak akan benar-benar tahu kemampuan sebuah senjata atau keterampilan pilot pihak lain atau bagaimana strategi pertempuran mereka," kata seorang mantan pilot Angkatan Udara AS yang memiliki banyak pengalaman dengan persenjataan Uni Soviet dan Rusia.

Seorang pilot Super Hornet mengatakan bahwa: "Jika saat ini Su-35 berhadapan dengan Super Hornet, maka saya akan memenangkan pilot Barat, meskipun musuh bekerja keras untuk menutupi kesenjangan." Hal senada juga diungkapkan pilot AS lainnya yang mengatakan: "Pelatihan dan keterampilan kami membuat kami lebih siap."

"Pesawat ini bukan (F-22) Raptor dan akan dilumpuhkan oleh dua elemen kunci (pesawat) generasi kelima, yaitu siluman dan fusi sensor spektrum luas," kata pejabat militer AS lainnya. Tapi secara keseluruhan, kita setuju mengatakan bahwa Su-35 adalah pesawat tempur terbaik yang dimiliki Angkatan Udara Rusia saat ini, dan merupakan ancaman serius bagi pesawat-pesawat tempur Barat.*