Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 02, 2021

Menengok Anggaran Alutsista Kemenhan di Bawah Pimpinan Prabowo

Prabowo dan F-16

Musibah tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang menyebabkan 53 awak kapal selam tersebut gugur menjadi pukulan bagi Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Hal tersebut sekaligus menjadi evaluasi bagi pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di dalam negeri.

Anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha menuturkan, saat ini hampir seluruh alutsista yang dimiliki Indonesia merupakan pembelian atau hibah negara asing di masa lalu.

Dengan demikian, anggaran TNI lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan alutsista alih-alih pembelian baru, khususnya alutsista Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Syaifullah Tamliha berpendapat, pemerintah sebaiknya membeli alutsista yang baru sehingga beban anggaran tiap tahunnya tidak terkuras untuk pemeliharaan alutsista yang telah usang.

"Agar musibah yang menewaskan putra-putri terbaik bangsa tersebut jangan terus berulang, maka ada baiknya alutsista yang tidak jelas pemeliharaan tersebut diparkir saja menjadi museum," ujar Syaifullah dilansir Kompas.com, Senin (26/4/2021).

Lalu, sebenarnya seberapa besar anggaran Kementerian Pertahanan? Kemudian berapa porsi anggaran untuk pengadaan alutsista oleh kementerian yang dipimpin Prabowo Subianto itu?

Anggaran 2021
Berdasarkan Buku III Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA/KL) Tahun Anggaran 2021, pagu anggaran Kemenhan tahun 2021 ini mencapai Rp 136,995 triliun. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2020 lalu yang mencapai Rp 117,909 triliun.

Anggaran Kemenhan pun tercatat terus meningkat sepanjang tahun sejak tahhun 2016 hingga tahun 2019. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, untuk anggaran tahun 2020 yang sebesar Rp 117,909 triliun, jumlah tersebut lebih rendah Rp 383,75 miliar dari pagu anggaran awal karena terjadi realokasi untuk penanganan pandemi Covid-19.

Dari total jumlah anggaran tersebut, Kemenhan mengalokasikan sebagian untuk alutsista.

Berdasarkan rincian anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga Per program pada tahun 2020, Kemenhan mengalokasikan anggaran untuk program modernisasi alutsista/non-alutsista/sarana dan prasarana integratif Rp 1,01 triliun, program modernisasi alutsista dan non alutsista/sarana dan prasarana matra darat Rp 5,06 triliun, matra laut Rp 2,77 triliun, dan matra udara Rp 2,19 triliun.

Sementara tahun 2021 ini, dengan total anggaran sebesar Rp 136,995 triliun jumlah anggaran yang dialokasikan untuk alutsista mengalami peningkatan.

Bila tahun lalu anggaran terkait alutsista hanya untuk modernisasi, tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran untuk dukungan pengadaan alutsista sebesar Rp 9,305 triliun.

Rincian Per Matra
Sementara itu untuk anggaran modernisasi dan harwat alutsista rinciannya sebagai berikut:
  1. TNI AD sebesar Rp 2,651 triliun untuk pengadaan material dan alutsista strategis, dan untuk perawatan alutsista Arhanud, overhaul pesawat terbang, dan heli angkut sebesar RP 1,236 triliun.
  2. TNI AL sebesar Rp 3,751 triliun antara lain pengadaan kapal patroli cepat, dan peningkatan pesawat udara matra laut serta Rp 4,281 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan alutsista dan komponen pendukung alutsista.
  3. TNI AU sebesar Rp 1,193 triliun antara lain untuk pengadaan Penangkal Serangan Udara (PSU) dan material pendukung, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur senilai Rp 7,004 triliun.
Resources
  • Kompas

Sabtu, Mei 01, 2021

Pindad Cobra: Panser Sesuai Kebutuhan Infanteri TNI AD

Cobra Pindad

Pindad Cobra. Kendaraan tempur jenis panser ini, adalah hasil kerjasama antara PT. Pindad dengan perusahaan asal Czech, Excalibur Army Group dari CzechoSlovak Group. Kendaraan tempur ini sudah datang dari Czech (Ceko) sejak 4 Februari 2020. Dalam hal ini PT. Pindad dan Kementerian Pertahanan sepakat membuat pengadaan kendaraan tempur senilai 80 juta dolar AS untuk memasok 22 unit kendaraan tempur.

Pesanan ini diperuntukkan untuk Batalyon Infantri Mekanis (Yonifmek). Yonifmek sendiri adalah pasukan Infanteri yang termekanisasi yang dibekali dengan pengangkut personel lapis baja (APC) atau kendaraan tempur infanteri (IFV) sebagai kendaraan pengangkut personel untuk tempur. Beberapa satuan di luar Jawa juga mulai dilengkapi dengan ranpur Anoa untuk menunjang tugas pokoknya, seperti Yonif Mekanis 113/Jaya Sakti di Kodam Iskandar Muda, Yonif Raider Khusus 134/Tombak Sakti di Kodam I/Bukit Barisan dan Yonif Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti di Kodam IX/Udayana.

Bila menilik lebih lanjut, kerjasama dengan Czech ini sebenarnya menguntungkan Indonesia. Hal ini karena Excalibur Army Group, memberikan kemudahan produksi panser buatannya dengan memberikan Transfer of Technology (ToT) kepada PT. Pindad, sehingga PT. Pindad dapat meracik spek khusus yang disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan Yonifmek TNI AD sebagai pengguna. Jadi PT. Pindad bisa melakukan eksplorasi lebih dalam untuk pengembangan dari panser buatan Czech ini.

Cobra Pindad

Bicara soal spesifikasi, panser Cobra ini memiliki beberapa spesifikasi yang mumpuni. Berikut ini akan kita bahas satu per satu:

Kubah tempur tanpa awak U30 MK II buatan Elbit System
Elbit System sendiri adalah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam pembuatan kendaraan dan alat tempur asal Israel.

Menggunakan Kanon Kaliber 30 mm Bushmater MK 44
Kanon kaliber ini dibuat oleh Northrop Grumman, perusahaan asal Amerika yang memiliki beberapa divisi perusahaan, dari mulai penerbangan sampai dengan penyediaan alat tempur.

Senjata Sekunder buatan PT. Pindad
Untuk senjata sekundernya, dilengkapi dengan SMS 7,62 mm buatan dari PT. Pindad sendiri.

Kapasitas yang luas
Bicara soal kapasitas, kendaraan tempur Cobra ini dapat diawaki tiga orang, yakni komandan, pengemudi dan juru senjata. Untuk kabin belakang dapat menampung hingga delapan pasukan bersenjata lengkap dengan muatan bawaan mencapai 8,5 ton.

Dimensi yang kompak
Untuk ukuran dimensi, kendaraan tempur ini memiliki panjang 7,5 m, lebar 2,67 m dan tinggi 2,1 m. Bobot tempurnya sendiri mencapai 17,6 ton, namun dengan tambahan add-on armor menjadi 22 ton.

Proteksi tambahan
Untuk bagian luar dari kendaraan tempur cobra menggunakan add-on passive armour buatan Rafael, Israel. Lapisan ini mampu menahan laju munisi SMB kaliber 14,5 mm. Bagian bawah lambung Cobra dilapisi SSAB ARMOX 500 yang sanggup bertahan dari ranjau darat dan IED. Rafael ini seperti PT. Pindad yang menyediakan kebutuhan alat tempur negaranya.

Cobra Pindad

Memiliki Pemecah Gelombang
Pada bagian depan, kendaraan tempur ini dilengkapi dengan perisai pemecah gelombang air/ombak.

Spesifikasi Mesin
Untuk mesin, mesin diesel Cummins EURO III berdaya 455 hp. Kendaraan dapat melaju di jalan datar keras dengan kecepatan mencapai 105 km/jam dan kecepatan berenang di air pada 10 km/jam. Sementara untuk jangkauan operasi, Pandur II CZ mampu menjelajah hingga 700 km.

Sistem Penglihatan Malam
Pada bagian palka pengemudi juga telah dipasangi sistem penglihatan malam CDND-1. CDND-1, Combined Day/Night Day terdiri dari dua prisma yang dipotong dari kaca optik khusus untuk bidang pandang yang ekstra luas yang dilengkapi dengan filter anti-laser untuk panjang gelombang 800, 900, 1064, 1540 nm. (KKIP)

Menhan Siapkan 3 Kapal Selam Baru untuk TNI AL

KRI Nanggala 402
Banner Infografis Hilangnya Kapal Selam KRI Nanggala 402. (Kredit: Handout/Indonesia Military/AFP)


Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan laut Bali menyisakan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya bagi kalangan TNI Angkatan Laut (AL) dan juga para keluarga 53 awak personel onboard yang ditinggalkan.

Insiden tenggelamnya kapal selam ini membuat Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia Prabowo Subianto mengambil langkah cepat. Prabowo berencana membeli kapal selam baru untuk menggantikan KRI Nanggala 402. Berikut ulasannya.

Ada 3 Kapal Selam
Menhan Prabowo Subianto akan segera membeli 3 buah kapal selam untuk TNI AL. Hal ini  dilakukan untuk menggantikan kapal selam KRI Nanggala 402 yang tenggelam pada Sabtu (24/4) lalu di perairan laut utara Bali.

"Kita baru ada ngadakan tiga kapal selam baru, dari Korea Selatan," ucap Prabowo Subianto dalam siaran pers seperti yang terlihat dalam tayangan unggahan saluran Youtube Metrotvnews.

Sudah Lakukan Uji Coba
Tak hanya itu, Prabowo Subianto juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan uji coba. Ia mengatakan uji coba tersebut akan terus dilakukan demi mengetahui kemampuan kapal selam.

"Masih terus diadakan uji coba," jelas Prabowo dalam siaran pers.

Penambahan Kapal Selam
Lebih lanjut, Prabowo juga membenarkan bahwa Indonesia memiliki sebuah rencana untuk menambah kapal selam. Hal tersebut dilakukan sejak insiden KRI Nanggala 402 mengalami subsunk ketika beroperasi di perairan laut Utara Bali.

"Dan terus memang kita rencananya akan tambah kapal selam. Rencana kita memang terus mengadakan penambahan kapal selam," ungkap dia. [bil]

Jumat, Juli 03, 2020

Dua Fregat Jumbo Kelas Iver Huitfedlt untuk TNI AL

Iver Huitfedlt

Kementerian Pertahanan Indonesia telah menandatangani kontrak awal dengan perwakilan Odense Maritime Technology (OMT) Denmark untuk memasok dua fregat kelas Iver Huitfeldt dalam waktu lima tahun dengan total biaya $ 720 juta.

OMT telah mempromosikan fregat kelas Ivan Huitfeldt mereka sebagai alutsista matra laut untuk persyaratan fregat besar baru TNI AL, pihak Kementerian Pertahanan juga menyetujui hal itu untuk menjadi solusi terbaik di antara beberapa pilihan fregat yang dipertimbangkan.

Varian kelas Iver Huitfedlt TNI AL nantinya akan memiliki tata letak desain eksterior, subsistem dan sistem sensor dan persenjataan yang berbeda, sedangkan fitur desain dasarnya akan tetap serupa dengan varian Angkatan Laut Kerajaan Denmark.

Fregat berukuran jumbo ini diakuisisi sebagai bagian dari modernisasi alutsista dalam program Minimum Essential Force (MEF) aau Kekuatan Pook Minimum tahap kedua yang berlangsung dari 2015 hingga 2019. Setelah diluncurkan nanti, fregat ini akan menjadi kapal perang permukaan terbesar di Asia Tenggara, jika kapal induk Thailand tidak dihitung.

Sebagai catatan, dalam program MEF, TNI AL sebelumnya mengakuisisi dua kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA 10514 dari Damen Belanda yang sekarang adalah Kelas R.E.Martadinata, tetapi ini masih kurang, TNI AL setidaknya masih membutuhkan empat "lambung besi" lagi untuk memenuhi persyaratan MEF dalam jangka panjang.

Iver Huitfedlt

Baca juga: Mengenal 4 Korvet Kelas Sigma TNI AL
Baca juga: Kapal Perang Tercanggih TNI AL Ambil Bagian dalam MNEK 2018

Iver Huitfedlt

Sekilas Fregat Kelas Iver Huitfeldt

Kelas Iver Huitfeldt berbobot benaman 6.500 ton saat muatan penuh dan didorong oleh empat mesin diesel MTU 20V 8000 M70 dalam konfigurasi CODAD (Combined Diesel and Diesel), yang memungkinkan kecepatan maksimum 30 knot, dan jangkauan maksimum 9.300 mil laut dengan kecepatan 18 knot.

Frigat kelas Iver Huitfeldt dilengkapi dengan empat sistem peluncur vertical (VLS) Mk. 41 VLS 8 sel, dua VLS Mk. 56 VLS 12-sel, hingga 16 rudal jelajah anti-kapal Harpoon, 2 kanon OTO Melara 76 mm, senjata angkatan laut Oerlikon Millenium 35 mm, dan dua peluncur triple torpedo ringan.

Fregat yang berdimensi panjang 138,7 m dan lebar 19,75 m ini juga memiliki hanggar dan dek helikopter untuk mengakomodasi helikopter militer berukuran sedang.

Selasa, Juni 16, 2020

Fregat Kelas 'Berat' Iver Huitfeldt Incaran TNI AL

fregat kelas Iver Huitfeldt

Di tengah ancaman agresivitas China di Laut China Selatan, Indonesia membuat langkah maju untuk mendapatkan kapal fregat kelas Iver Huitfeldt buatan Denmark.

Bila Indonesia sukses mendapatkannya, fregat Iver Huitfeldt akan menjadi kapal perang permukaan terbesar di antara Angkatan Laut di kawasan Asia Tenggara.

Fregat Iver Huitfeldt berdimensi panjang 138,7 m dan bobot benaman penuh 6.645 t, hanya kalah dari kapal perusak kelas Hobart milik Angkatan Laut Australia yang memiliki panjang 147,2 meter dan bobot benaman penuh 7.700 ton.

Karena bobot benamannya yang besar, sebagian analis yang menggolongkan fregat kelas Iver Huitfeldt sebagai kapal perusak ringan. Sebab kapal perusak didefinisikan (tidak resmi) memiliki bobot benaman antara 6.000 - 12.000 t. Sebagian lainnya menggolongkan kelas Iver Huitfeldt sebagai fregat kelas berat.

Kementerian Pertahanan Indonesia (Kemenhan) baru-baru ini diketahui telah menandatangani preamble contract (kontrak pembukaan) untuk akuisisi fregat kelas Iver Huitfeldt. Turut hadir manajemen PT PAL, PT Sinar Kokoh Persada,  dan agen Indonesia untuk perusahaan Denmark Odense Maritime Technology (OMT).

Melansir laman Janes, kontrak ini mencakup pengaturan workshare (pembagian kerja) yang akan dilakukan setelah kontrak aktual untuk fregat pertama terwujud, kata sumber industri pertahanan yang mengetahui masalah tersebut sambil memberikan bukti dokumenter tentang peristiwa tersebut.

Baca juga: Kapal Fregat vs Perusak : Apa Perbedaan Keduanya?

fregat kelas Iver Huitfeldt

Maret 2019, laman Janes menyebut Indonesia semakin tertarik pada fregat kelas Iver Huitfeldt untuk menggantikan fregat kelas Ahmad Yani yang akan pensiun.

Sepotong korespondensi tanpa klasifikasi antara Menteri Pertahanan saat itu, dan Sekretaris Kabinet diungkap Janes bulan itu menyebutkan bahwa kelas Iver Huitfeldt sebagai salah satu fregat yang memiliki kemampuan tempur yang andal, dan dapat beroperasi di ekstremitas zona ekonomi eksklusif Indonesia.

Februari 2020, delegasi pertahanan Indonesia mengunjungi Denmark dan meninjau langsung fregat kelas Iver Huitfeldt, yang aktif di Angkatan Laut Denmark, Niels Juel. Delegasi Indonesia mendapat pengarahan dari Odense Maritime Technology (OMT) dan Tim Angkatan Laut Denmark.

Maret 2020, media online melansir Wakil Menteri Pertahanan mengatakan PT PAL Indonesia ditugaskan untuk mengembangkan desain untuk 2 kapal selama 5 tahun, untuk Rp1,1 triliun (atau USD720 juta) bekerja sama dengan Denmark, untuk TNI AL.

Namun saat dikonfirmasi Naval News, Direktur Pelaksana Tim Angkatan Laut Denmark dan mantan Kepala Angkatan Laut Denmark, enggan berkomentar soal pembelian fregat oleh Indonesia.

''Tim Angkatan Laut Denmark dapat mengonfirmasi bahwa Indonesia - di antara negara-negara lain - telah menunjukkan minat untuk fregat Denmark Iver Huitfeldt. Namun, saya tidak dapat mengomentari pertanyaan spesifik Anda,'' ujar Rear Admiral (ret.) Nils Wang.

Baca juga: KRI Yos Sudarso 353, Penjaga Samudera Indonesia

fregat kelas Iver Huitfeldt

Collin Koh, Peneliti Senior Program Keamanan Maritim, Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura yang diwawancarai Naval News memberikan analisanya atas rencana Indonesia untuk membeli fregat Iver Huitfeldt.

Collin, apakah dua fregat besar cukup untuk mencegah China di Laut China Selatan? Bukankah pengadaan kapal yang lebih kecil (seperti PKR atau bahkan ocean going vessel atau kapal pelayaran samudera) akan lebih bermanfaat karena untuk anggaran yang sama Indonesia akan mendapatkan lebih banyak kapal?

Collin Koh - Dua fregat besar tidak cukup untuk menutupi perairan Natuna, di mana serangan China sering terjadi. Paling-paling, di setiap titik waktu, 1 dari pasangan fregat baru ini akan ada di stasiun, meskipun untuk jangka waktu terbatas dan menyediakan perawatan yang tepat, jadwal perbaikan dan perbaikan diikutinya. Tentu saja, dengan anggaran yang sama, lebih banyak OPV (seperti PKR) yang lebih kecil dapat diperoleh.

Namun, saya menduga ada beberapa alasan di balik pencarian Indonesia untuk kelas Iver Huitfeldt.

Yang pertama adalah bahwa orang Indonesia sedang mencari kapal perang (kombatan) permukaan yang lebih besar di luar PKR yang didasarkan pada kelas SIGMA, yang diklasifikasikan sebagai fregat ringan.

Yang kedua adalah konsep modular misi unik yang ditawarkan untuk desain Denmark, diminati oleh orang Indonesia untuk kapal perang masa depan. Tampaknya orang Indonesia tertarik pada kesamaan antara Angkatan Laut dan BAKAMLA, yang dapat dimungkinkan dengan konsep modular yang kuat.

Baca juga: Kapal Perusak Tipe 052D dan Tipe 054A Baru AL China Kini Siap Tempur

fregat kelas Iver Huitfeldt

Yang ketiga, yang saya percaya perlu ditinjau secara serius, adalah apakah orang Indonesia mungkin tidak begitu puas dengan program PKR, dan apakah ini ada hubungannya dengan hubungan pembuat kapal lokal dengan Damen. Sekali lagi, poin ini perlu dieksplorasi.

(Sekadar diketahui sebelumnya, Damen (Belanda) yang memasok kapal korvet nasional dalam program Patroli Kawal Rudal/PKR kelas Diponegoro dan fregat ringan kelas Martadinata)

Naval News - Iver Huitfeldt adalah kapal yang cukup kompleks (dan lebih besar) dibandingkan dengan PKR. Apakah Anda percaya bahwa galangan kapal lokal PT PAL tidak akan memiliki masalah dalam membangun kapal-kapal tersebut secara lokal?

Collin Koh - Iver Huitfeldt juga lebih besar dari kapal yang pernah dibuat PT PAL, desain juga sepenuhnya baru. Dengan transfer teknologi yang tepat di bawah bimbingan rekan-rekan mereka dari Denmark, dan tentu saja dengan komitmen Jakarta terhadap program ini, adalah mungkin bagi PT PAL untuk mengatasi masalah awal dari kurva pembelajaran dan secara bertahap menjadi mampu membangun kapal secara mandiri. Kami dapat mengambil contoh dari kolaborasi PT PAL dengan DSME dalam pembangunan lisensi kapal selam. Ada cegukan awal, terutama karena alih teknologi, tetapi ini kemudian diatasi dan Indonesia akhirnya berhasil membangun kapal selam kelas Nagapasa ketiga, dan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membangun kapal selam secara lokal.

Iver Huitfeldt Class sendiri dibangun oleh Odense Steel Shipyard pada tahun 2008. AL Denmark membangun tiga kapal di kelas ini yakni Iver Huitfeldt (F 361), Peter Willemoes (F362), dan Niels Juel (F363).

Untuk mata dan telinga, di Iver Huitfeldt Class bercokol radar MART-L (Signal Multibeam Acquisition Radar for Tracking) yang berjalan di frekuensi L band. Radar ini mampu menyapu area sejauh 400 km, jauh sebelum musuh mendeteksi duluan.

fregat kelas Iver Huitfeldt

Belum cukup sampai situ ada pula radar SCANTER 6000 yang berjalan di frekuensi I Band, penjejak kapal selam sonar ATLAS ASO 94, Saab CEROS 200 dan ES-3701 Tactical Radar Electronic Support Measures untuk menghadapi peperangan elektronika.

Untuk persenjataan, Iver Huitfeldt Class dibekali amat komplit yakni canon reaksi cepat Oto Melara 76 mm Super Rapid, 32 sel peluncur rudal vertikal (VLS) Mk 41 untuk rudal permukaan ke udara SM-2 IIIA, 24 sel VLS Mk 56 untuk rudal permukaan ke udara RIM-162 ESSM (Evolved SeaSparrow Missile), 2 peluncur berisi empat tabung untuk rudal anti kapal Harpoon, satu unit Oerlikon Millennium 35 mm sebagai CIWS, dan dua peluncur torpedo MU90.

Dengan panjang 138,7 meter dan lebar 19,75 meter, fregat raksasa ini mampu melaju 30 knot karena dukungan empat mesin diesel MTU 8000 20V M70.

Ada dek dan hanggar helikopter di fregat ini yang mampu menampung heli ukuran medium untuk misi buru kapal selam dan lainnya.

Meski Denmark bukan negara yang punya historis kuat di bidang pertahanan maritim seperti Inggris atau Spanyol, tapi Iver Huitfeldt didaulat sebagai satu fregat terbaik di dunia.

Situs defencyclopedia mendaulat Iver Huitfeldt sebagai fregat terbaik keempat dunia hanya kalah dari kelas Admiral Gorshkov (Rusia), kelas Sachsen (Jerman], dan kelas De Zeven Provincien (Belanda).

Situs ini juga menyebut fregat Iver Huitfeldt merupakan yang termurah di antara fregat paling canggih di dunia. Hal ini disebabkan fregat Iver Huitfeldt menggunakan desain lambung kapal kelas Absalon yang sudah ada, sehingga mengurangi biaya desain secara signifikan.

Itu sebabnya fregat berbobot 6.600 ton ini terlihat agak tebal dan kaku dibandingkan fregat lain. Tapi kekurangan ini ditutupi kombinasi senjata dan sensor yang mematikan.

fregat kelas Iver Huitfeldt

Keandalan Iver Huitfeldt sudah terbukti mengarungi Laut Utara yang ganas. Bahkan saat terjebak dalam badai ganas 24 jam saat mengarungi Samudra Atlantik menuju Amerika, fregat Iver Huitfeldt hanya mengalami kerusakan ringan.

Peristiwa ini terjadi Januari 2020, saat badai yang luar biasa dahsyat menghantam fregat Iver Huitfeldt ketika berlayar ke Amerika Serikat untuk berlatih dengan kelompok kapal induk AS.

Prakiraan cuaca sudah menunjukkan cuaca buruk ketika Iver Huitfeldt melewati Azores di Atlantik dalam perjalanan ke Norfolk, AS.

Namun di sepanjang jalan, makin buruk dan Iver Huitfeldt menghindar atau mundur lagi. Akhirnya Iver Huitfeldt berlayar dalam badai dengan kecepatan serendah mungkin selama 24 jam.

Ketinggian ombaknya mencapai sekitar 15 meter ketika cuaca buruk. Tidak ada kru yang terluka karena hantaman cuaca buruk. Tapi Iver Huitfeldt mengalami beberapa kerusakan ringan, termasuk lemari terpisah, kerusakan tekanan pada lambung dan beberapa kebocoran di lubang palka.

Iver Huitfeldt juga kehilangan kubah sonar - pelindung fiberglass besar di bagian depan kapal di bawah garis air yang melindungi sonar. Iver Huitfeldt  akhirnya berada di Norfolk dan dapat berlatih dengan kelompok kapal induk AS. Selama latihan, kru Iver Huitfeldt  memperbaiki sebagian besar kerusakan yang terjadi. (Tribunnews - Edited)

Jumat, Mei 08, 2020

Pandemi Covid-19, F-16 TNI AU Tetap Amankan Laut Indonesia

F-16 TNI AU
F-16 TNI AU berpatroli amankan wilayah ALKI I. (Foto: Lanud Roesmin Nurjadin)

Dalam situasi pandemi Covid-19 dan bulan cuci Romadhon, Skadron Udara 16 meningkatkan kewaspadaan dan patroli udara untuk kemungkinan adanya gangguan keamanan di wilayah ALKI I (Alur Laut Kepulauan Indonesia) I, Riau, Rabu (6/5/2020).

Komandan Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), Marsma Ronny Irianto Moningka, mengatakan, bahwa Skadron Udara 16 tetap bersiaga mengamankan perairan NKRI dalam situasi yang sedang tidak menentu, dimana perhatian segenap komponen bangsa tersedot dalam penanganan wabah covid-19.

"Ini bukan merupakan alasan untuk menurunkan kesiapsiagaan di bidang pertahanan, TNI AU selalu siap dalam melaksanakan tugasnya, yaitu menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional," ungkap Ronny.

Danlanud RSN menjelaskan, bahwa kegiatan pengamanan ini dilaksanakan secara terjadwal dan terkoordinasi dengan satuan tugas laut. Operasi ini bertujuan untuk menegakkan hukum dan kedaulatan di perairan yurisdiksi nasional ALKI I.

Selanjutnya Komandan Wing 6 Lanud Roesmin Nurjadin Kolonel PNB Setiawan menjelaskan, bahwa Skadron Udara 16 tetap beroperasi secara penuh dengan melaksanakan kegiatan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dengan sandi Operasi Alur Samudera-20.

"Skadron Udara 16 yang berada dibawah kendali satuan tugas udara, dikerahkan untuk melaksanakan patroli udara maritim bersenjata di sektor yang sudah ditentukan. Beroperasi dari Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin Pekanbaru, pesawat F-16 dapat dengan cepat menjangkau jalur ALKI I yang meliputi perairan Selat Karimata sampai dengan Selat Sunda," ungkap Setiawan.

Kolonel PNB Setiawan menjelaskan, bahwa Flight F-16 bertugas untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan mengadakan kerjasama dengan unsur laut untuk menindaklanjuti segala bentuk ancaman dan sasaran yang mencurigakan.

"Dalam pelaksanaan patroli, segenap awak pesawat F-16 diharuskan untuk selalu dapat berkonsentrasi penuh, karena sewaktu-waktu dituntut bisa turun ke ketinggian rendah dan bermanuver untuk menindaklanjuti sasaran," ungkap Setiawan.

Kemudian Komandan Skadud 16 Letkol PNB Bambang Apriyanto, S.T. menjelaskan, bahwa durasi patroli yang cukup lama dan jarak jauh yang membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang prima, seluruh awak pesawat dituntut untuk tetap profesional meskipun melaksanakan operasi di bulan Ramadhan, dimana sebagian besar personelnya sedang menjalankan ibadah puasa.

"Meskipun di tengah pandemi Covid 19 dan bulan suci Ramadhan, Rydder tidak sedikitpun akan menurunkan kesiapan operasionalnya, karena kedaulatan dan keamanan nasional adalah hal yang mutlak dan merupakan prioritas yang utama, terlebih lagi kemungkinan ancaman yang datang tidak  mengenal waktu dan tempat." ungkap Bambang.

Operasi pengamanan ALKI I ini telah berlangsung dari tanggal 29 April 2020 sampai tanggal 11 Mei 2020. (Lanud Roesmin Nurjadin)

Rabu, Mei 06, 2020

3 Alutsista Canggih yang Terancam Gagal Dimiliki TNI

Korvet kelas Gowind
Korvet kelas Gowind. (Gambar: Naval Group)

Jet tempur Rafale, kapal selam kelas Scorpene, dan  korvet kelas Gowind terancam gagal dibeli oleh TNI.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus menunda pembelian alutsista baru. Pasalnya, Presiden Joko Widodo diketahui sudah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait pemangkasan dana sejumlah kementerian/lembaga akibat pandemi Covid-19.

Jokowi menandatangani Perpres tersebut pada awal April 2020 lalu. Perpres ini dibuat dan ditetapkan guna mengalokasikan dana untuk penanggulangan Covid-19.

Pemberitaan media sebelumnya melaporkan bahwa juru bicara Kemenhan, Dahnil Anzar Simanjuntak, membenarkan ada pemangkasan dana di Kementerian Pertahanan. Tak cuma Kemenhan, Dahnil juga menyebut bahwa anggaran belanja TNI juga bakal dipangkas.

Di sisi lain, pemangkasan anggaran belanja sejumlah kementerian/lembaga pasti menimbulkan dampak tersendiri. Kemenhan adalah salah satunya. Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Menteri Pertahanan (Menhan), Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, diketahui telah berencana untuk membeli tiga alutsista baru.

Ketiga alutsista tersebut semuanya adalah buatan Prancis. Ada jet tempur Rafale, kapal selam kelas Scorpene, dan korvet kelas Gowind. Meski belum melakukan kontrak untuk pembelian ketiga alutsista tersebut, namun Kemenhan sudah menunjukkan minat besar untuk tiga alutsista canggih ini.

1. Rafale
Jet tempur Rafale
Jet tempur Rafale. (Gambar via www.hottail.nl)

Rafale adalah jet tempur hasil pengembangan pabrik Dassault Aviation, Prancis.  Rafale didesain sebagai jet tempur multiperan, dapat digunakan oleh angkatan udara maupun angkatan laut (basis kapal induk). Jet tempur bersensor radar elektronik ini memiliki sayap delta yang dipadukan dengan kanard aktif terintegrasi, sehingga dapat memaksimalkan kemampuan manuver gravitasi maksimal (+9 g atau -3 g) dengan stabil.

Rafale juga memiliki fitur pengabur radar sehingga meningkatkan kemampuannya untuk sulit terdeteksi sistem pertahanan udara musuh. Kabarnya Rafale saat ini dibanderol dengan harga sekira USD 115 juta atau sekitar Rp1,5 triliun per unitnya. Negara-negara di luar Prancis yang saat ini mengoperasikan Rafale antara lain India, Libya, Inggris, dan Swiss. 

2. Kapal selam kelas Scorpene
Kelas Scorpene
Kapal selam kelas Scropene. (Gambar via Navy Recognition)

Kapal selam kelas Scorpone adalah kelas kapal selam serang diesel-elektrik hasil pengembangan bersama perusahaan asal Prancis, French Direction des Constructions Navales (DCN) dan perusahaan Spanyol Navantia, dan sekarang oleh DCNS. Kelas Scorpene sudah dilengkapi sistem propulsi udara independen (AIP) sehingga bisa terus menyelam untuk waktu yang lama tanpa perlu muncul ke permukaan untuk mengambil udara.

Kelas Scorpene dipersenjatai dengan berbagai ranjau, torpedo dan rudal untuk berbagai misi. Kapal selam yang memiliki kecepatan 20 knot ini memiliki teknologi senyap yang baik sehingga menyulitkan sistem deteksi musuh.

3. Korvet kelas Gowind
Korvet kelas Gowind
El Fateh (971), korvet kelas Gowind Angkatan Laut Mesir. (Gambar via DSM Forecast International)

Korvet kelas Gowind juga menjadi salah satu kapal perang yang menarik perhatian Menhan untuk dilengkapkan kepada TNI AL. Korvet buatan Naval Group atau DCNS asal Prancis ini didesain untuk misi anti pembajakan, anti terorisme, SAR, perlindungan tambang minyak dan gas, dan untuk dukungan operasi kemanusiaan.

Kelas Gowind bisa berpatroli selama tiga minggu dan menjelajah laut hingga 6.900 km jauhnya. Kecepatan tertingginya 25 knot. Di dek belakangnya, kelas Gowind memiliki helipad untuk mengakomodasi helikopter ukuran sedang, berbobot maksimal 10 ton.

Untuk persenjataan, kelas Gowind memiliki sebuah meriam OTO Melara 76mm, dua meriam Nexter Narhwal 20 mm, 16 VLS untuk rudal permukaan ke udara, delapan peluncur rudal anti kapal Exocet, meriam air, dan dua peluncur triple torpedo. Korvet ini sarat dengan persenjataan.

Di sistem elektroniknya, kelas Gowind dilengkapi sensor anti-udara dan anti-permukaan, dengan rudal VL Mica untuk ancaman vertikal dan rudal Exocet MM40 untuk ancaman permukaan.

Kelas Gowind akan sangat efektif untuk menjaga perbatasan Indonesia sebagai negara kepulauan.*