Tampilkan postingan dengan label Bom dan Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bom dan Rudal. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 21, 2020

Pentagon Uji Rudal Anti-Radiasi untuk Menetralisir Sistem S-400 Rusia

Rudal anti-radiasi AGM-88 HARM

Washington, Artileri

Amerika Serikat (AS) telah menguji versi peningkatan dari AGM-88 HARM, rudal yang dirancang khusus untuk menghancurkan radar dan menetralisir sistem pertahanan udara, laman jurnal Military Review melaporkan.

Namun, laman Military Review juga menyebut bahwa rudal canggih AS itu belum mampu untuk melawan S-400 Rusia.

Disebutkan bahwa versi terbaru dari rudal AGM-88 HARM memiliki peningkatan jangkauan - hingga 230 kilometer. Media AS menulis bahwa rudal ini akan menjadi opsi yang paling mungkin untuk melawan sistem rudal anti-pesawat S-400 Rusia.

Namun, Military Review mencatat bahwa, dibandingkan dengan AGM-88 HARM, rudal anti-pesawat 40H6, yang dilengkapkan pada S-400, masih lebih unggul 170 kilometer (total jangkauan 400 kilometer). Artinya, untuk mengalahkan S-400, sebuah pesawat Amerika yang membawa rudal AGM-88 HARM harus terbang ke area jangkauan S-400 Rusia. Ini berarti bahwa rudal Amerika itu masih belum berdaya melawan sistem pertahanan udara itu.

F-35 vs S-400

Pada 4 Juli nanti, pesawat uji khusus F-35 akan dikirim ke Israel dari AS secara khusus untuk pengujian terhadap sistem rudal anti-pesawat S-400 yang berada di pangkalan udara Khmeimim di Suriah yang dioperasikan oleh Rusia.

Artinya, kompetisi ini bukan virtual, tetapi dalam kondisi pertempuran nyata.

Pertarungan tentu akan menarik - jet tempur terbaik di dunia (menurut AS) melawan sistem rudal anti-pesawat terbaik saat ini (pendapat umum yang diterima).

Ini adalah tes kualitas tempur pesawat yang dibuat menggunakan teknologi siluman, yang harus mengatasi sistem pertahanan S-400 dan membuktikan keunggulan F-35. Sebuah usaha yang berisiko, tetapi jika berhasil, F-35 benar akan menjadi jet tempur terbaik saat ini mengingat reputasinya sempat ternoda beberapa kali.

Baca juga: Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia
Baca juga: 10 Sistem Rudal Pertahanan Udara Terbaik di Dunia

Rudal AGM-88 HARM

AGM-88 HARM (High-speed Anti-Radiation Missile) adalah rudal anti-radiasi (udara-ke-permukaan) taktis yang dirancang untuk menampung transmisi-transmisi elektronik yang datang dari radar sistem rudal permukaan-ke-udara.

Awalnya dikembangkan oleh Texas Instruments sebagai pengganti sistem rudal AGM-45 Shrike dan AGM-78 Standard ARM. Produksi kemudian diambil alih oleh Raytheon Corporation setelah membeli bisnis produksi pertahanan Texas Instruments.

AGM-88 mampu mendeteksi, menyerang, dan menghancurkan antena atau pemancar radar dengan input udara minimal. Sistem panduan proporsional yang menampung emisi radar musuh ini memiliki antena tetap dan kepala pencari di hidung rudal.

Tanpa asap, bahan bakar padat, dan motor roket yang membawanya ke kecepatan lebih dari Mach 2.0. Rudal HARM adalah program milik Angkatan Laut AS, dan pertama-tama diterapkan pada pesawat Grumman A-6 Intruder, LTV A-7 Corsair II, dan F/A-18A/B Super Hornet, dan kemudian dilengkapkan juga pada pesawat Northrop Grumman EA-6B Prowler.

Baca juga: 10 Pesawat Militer Termahal Amerika Serikat
Baja juga: Mengukur Advanced Super Hornet Sebagai Pengganti F-35 Angkatan Laut AS

Angkatan Udara A.S. juga Menempatkan HARM ke pesawat F-4G Wild Weasel, dan kemudian ke pesawat F-16 khusus yang dilengkapi dengan Sistem Penargetan HARM (HTS). Pod HTS, yang hanya digunakan oleh Angkatan Udara AS, memungkinkan F-16 mendeteksi dan secara otomatis menargetkan sistem radar dengan HARM.*

Selasa, Mei 12, 2020

S-500 'Prometheus': Tercanggih dan Belum Punya Pesaing

S-500

Tahun depan, Angkatan Bersenjata Rusia akan menerima sampel sistem rudal pertahanan udara S-500 pertamanya. Di dunia modern saat ini belum ada sistem pertahanan udara yang setara dengan S-500. Fakta ini tidak hanya diakui oleh pakar Rusia, tetapi juga Barat.

Atas permintaan Kementerian Pertahanan Rusia, produksi serial sistem rudal S-500 baru akan dimulai pada 2025. Sehingga di masa mendatang, Angkatan Bersenjata Rusia memiliki sistem pertahanan udara yang sangat kompleks yang tidak tersaingi oleh sistem pertahanan rudal lainnya di dunia.

Sistem pertahanan antariksa generasi pertama
Perlu diingat bahwa S-500 "Prometheus" mengacu pada sistem rudal anti-pesawat generasi baru yang secara terpisah mampu menyelesaikan tugas menghancurkan target balistik dan aerodinamis, termasuk rudal balistik, rudal jarak menengah, rudal balistik antarbenua, rudal jelajah hipersonik, satelit yang mengorbit rendah, pesawat, dan drone musuh.

Kolonel Sergei Khatylev, seorang ahli militer Rusia, mengatakan bahwa karakteristik kinerja S-500 tidak hanya menjadikannya sebagai sistem rudal anti-pesawat namun juga sebagai sistem pertahanan antariksa generasi pertama yang mampu menangkal ancaman dari luar angkasa. Karena S-500 mampu menghancurkan target pada rentang hingga 600 km dan pada ketinggian hingga 200 km. Artinya, 90% range defeat S-500 ada di ruang angkasa.

Analis Amerika Dave Majumdar di laman The National Interest menulis bahwa C-500 dapat menghancurkan target di ruang angkasa secara bersamaan. Menurut Majumdar, dengan S-500, S-400 dan S-300, Angkatan Bersenjata Rusia berarti memiliki satu komplek sistem pertahanan udara terintegrasi yang dapat secara efektif melindungi wilayah udara Rusia dari beragam ancaman.

Jangkauan, ketinggian, dan radar
S-500 akan menggunakan radar terbaru Rusia untuk mendeteksi target pada jarak yang jauh. Radar kelas berat S-500 itu akan menambah jangkauan deteksi target hingga 150-200 km dari radar sistem pertahanan udara S-400 saat ini.

Fakta ini menjadi alasan kekhawatiran serius bagi militer Amerika Serikat untuk alutsista-alutsista siluman mereka seperti seperti F-22, F-35, dan pembom B-2. Pada gilirannya, analis China Zhou Housing dari Sina dengan membandingkan S-500 dengan sistem rudal anti-pesawat Amerika Patriot Advanced Capability-3, meletakkan pilihannya pada S-500 dan menyebut bahwa belum ada sistem rudal pertahanan udara saat ini yang setara dengan S-500 Rusia. Sedangkan pengamat Liang Jianjun dari Sohu tidak begitu terkejut dengan kehadiran S-500, dia mencatat bahwa Amerika Serikat memang selalu kuat dalam senjata ofensif, namun Uni Soviet dan Rusia masih belum tertandingi untuk urusan senjata defensif.

Para pakar China bahkan mengaitkan pada kemampuan S-500 untuk menembak jatuh meteorit yang terbang menuju ke bumi dari luar angkasa. Jangkauan, ketinggian, dan penerbangan rudal dan sistem homing, menurut para ahli, menjadikan S-500 sebagai alat pertahanan paling sempurna saat ini. Ketika S-500 telah dikirimkan ke Angkatan Bersenjata Rusia, maka itulah titik kesempurnaan sistem pertahanan udara Rusia.

Satu lagi nilai tambah dari S-500 adalah biayanya, yang dalam hal apapun diklaim Rusia masih lebih murah dari sistem THAAD Amerika, padahal THAAD sudah kalah dalam sejumlah parameter dibanding S-500. Sedangkan untuk rencana ekspor S-500, tampaknya masih prematur untuk dibahas.*

Rabu, April 22, 2020

Iskander-M: Sistem Rudal Taktis Berkemampuan Nuklir

Sistem rudal Iskander-M
Sistem rudal Iskander-M saat peluncuran elektronik rudal "quasi-balistik" di sebuah lokasi pelatihan.(Kredit: Yuri Smitjuk/TASS)

Rudal Iskander-M yang memiliki kemampuan nuklir dapat menjangkau target hingga sejauh 500 kilometer hanya dalam hitungan menit.

Sistem rudal taktis Iskander-M Rusia adalah salah satu sistem pertahanan paling tangguh Rusia. Perangkat standar sistem ini mencakup dua rudal yang masing-masing berkemampuan nuklir. Meski demikian, rudal-rudal Iskander-M tidak meninggalkan jejak radioaktif atau kontaminasi radiasi di lokasi tumbukan.

Iskander-M mudah untuk dioperasikan dan dipindahkan ke area yang tidak dapat dijangkau oleh sistem serangan musuh. Selain itu, rudalnya juga dapat menjangkau target sejauh hingga 500 kilometer pada lintasan yang kompleks. Jalur terbang rudal Iskander lebih menyerupai rudal jelajah (mendekati garis lurus) daripada rudal balistik (membentuk busur).

Sesaat sebelum mengenai target, rudal Iskander-M melepaskan umpan untuk mengacaukan perangkat intersepsi dan radar musuh. Saat ini, kemampuan yang sama hanya dimiliki oleh sistem-sistem rudal strategis yang jauh lebih kuat, seperti Topol-M, Yars, dan Sarmat.

Bagian-bagian dari sistem Iskander-M
Sistem rudal taktis Iskander-M terdiri dari 51 buah peralatan, yaitu 12 peluncur (masing-masing dengan dua rudal), 12 kendaraan pengangkut muatan, 11 kendaraan komando, 14 kendaraan pendukung kehidupan, satu kendaraan dukungan teknis, pusat pemrosesan komunikasi, ditambah beberapa set rudal berpemandu presisi, amunisi, serta alat bantu pelatihan.

Sistem rudal Iskander-M
Latihan militer awak "Iskander-M" dari Distrik Militer Pusat. Uji coba peluncuran rudal "Iskander." (Kredit: Kementerian Pertahanan Rusia / Global Look Press)

Selain itu, Iskander-M dapat menggunakan tujuh jenis rudal yang benar-benar tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang dan dapat dilengkapi dengan sepuluh jenis hulu ledak.

"Rudal-rudal Iskander dapat dilengkapi dengan hulu ledak kluster (yang berpisah menjadi 54 sub-proyektil ketika mendarat), penetrator (yang menghancurkan target bawah tanah), fragmentasi, termobarik, dan bahkan hulu ledak nuklir," ujar Dmitry Litovkin, Pemimpin Redaksi surat kabar Nezavisimoye Voyennoye Obozreniye, seperti dilansir Russia Beyond.

Menurutnya, selain perangkat dasarnya yang mencakup rudal berdaya ledak tinggi dan tidak mencemari lokasi tumbukan, Iskander dapat membawa hulu ledak nuklir dan mencapai target sejauh 500 kilometer dalam hitungan menit.

"Kemampuan untuk 'pengemasan kembali' menjadikan Iskander sebagai salah satu senjata paling tangguh di Rusia," jelas Litovkin.

Seperti yang ia jelaskan, salah satu versi dari sistem ini dilengkapi dengan dua rudal jelajah jarak jauh yang tidak hanya mampu menghantam infrastruktur darat, tetapi juga kapal di laut.

Lokasi dan misi
Saat ini, sistem rudal taktis Iskander-M ditempatkan di Kaliningrad, Leningradskaya oblast, Kaukasus Utara, dan Krimea, yang dikatakan Litovkin “tepat di bawah hidung NATO.”

“Kementerian Pertahanan Rusia menempatkan Iskander di Kaliningrad setelah Amerika mulai membangun perisai rudal dengan peluncur universal VLS Mk-41di Polandia dan Rumania. Selain senjata anti rudal balistik, Mk-41 juga dapat menembakkan rudal jelajah BGM-109 Tomahawk, yang dapat dengan mudah mengenai semua fasilitas nuklir dan nonnuklir di Rusia bagian Eropa. Jadi, kita harus mengimbangi ancaman itu,” jelas Litovkin. (Russia Beyond)

Kamis, April 16, 2020

Rusia Menguji Rudal Anti-Satelit 'Direct-Ascent'

Ilustrasi senjata anti satelit.

Rusia sekali lagi meregangkan ototnya ke luar angkasa dengan menguji rudal anti-satelit 'direct-ascent' (pendakian langsung) yang diluncurkan dari darat pada 15 April, menuai kritik dari Komando Luar Angkasa Amerika Serikat.


Komando Luar Angkasa AS, U.S. Space Command, pada 15 April mengetahui dan melacak uji coba rudal anti-satelit (ASAT) 'direct-ascent' oleh Rusia.

"Tes ASAT Rusia menjadi contoh lain bahwa ancaman terhadap sistem ruang angkasa AS dan sekutu adalah nyata, serius, dan berkembang," kata Jenderal John W. "Jay" Raymond, komandan SPACECOM dan Kepala Angkatan Udara AS untuk Operasi Luar Angkasa AS. "Amerika Serikat siap dan berkomitmen untuk mencegah agresi dan membela bangsa, sekutu kami, dan kepentingan AS dari tindakan bermusuhan di luar angkasa."

SPACECOM, yang mengurusi seluruh operasi ruang angkasa militer ofensif dan defensif, tidak menjelaskan ke mana senjata ASAT Rusia itu ditujukan, juga tidak mengungkapkan keberadaan puing-puing ruang angkasa sebagai hasil dari tes, menurut juru bicara Letnan Kolonel Christina Hoggatt.

"Tes ini adalah bukti lebih lanjut dari advokasi hipokrit Rusia terhadap proposal pengendalian senjata luar angkasa yang mengatur pembatasan kemampuan Amerika Serikat sementara Rusia jelas tidak berniat menghentikan program senjata anti satelit mereka," kata Raymond.

"Ini adalah kepentingan dan tanggung jawab bersama dari semua negara antariksa untuk menciptakan kondisi yang aman, stabil, dan berkelanjutan secara operasional untuk aktivitas luar angkasa, termasuk aktivitas keamanan komersial, sipil, dan nasional," simpul Raymond.

Sistem rudal Rusia mampu menghancurkan satelit di Orbit Bumi Rendah (LEO), yang membentang hingga 1.200 mil di atas Bumi. Senjata 'direct ascent' langsung mencoba "untuk menyerang satelit menggunakan lintasan yang memotong satelit target tanpa menempatkan interseptor ke dalam orbit," menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional. Rudal balistik dan rudal pencegat dari sistem pertahanan udara dapat digunakan sebagai senjata ASAT 'direct ascent'.

Demonstrasi Rusia ini dinilai dapat merusak aset di Orbit Bumi Rendah di mana AS sedang merencanakan investasi besar di area ruang angkasa itu. LEO telah menjadi rumah bagi satelit penginderaan jauh dan ilmiah, menurut Pusat Intelijen Udara dan Luar Angkasa Nasional AS, dan di sinilah pemerintah AS dan sektor komersial ingin membangun konstelasi besar komunikasi murah dan satelit lainnya dalam beberapa dekade mendatang.

Sebuah laporan CSIS yang diterbitkan bulan lalu mencatat bahwa Rusia sedang mengembangkan rudal ASAT yang diluncurkan secara langsung, dan telah melakukan uji coba untuk versi daratnya. Rusia meningkatkan kemampuannya untuk mengganggu aset luar angkasa negara lain dengan menggunakan cara kinetik, serta alat elektromagnetik dan cyber.

“Bukti menunjukkan bahwa Rusia telah berinvestasi dalam berbagai kemampuan kinetik ruang angkasa selama dekade terakhir, termasuk rudal ASAT direct ascent yang diluncurkan dari darat dan udara yang mampu menargetkan satelit di LEO dan juga senjata ASAT co-orbital yang dapat beroperasi di setiap orbitnya,” kata laporan 31 Maret. "Kegiatan ruang gerak fisik kinetik Rusia sering sangat mirip dengan program ASAT era Soviet yang sebelumnya beroperasi, menunjukkan bahwa Rusia telah mendapat manfaat dari penelitian senjata ASAT yang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan Soviet selama beberapa dekade."

Militer AS juga sebelumnya melaporkan aktivitas mencurigakan Rusia lainnya di orbit bumi tahun ini. Pada Februari, TIME melaporkan bahwa dua satelit Rusia, COSMOS 2542 dan COSMOS 254, mengikuti satelit National Reconnaissance Office. Kedua satelit ini berperilaku mirip dengan satelit Rusia sebelumnya yang menunjukkan karakteristik sebagai senjata ruang angkasa, melakukan manuver di dekat satelit Pemerintah AS yang akan ditafsirkan sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan berpotensi mengancam.

Pengumuman uji ASAT muncul di hari yang sama ketika Su-35 Rusia mencegat pesawat P-8A Poseidon Angkatan Laut AS yang terbang di wilayah udara internasional di atas Laut Mediterania.

"Interaksi itu dipastikan tidak aman karena Su-35 melakukan manuver berkecepatan tinggi, berbalik, 25 (kaki) langsung di depan pesawat misi, yang menempatkan pilot dan kru kami dalam bahaya," menurut pernyataan dari Angkatan Laut AS Eropa-Afrika. "Awak P-8A melaporkan turbulensi setelah interaksi."

Angkatan Laut mengklaim AS beroperasi di wilayah udara internasional dan tidak melakukan apa pun untuk memprovokasi serangan 42 menit itu.

“Ketika pesawat Rusia beroperasi di wilayah udara internasional, interaksi ini tidak bertanggung jawab. Kami berharap mereka berperilaku dalam standar internasional yang ditetapkan untuk memastikan keselamatan dan untuk mencegah insiden, termasuk Perjanjian 1972 untuk Pencegahan Insiden di dan di atas Lautan Tinggi (INCSEA), ”bunyi pernyataan itu. "Tindakan tidak aman meningkatkan risiko salah perhitungan dan potensi tabrakan di udara."*

Sabtu, April 11, 2020

Rudal Hipersonik Baru Jepang akan Jebol Dek Kapal Induk China

Sistem rudal anti kapal Jepang
Ilustrasi sistem rudal anti-kapal Jepang. (Foto: ameblo.jp)

Militer Jepang sedang mengembangkan rudal hipersonik anti-kapal dengan hulu ledak khusus untuk menjebol geladak kapal induk China.

Kementerian pertahanan Jepang saat ini mengembangkan apa yang merek sebut "hypervelocity gliding projectile," atau HVGP, untuk disebarkan di pangkalan-pangkalan militer di pulau-pulau Jepang mulai tahun 2026.

Penamaan senjata oleh Jepang ini termasuk sesuatu yang tidak pas. Dalam istilah AS atau global pada umumnya, rudal yang memiliki kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara adalah rudal "hipersonik." Sedangkan AS mengistilahkan "hypervelocity" untuk tembakan kanon yang cepat dan tidak terarah.

Tapi apapun itu, yang jelas Tokyo menginginkan HVGP baru untuk membantunya mengalahkan militer Tiongkok. Desain untuk tahun 2026 adalah untuk "menargetkan musuh potensial yang menyerang pulau-pulau terpencil Jepang," lapor The Mainichi. "Pada tahap kedua, tipe yang ditingkatkan akan dikembangkan untuk kemungkinan pemasangan pada tahun fiskal 2028 atau setelahnya, menampilkan muatan berbentuk cakar, peningkatan kecepatan dan jangkauan tembak, dan lintasan yang lebih kompleks."

Peningkatan lain setelah 2026 dapat menambahkan "muatan yang mampu menembus dek kapal induk," Mainichi menjelaskan.

HVGP adalah sistem boost-glide. Diluncurkan di atas roket kemudian terpisah dari booster dan, dipandu oleh GPS, meluncur dengan kecepatan hipersonik menuju target sambil membuat koreksi kecil saja.

Tidak jelas "muatan" khusus apa yang dipertimbangkan Jepang untuk secara khusus menargetkan kapal induk Tiongkok. Energi kinetik dari rudal hipersonik saja sudah cukup untuk menonaktifkan atau menghancurkan sebagian besar target, apalagi dengan hulu ledak.

Setelah puluhan tahun dikembangkan, senjata hipersonik akhirnya mulai benar-benar dioperasikan. Kementerian pertahanan Rusia pada akhir 2019 mengklaim telah mengerahkan rudal hipersonik permukaan-ke-permukaan Avangard, yang mungkin menjadikan Rusia sebagai negara pertama yang mengoperasikan senjata hipersonik.

Media Tiongkok mengklaim China sedang menguji dua rudal permukaan-ke-permukaan hipersonik. DF-17 ditampilkan ke publik selama parade Oktober 2019 memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Cina. Rudal kedua, Xingkong-2, dilaporkan berbeda dalam detail dibandingkan dengan DF-17.

Angkatan Udara AS berhasil melakukan uji terbang terhadap Air-Launched Rapid-Response Weapon hipersoniknya sendiri pada Juni 2019. ALRRW dapat memasuki layanan pada awal 2023. Pesawat pembom B-1 dan B-52 akan menjadi platform peluncur yang mungkin untuk senjata baru AS itu.

Rudal hipersonik Jepang adalah respons langsung terhadap kampanye Tiongkok selama bertahun-tahun untuk perampasan tanah dan pembangunan benteng di Laut Cina Selatan dan Timur. “Kapal pemerintah Tiongkok telah sering terlihat bernavigasi di zona yang berdekatan di dekat Kepulauan Senkaku dan menyusup ke perairan teritorial Jepang,” Mainichi mencatat.

Senjata berbasis darat yang dimiliki militer Jepang tidak memiliki jangkauan untuk menyerang pos terdepan China dari tanah Jepang. “Sementara pulau utama Okinawa dan Senkaku berjarak sekitar 261 mil, jarak rudal [militer Jepang] saat ini ditetapkan hanya lebih dari seratus kilometer (62 mil),” Mainichi melaporkan.

HVGP akan melindungi pulau-pulau Jepang, mungkin Jepang untuk merespons aktivitas China tanpa mengerahkan kapal dan pesawat tempur. Kementerian Pertahanan Jepang mengalokasikan total 18,5 miliar yen ($ 170 juta) dalam anggaran tahun 2018 dan 2019 untuk penelitian HVGP untuk pertahanan pulau-pulau terpencil, dan berencana untuk menambah 25 miliar yen ($ 230 juta) lainnya dalam anggaran fiskal 2020.

Rudal baru itu masih beberapa tahun lagi akan muncul di layanan militer Jepang, tetapi sudah menimbulkan kontroversi, Mainichi menjelaskan. Sebagian pengamat menilai bahwa kemampuan baru Jepang tersebut akan memungkinkan Pasukan Bela Diri Jepang (angkatan bersenjata Jepang) untuk secara langsung menyerang wilayah negara lain dan menyimpang dari kebijakan Jepang yang berorientasi pada pertahanan eksklusif. (NI)

Rudal Korea Utara Makin Banyak dan Makin Mematikan

Rudal Hwasong-14
Peluncuran rudal balistik Hwasong-14, 4 Juli 2017. (Foto: CSIS)

Karena kemampuan perang konvensional Korea Utara semakin tertinggal dan usang, Korea Utara sangat bergantung pada kemampuan rudal konvensional dan nuklir mereka untuk melindungi rezim Kim.

Selain rudal jarak pendek dan menengah yang mengancam bagian selatan semenanjung Korea, Korea Utara bergantung pada rudal balistik antarbenua (ICBM) jarak jauh untuk mengancam sekutu Amerika seperti Jepang, dan aset Amerika di wilayah Pasifik — dan mungkin Amerika Serikat.

Hwasong-14
Rudal terbaru Korea Utara adalah Hwasong-14, yang diuji secara mencolok pada 4 Juli 2017. Hwasong-14 diluncurkan dengan transporter dan, jika pernyataan Korea Utara benar, dapat dipasangi hulu ledak nuklir — meskipun beberapa faktor lain akan menjadi aral, seperti lintasan terminal dan bagaimana Hwasong-14 akan masuk kembali ke atmosfer bumi.

Menurut CSIS, sebuah lembaga 'think tank' terkemuka dunia, "Perdebatan Hwasong-14 berlanjut tentang bagaimana kendaraan masuk kembali (ke atmosfer bumi) dan apakah ia mampu bertahan dari tekanan yang terkait dengan jarak ICBM."

Pada awalnya Amerika Serikat memperkirakan jangkauan Hwasong-14 antara 4.300 dan 5.900 mil, atau sekitar 7.000 hingga 9.500 kilometer, perkiraan ini kemudian direvisi. Menurut CSIS, Hwasong-14 kemungkinan memiliki jangkauan lebih dari 6.200 mil, atau lebih dari 10.000 kilometer.

"Berdasarkan performa (uji coba) 28 Juli, Hwasong-14 dapat memiliki jangkauan lebih dari 10.000 km jika diterbangkan dengan lintasan balistik maksimal. Ini cukup jauh bila hanya untuk mencapai Amerika Serikat," kata laporan CSIS baru-baru ini. "Jika memperhitungkan rotasi Bumi, yang memberikan dorongan jangkauan saat bepergian ke arah timur, area cakupan Hwasong-14 akan mencakup Pantai Barat, Chicago, dan bahkan mungkin New York." Prospek yang cukup menakutkan.

Hwasong-14
Persiapan peluncuran Hwasong-14 menunjukkan platform yang dapat dilepas, 4 Juli 2017. (Foto: KCNA)

Kejutan dari kapal selam
Pada 2019, Korea Utara menguji Pukguksong-3, rudal yang dimaksudkan untuk peluncuran dengan kapal selam. Pada saat uji coba, rudal itu tidak diluncurkan dari kapal selam, tetapi dari platform bawah laut. Dengan menggunakan teknik peluncuran cold-launch, Korea Utara mengeluarkan rudal dari wadah kedap air di bawah laut menggunakan gas bertekanan dan ke udara — tidak semudah yang dibayangkan.

Meskipun ini merupakan prestasi teknologi yang mengesankan untuk Korut, namun yang menjadi masalah saat ini adalah kapal selamnya. Korea Utara hanya memiliki satu kapal selam eksperimental yang diketahui mampu membawa rudal balistik. Korea Utara masih berusaha membangun armada kapal selam yang mampu meluncurkan Pukguksong-3.

Mengingat Pukguksong-3 yang masih baru, sedikit informasi yang tersedia mengenai jangkauan atau muatannya, meskipun Korea Utara mungkin akan melengkapinya dengan hulu ledak nuklir jika memungkinkan.

Pukguksong-3
Gambar ini dirilis Kamis, 3 Oktober 2019, oleh surat kabar pemerintah Korea Utara, Rodong Sinmun, yang dimaksudkan untuk menunjukkan uji coba rudal balistik Pukguksong-3 yang diluncurkan dari bawah laut dari hari sebelumnya. (Foto: Rodong Sinmun)

Pencegahan Strategis
Eksistensi Korea Utara sangat bergantung pada mempertahankan penangkal militer yang berfungsi dan kredibel. Rudal adalah jawaban untuk Kerajaan Pertapa itu, karena kemampuan militer konvensional Korea Utara dalam banyak hal sangat ketinggalan jaman dan usang. Dalam kondisi seperti ini, akankah Korea Utara menyerahkan stok nuklirnya? Rasanya sulit. (NI)

Kamis, April 02, 2020

Rusia Mulai Produksi Massal S-350 Vityaz

S-350 Vityaz
S-350 Vityaz (Gambar: Vitaly V. Kuzmin/vitalykuzmin.net)

Sistem ini dirancang sebagai “benteng terakhir” pertahanan rudal Rusia. Ia akan mencegat dan menghancurkan target udara yang berhasil menghindari S-400.

Rusia telah memulai produksi massal “adik” sistem pertahanan udara utamanya, S-400 Triumf.

Dinamai S-350 Vityaz, sistem rudal pertahanan udara ini bertugas untuk mengeliminasi segala rudal, jet tempur, dan target udara lainnya yang entah bagaimana berhasil menghindari sistem pertahanan udara S-400.

Tak sepertinya “kakaknya” yang mampu menyerang target pada jarak 100 – 400 kilometer, Vityaz diciptakan untuk menjangkau target jarak pendek dan menengah hingga 60 kilometer.

Kompleks pertahanan rudal ini memiliki peluncur gerak otomatis dan radar yang mampu menyisir hingga 360 derajat.

“Ini terutama sangat efektif melawan rudal yang terbang rendah dan target udara yang mencoba menggabungkan pola radarnya dengan medan di bawahnya supaya tak terdeteksi,” kata Viktor Murakhovsky, pemimpin redaksi majalah Arsenal Otechestva, kepada Russia Beyond.

Ia menjelaskan, S-350 Vityaz dilengkapi dua rudal jarak pendek dan menengah. Rudal jarak pendek mendeteksi dan menghancurkan target dengan suar inframerah (termal), yang satu lagi menggunakan sistem penjejak radar independen (active radar homing).

Satu divisi Vityaz terdiri atas empat peluncur dengan 12 misil antirudal siap tempur dan 24 lainnya sebagai cadangan. Itu berarti, setiap S-350 memiliki 144 rudal yang bisa digunakan untuk melindungi segala fasilitas dari serangan rudal apa pun (yang berhasil menembus pertahanan S-400).

S-350 Vityaz
S-350 Vityaz (Gambar: Vitaly V. Kuzmin/vitalykuzmin.net)

Menurut Murakhovsky, Vityaz dapat menembak jatuh AGM-86 ALCM (rudal jelajah peluncuran udara) atau ARM-158 JASSM (rudal jelajah peluncuran udara minim jejak), serta menangkis serangan skuadron F- 5, F-16, dan F/A Hornet. Namun, pesawat tempur generasi kelima seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II hanya bisa “dihadang” oleh S-400.

“Misil-misil S-350 dapat digunakan untuk mengusir serangan besar-besaran. Inilah perbedaan utama sistem tersebut dari S-400. Sang ‘kakak’ dirancang untuk menghancurkan pesawat dan rudal yang paling sulit dideteksi, tetapi tidak memiliki cukup amunisi untuk target yang ‘lebih sederhana’,” tambah sang ahli.

Spesifikasi Kinerja S-350 Vityaz
Jumlah maksimum target yang ditembakkan secara bersamaan:
  • target aerodinamis/terbang rendah — 16
  • rudal balistik — 12
Jumlah maksimum rudal ditembakkan yang secara bersamaan : 32

Cakupan udara:
  • jangkauan — 1,5 km – 60 km
  • ketinggian — 10 m – 30 km
Durasi persiapan peluncuran: 5 menit

Selasa, Maret 31, 2020

Futlyar, Torpedo Masa Depan Kapal Selam Nuklir Rusia

Kapal selam kelas Borei Rusia
Kapal selam kelas Borei Rusia

Kapal selam nuklir kelas Yasen dan Borey Rusia akan dipersenjatai torpedo jarak jauh dan tercepat di dunia. Torpedo itu diklaim akan mengukuhkan kapal-kapal selam nuklir ini sebagai monster bawah laut sungguhan.

Pada awal Maret, Rusia telah menyelesaikan prototipe torpedo masa depan untuk kapal selam bertenaga nuklir kelas Yasen dan Borey yang baru. Demikian informasi tersebut diungkapkan Boris Obnosov, kepala Perusahaan Senjata Rudal Taktis (KTRV), sebuah perusahaan pertahanan milik negara.

Pengembangan ini merupakan bagian dari program modernisasi persenjataan militer sampai 2022 dan dijadwalkan mulai digunakan dalam dua tahun berikutnya (bertepatan dengan masa “purnabakti” persenjataan generasi sebelumnya).

Kapal selam kelas Yasen Rusia
Kapal selam kelas Yasen Rusia

Torpedo kapal selam Rusia saat ini
Saat ini, kapal selam Rusia dipersenjatai torpedo Shkval yang dibuat pada akhir abad ke-20.

Torpedo ini mampu melesat di bawah air dengan kecepatan hingga 375 km/jam. Sementara, laju kapal berkecepatan tinggi paling modern yang mengarungi lautan tak lebih dari 60 km/jam.

Pada dasarnya, tak ada kapal yang bisa menghindari Shkval. Rudal itu itu hanya dapat dicegat oleh senjata antitorpedo.

“Kecepatan tinggi justru menjadi kelemahan Shkval. Senjata bawah laut tercepat di dunia itu sangat bising sehingga sangat mudah terdeteksi sistem akustik kapal dan kapal selam, yang digunakan para pelaut untuk menentukan target musuh jauh di bawah air,” kata Vadim Kozyulin, seorang profesor di Akademi Ilmu Militer Rusia, kepada Russia Beyond.

Menurutnya, para insinyur terlalu fokus menciptakan torpedo tercepat di dunia sehingga mereka mengabaikan faktor-faktor lain.

“Dalam pertempuran bawah air, senjata paling efektif adalah senjata yang tidak dapat dideteksi oleh sistem akustik kapal selam musuh. Semakin tenang peluncuran dan pengoperasian mesin suatu senjata, semakin tinggi pula peluangnya mengenai musuh,” tambahnya.

Kozyulin menjelaskan, peluncuran Shkval sangat bising sehingga mengguncang kapal selam dan bisa didengar sejauh beberapa kilometer. Oleh karena itu, ia harus diganti dengan senjata yang lebih efektif dan modern.

Torpedo Shkval
Torpedo Shkval

Torpedo masa depan kapal selam Rusia

Nantinya, Shkval akan digantikan oleh sistem torpedo Futlyar.

Menurut pihak pengembang, rudal bawah laut ini lebih cepat, mampu menempuh jarak yang lebih jauh, dan, yang paling penting, lebih senyap.

Dari luar, torpedo baru itu menyerupai tabung hijau sepanjang tujuh meter dengan moncong pipih (tak berbeda dengan bomber Su-34, yang dijuluki platipus karena bentuk "paruhnya"). Selain itu, ia dilengkapi dengan sirip ekor untuk bermanuver di bawah air.

Salah satu perbedaan utama Futlyar dibandingkan pendahulunya adalah “jantungnya”, atau lebih tepatnya, mesin piston aksialnya.

“Para ilmuwan telah berhasil mengurangi kebisingan torpedo secara signifikan dengan mengembangkan kembali konsep mesin torpedo bawah air dan gerakan pistonnya yang terhubung pada poros,” kata Kapten Cadangan Angkatan Laut Tingkat III Dmitry Litovkin kepada Russia Beyond.

Dari pernyataan militer Rusia, Futlyar akan mampu menghantam kapal dan kapal selam musuh pada jarak 60 km. Kali ini, torpedo akan meluncur melalui air menuju target dengan kecepatan lebih dari 65 knot (hampir 120 km/jam).

“Radius serangan Futlyar lebih unggul daripada torpedo AS paling modern, Mk48 Mod 7 Spiral,” tambah Litovkin.

Dia juga mengklarifikasi bahwa Futlyar ditujukan untuk kapal selam tipe Yasen (Proyek 885) dan tipe Borey (Proyek 955). Masing-masing kapal selam itu dilengkapi dengan kompartemen torpedo untuk memuat 30 dan 40 rudal bawah air. Dengan demikian, setiap kapal selam generasi baru akan dilengkapi dengan puluhan torpedo kelas Futlyar.

Demi menciptakan armada laut yang kuat, Uni Soviet berambisi membangun ‘monster-monster laut’. Namun, proyek-proyek ini gagal diproduksi karena berbagai alasan. (Russia Beyond)

Minggu, Maret 01, 2020

Bom MOAB 'Mother of All Bomb' - Bom Terbesar Amerika Serikat

Nama lengkapnya GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) adalah sebuah bom besar konvensional yang dikembangkan oleh Albert L.Weimort, Jr untuk Militer Amerika Serikat.

Dijuluki sebagai "Mother of All Bomb". Disebut-sebut sebagai bom non-nuklir paling kuat yang pernah ada. Moab dirancang bukan untuk dibawa jet tempur tapi untuk pesawat pengangkut sekelas C-130 Hercules, MC-130E Combat Talon I atau Combat Talon II.

MOAB adalah proyek Laboratorium penelitian Teknologi Angkatan Udara Amerika Serikat yang dimulai pada tahun 2002 lalu, sebagai turunan dari bom BLU-82 "Buster Jungle". MOAB sukses menjalani test di Eglin Air Force Base, Florida pada tanggal 11 Maret 2003 dan test selanjutnya pada tanggal 11 November 2003.

Bom MOAB di Eglin Air Force Base Amerika Serikat
Bom GBU-43 / B atau MOAB di Eglin Air Force Base Amerika Serikat

MOAB memiliki panjang 9,17 m, diameter 102,9 cm dan memiliki bobot 10,3 ton. Dari 10,3 ton bobot MOAB, 8,5 ton-nya adalah high explosive. Radius ledakan mencapai 137 m dan dengan gelombang kejut yang besar dikatakan mampu menghancurkan area seluas sembilan blok kota. Karena ukuran dan beratnya yang besar, bom MOAB dirancang untuk dijatuhkan dari ekstraksi parasut yang keluar dari belakang pesawat Hercules C-130.

MOAB berisi 8,5 ton bahan peledak H6 yang 1,35 kali lebih kuat dari bahan peledak TNT. H6 adalah bahan peledak non-nuklir terkuat yang digunakan oleh militer AS. Merupakan kombinasi dari eksplosif RDX (trinitramine Cyclotrimethylene), TNT dan aluminium.

Pencipta bom MOAB
Al Weimorts (kiri), pencipta bom MOAB memeriksa prototipe sebelum dicat dan diuji

Meskipun efek ledakan bom MOAB tidak patut dibandingkan dengan bom nuklir, hanya sekitar 1/1000 dari kekuatan Little Boy (nama bom nuklir yang dijatuhkan AS di Hirosima, Jepang), namun hasil ledakan bom MOAB sebanding dengan dengan bom Nuklir terkecil seperti M-388 Davy Crockett. Ledakan bom MOAB setara dengan 11 ton TNT sedangkan ledakan Little Boy setara dengan 15.000 ton TNT.

Bom MOAB
Bom MOAB sesaat sebelum dijatuhkan pada saat uji coba di Eglin

Pada tahun 2003 sebuah bom MOAB dibawa ke Teluk Persia guna mendukung kampanye Perang Irak namun tidak pernah digunakan. Diperkirakan hanya dibuat sekitar 15 unit sejak 2003 hingga saat ini.

Bom FOAB 'Father of All Bomb' - Bom Non Nuklir Terkuat di Dunia

Jika artikel sebelumnya adalah tentang bom GBU-43/B (bom MOAB) Amerika, maka artikel ini adalah tentang bom FOAB "Father of All Bomb" Rusia. Entah apakah bom FOAB ini sengaja dibuat oleh Rusia hanya karena untuk menyaingi bom MOAB Amerika atau memang karena teknologi Rusia telah mencapai titik itu atau karena keduanya.

Nama asli bom buatan Rusia ini adalah Aviation Thermobaric Bomb of Increased Power (ATBIP). Dijuluki sebagai "Father of All Bomb" FOAB.

Dalam menggambarkan kekuatan dekstruktif dari bom FOAB ini, mantan Deputi Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Alexander Rushkin mengatakan: "Bahwa semua yang hidup akan menguap". Bom FOAB dilaporkan 4 kali lebih dahsyat dari bom GBU-43/B (Bom MOAB "Mother of All Bomb") Amerika Serikat. Dan diyakini sebagai bom konvensional non-nuklir terkuat di dunia.

FOAB telah berhasil melewati uji cobanya pada malam hari 11 September 2007. Menurut militer Rusia, senjata ini akan menggantikan bom-bom nuklir kecil mereka.

bom terbesar Rusia bapak dari segala bom
Bom FOAB
Perangkat Thermobaric dapat menghasilkan kekuatan setara 44 ton TNT. Karena itu, ledakan bom dan gelombang kejutnya memiliki efek yang sama dengan bom nuklir kecil taktis meskipun masih pada skala yang lebih kecil.

Bom FOAB bekerja dengan cara diledakkan di udara. Sebagian besar kerusakan akan diakibatkan oleh suhu panas dan gelombang kejut supersonik yang membakar/menghanguskan segala sesuatu di sekitarnya.

Walaupun bukan merupakan bom Nuklir, bom FOAB juga berbeda dari bom-bom konvensional lainnya dalam hal gelombang yang dihasilkan. Ledakannya berkelanjutan dengan suhu yang lebih tinggi. Bom FOAB menebar wilayah kerusakan yang lebih luas ketimbang bom konvensional yang sama massanya.

Menurut Rushkin, bom ini lebih kecil dari MOAB tetapi lebih mematikan karena suhu di area ledakan 2 kali lebih tinggi. Dia juga mengatakan kekuatan bom ini sebanding dengan nuklir tapi tidak memiliki reaksi radioaktif sehingga tidak merusak atau mencemari lingkungan di luar radius ledakan.

dengan gelombang kejut dan suhu yang luar biasa
Ledakan bom FOAB
Sebagai perbandingan, MOAB menghasilkan ledakan setara dengan 11 ton TNT dari 8,5 ton bahan peledaknya. Tingkat kerusakan MOAB adalah radius 150 meter. Nah, FOAB di klaim lebih kuat, dengan bobot bahan peledak seberat 7,1 ton mampu menghasilkan ledakan setara dengan 44 ton TNT dan dengan tingkat kerusakan radius 300 meter. Bila memang betul, ini berarti 2 kali lipat lebih jauh dalam hal radius ledakan dengan suhu yang dihasilkan dua kali lebih tinggi pula. Meskipun tentang hal ini analisis-analisis pertahanan Amerika Serikat sempat mempertanyakan kebenaran akan massa bahan peledak bom FOAB tersebut.



Beberapa analisis pertahanan mempertanyakan apakah bom FOAB tersebut bisa dibawa oleh pesawat bomber Tupolev. Laporan dari majalah online Wired mengatakan bahwa dilihat dari foto dan video event tersebut mengindikasikan bahwa bom ini dirancang untuk digunakan dari bagian belakang pesawat kargo yang bergerak lambat, dan juga mengatakan bahwa test bom yang dirilis oleh Rusia ini tidak menggambarkan bom dan pesawat bomber tersebut dalam camera shoot yang sama.

Ada juga pertanyaan tentang jenis peledak yang digunakan. Menurut kutipan dari Tom Burky, ilmuwan senior peneliti di Battele yang mengatakan: "Ini tidak menjelaskan tentang jenis peledak apa yang digunakan oleh bom FOAB ini saat diuji". Apakah memang itu benar sebuah bom Thermobaric atau itu adalah "bahan bakar udara eksplosif" seperti yang dikenal oleh para ahli. Bom bahan bakar udara dan bom Thermobaric berbeda dalam penerapannya. Burky mengatakan bahwa bom yang digunakan dalam video tersebut mirip dengan ledakan bahan bakar udara.

Philip Coyle, penasehat informasi pertahanan Washington DC Center, mengatakan bahwa ia skeptis tentang bom FOAB ini. "Ledakannya memang lebih besar dari MOAB" ia mengakui. "Tapi tidak 4 kali lebih besar dari MOAB, mungkin hanya 50 persen lebih besar".

Namun John Pike, seorang analisis di Global Security mengatakan walaupun ia juga merasa skeptis tapi ia percaya dengan klaim Rusia atas kekuatan bom FOAB tersebut. Mengapa? Karena itu memang bukan teknologi baru bagi Rusia. Dia menambahkan bahwa Rusia telah memiliki berbagai senjata berteknologi Thermobaric setidaknya dalam 4 dekade terakhir.

Robert Hewson, editor Jane, mengatakan kepada BBC kemungkinan besar bom FOAB ini adalah memang bom non-nuklir terbesar di dunia. "Anda bisa saja mempertanyakan tentang angka dan skala bom ini, tapi perlu anda ketahui bahwa Rusia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan senjata kelas Thermobaric", katanya. (Wired/wikipedia/youtube)

Senin, April 22, 2019

S-350 Vityaz, ‘Benteng Terakhir’ Pertahanan Rudal Rusia

S-350 Vityaz

Senjata baru ini didesain sebagai “benteng terakhir” pertahanan rudal Rusia. Sistem pertahanan ini akan mencegat dan menghancurkan pesawat musuh yang berhasil menghindari sistem pertahanan udara lainnya.

Pertengahan bulan ini, Rusia telah menyelesaikan uji coba sistem rudal anti-pesawat jarak dekat dan jarak menengah generasi baru S-350 Vityaz. Sistem ini mewakili eselon terakhir pertahanan rudal Rusia. Vityaz bertugas untuk mengeliminasi rudal dan jet tempur musuh yang entah bagaimana berhasil menghindari sistem pertahanan udara lainnya.

Spesialisasi S-350 adalah mencegat target yang terbang rendah, yaitu tipe rudal jelajah “memeluk medan” (teknologi yang memungkinkan rudal terbang dengan sangat rendah dan secara otomatis menjaga ketinggian relatif konstan di atas permukaan tanah -red.), serta UAV atau pesawat tanpa awak berukuran besar.

Karena itu, S-350 dilengkapi dengan sebuah radar kecil anti-rudal baru dengan penuntun panas inframerah. Selain itu, salah satu rudal dengan penuntun radar aktif dari “kakaknya”, S-400, secara khusus disesuaikan untuk S-350.

Keunggulan S-350

S-350 Vityaz

Vityaz yang baru berisi peluncur gerak otomatis dengan 12 misil antirudal di dalamnya dan radar yang mampu menyisir hingga 360 derajat (sistem pertahanan udara AS Patriot hanya mampu memindai dengan jangkauan 180 derajat).

Selain itu, S-350 memiliki tak kurang dari tiga peluncur, yang memungkinkannya untuk menyerang 36 rudal sekaligus.

“Vityaz akan sangat efektif bersama S-400 yang baru. Bayangkan saja, S-400 akan menjatuhkan jet-jet tempur dan bomber musuh pada jarak 500 km, sementara S-350 akan menangkis serangan massal rudal jelajah,” kata Dmitry Safonov, mantan analis militer untuk surat kabar Izvestia.

Meski S-350 difokuskan untuk menghancurkan target terbang rendah, sang pakar percaya bahwa sistem tersebut pun bisa mengeliminasi ancaman lain ketika diperlukan.

“Sistem tersebut tak peduli dengan apa yang ia tembak. Itu bisa berupa peluru kendali, rudal balistik, atau rudal jelajah, bom udara, proyektil kendali berpresisi tinggi, pesawat terbang (jet tempur dan pesawat serang), helikopter, atau drone mata-mata dan serang. S-350 diciptakan untuk melawan segala macam target,” katanya.

Selain itu, kompleks rudal tersebut mampu bertahan terhadap gradien temperatur (laju yang menunjukan penurunan suhu sebesar 0,6° setiap kenaikan ketinggian 100 meter) dari -50 hingga 50 °C, dan mampu beroperasi ketika terpapar segala jenis gangguan radio musuh.

“Perlu dicatat bahwa pengembangan dari proyek KM-SAM, yang dirancang khusus untuk Korea Selatan, digunakan dalam sistem baru tersebut. Secara keseluruhan, S-350 memiliki potensi besar di pasar senjata. Sistem itu dapat melengkapi kontrak pengiriman S-400 dengan Turki, India, dan Tiongkok karena kemampuannya untuk mengenai rudal pada jarak dekat. Saudaranya yang lebih tua, S-400, beroperasi pada jarak 100 km,” tambah Safonov.

Spesifikasi Kinerja S-350 Vityaz

S-350 Vityaz

Jumlah maksimum target yang ditembakkan secara bersamaan:
- Target aerodinamis/terbang rendah — 16
- Rudal balistik — 12

Jumlah maksimum rudal ditembakkan yang secara bersamaan — 32

Cakupan udara:
- Jangkauan — 1,5 km – 60 km
- Ketinggian — 10 m – 30 km

Resources

Kamis, Oktober 18, 2018

Ketangguhan Sistem Rudal Pertahanan Udara S-400 Triumf Rusia

S-400 Triumf

S-400 Triumf (nama pelaporan NATO: SA-21 Growler) adalah sistem rudal pertahanan udara jarak jauh dan menengah buatan Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan target udara, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah, serta pesawat siluman, bahkan dalam situasi serangan udara massal dan peperangan elektronik.

Pengembangan dan induksi ke militer

Pekerjaan pada desain konseptual dari S-400 titik awalnya ditunjuk sebagai S-300PM3 yang diluncurkan oleh asosiasi penelitian dan produksi Almaz pada pertengahan 1980-an di bawah pengawasan Chief Designer Alexander Lemansky. Pekerjaan ini diintensifkan pada akhir 1990-an dan pada 12 Februari 1999 sistem ini diuji coba untuk pertama kalinya di lokasi latihan Kapustin Yar wilayah Astrakhan.

S-400 Triumf
S-400 Triumf selama pengujian di Saint Petersburg (AP Photo / Dmitry Lovetsky)

S-400 Triumf
S-400 Triumf adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan menengah Rusia yang dirancang untuk menyerang pesawat serta target udara lainnya di bawah kondisi tembakan musuh yang intensif dan penanggulangan elektronik (Sergei Malgavko / TASS)

Pada tanggal 28 April 2007, S-400 mulai beroperasi dan batalyon pertama S-400 melaksanakan tugas tempur pada 6 Agustus di kota Elektrostal (Wilayah Moskow). Enam minggu kemudian, Pada tanggal 27 September 2007, pengembang Triumf, Alexander Lemansky yang masih sempat menyaksikan sistem rudalnya rancangannya masuk ke dalam lini produksi, meninggal di lokasi latihan Kapustin Yar. Latihan live-fire pertama S-400 berhasil dilakukan di lokasi latihan Kapustin Yar pada tahun 2011.

S-400 didasarkan pada sistem rudal pertahanan udara S-300PMU2. Perbedaan dengan pendahulunya adalah jangkauan tempurnya yang lebih jauh dan kemampuan menggunakan sistem rudal permukaan ke udara baru. S-400 mampu mendeteksi dan menghancurkan target udara yang low-observable (siluman) dan yang bergerak cepat.

S-400 dan bagian integralnya

S-400 Triumf terdiri dari:
  • pos kontrol tempur;
  • jam-resistant phased array radar tiga koordinat untuk mendeteksi target udara;
  • enam - delapan kompleks rudal pertahanan udara (dengan hingga 12 transporter-peluncur, dan radar deteksi dan iluminasi empat koordinat multifungsi;
  • sistem pendukung teknis;
  • kendaraan pengangkut rudal;
  • simulator pelatihan.

Sistem S-400 juga dapat ditambahkan radar ketinggian (detektor) dan tower bergerak untuk pos antena. Semua sarana S-400 dipasang pada sasis semua kendaraan beroda (diproduksi oleh Minsk Wheeled Tractor Factory dan Bryansk Automobile Enterprise) dan dapat diangkut dengan kereta api, laut, dan transportasi udara.

S-400 Triumf
S-400 resimen rudal Distrik Militer Selatan Rusia dalam tugas tempur (Sergei Malgavko / TASS)

S-400 Triumf
S-400 telah dioperasikan Angkatan Bersenjata Rusia sejak 2007 (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 dapat beroperasi secara selektif dengan menggunakan tidak kurang dari 5 jenis rudal berbagai bobot lepas landas dan jangkauan untuk menciptakan zona pertahanan udara berlapis.

S-400 juga mampu mengendalikan sistem rudal pertahanan udara lainnya, seperti Tor-M1, Pantsyr-S1, menyediakan pertahanan udara yang sangat efektif bahkan di tengah serangan udara massal dengan menggunakan peralatan peperangan elektronik.

Karakteristik teknis

Karakteristik teknis S-400:
  • jangkauan pendeteksian target - hingga 600 km;
  • jangkauan sasaran tembak aerodinamis - dari 3 hingga 250 km;
  • jarak pencegatan rudal balistik taktis - dari 5 hingga 60 km;
  • ketinggian pencegatan target - dari 2 hingga 27 km;
  • kecepatan target - hingga 17.300 km / jam;
  • jumlah target yang terlibat dalam satu waktu - hingga 36 (maksimal enam dalam satu kompleks;
  • jumlah rudal yang dipandu secara bersamaan - 72;
  • persiapan tempur dari posisi pawai - 5-10 menit, waktu untuk membuat sistem siap tempur dari posisi pengerahan - 3 menit;
  • usia pakai - tidak kurang dari 20 tahun, rudal pertahanan udara - tidak kurang dari 15 tahun;

Wakil Panglima Angkatan Udara Rusia Viktor Gumyonny mengatakan pada 8 April 2017 bahwa rudal yang mampu "menghancurkan target di luar angkasa, pada jarak jauh dan kecepatan besar" telah mulai datang untuk sistem S-400.

S-400 Triumf
Unit S-400 Baltik Rusia dalam sebuah latihan (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 Triumf
Latihan oleh unit pertahanan udara Baltik Rusia yang melibatkan sistem rudal pertahanan udara Triumf S-400 (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 di di Angkatan Bersenjata Rusia

Berdasarkan informasi-informasi publik, 19 resimen yang dipersenjatai dengan kompleks S-400 sedang dalam tugas tempur di Angkatan Bersenjata Rusia per April 2017. Secara keseluruhan, resimen ini termasuk total 38 batalion dan 304 peluncur di Elektrostal, Dmitrov, Zvenigorod, Kurilovo (wilayah Moskow), Nakhodka (Wilayah Primorye), Kaliningrad, Novorossiysk (Wilayah Krasnodar), Polyarny (Wilayah Murmansk), Petropavlovsk-Kamchatsky (Wilayah Kamchatka), Novosibirsk, Vladivostok, Sevastopol dan tempat-tempat lain.

Rusia melalui program persenjataan negara memerintahkan pemenuhan 56 batalion S-400 untuk pasukannya pada tahun 2020.

S-400 Triumf
Tentara hormat di dekat sistem rudal S-400 Triumf yang ditempatkan di sebuah unit militer di kota Elektrostal, wilayah Moskow (Marina Lystseva / TASS)

S-400 Triumf
S-400 yang dikerahkan Rusia di pangkalan udara Hmeymim di Suriah (Vadim Savitsky / Russian Defense Ministry Press)

Selasa, Agustus 14, 2018

Rudal Balistik Iskander: Pembunuh Kapal Terbaru Rusia

Rudal balistik Iskander-M

Sebelumnya, China mengembangkan rudal balistik "pembunuh kapal induk" jarak jauh. Sekarang, sistem rudal balistik Iskander Rusia mungkin memiliki tujuan yang sama.

Pada akhir Juli dan awal Agustus tahun ini, Rusia telah melakukan dua kali melakukan simulasi "peluncuran elektronik" dari sistem rudal balistik 9K720 Iskander-M (kode NATO, SS-26 Stone) terhadap target kapal di Laut Hitam, menurut media Rusia.

Peluncuran elektronik merupakan simulasi pertempuran lapangan di mana pasukan unit rudal menyiapkan dan melakukan semua prosedur untuk peluncuran rudal balistik di dunia nyata tapi tidak menembakkan rudal yang sesungguhnya.

Tapi rudal apa persisnya yang akan diluncurkan Rusia itu? Rudal balistik Iskander, dikembangkan pada tahun 1970 sebagai pengganti rudal Scud yang fenomenal, adalah sistem peluncuran mobile yang dapat menembakkan beberapa jenis rudal balistik dan jelajah. Iskander-M adalah rudal balistik satu tahap, dipersenjatai dengan hulu ledak konvensional atau nuklir, dan jangkauan 500 kilometer.

Namun, laman berita Rusia Beyond menjelaskan bahwa sistem rudal Iskander juga dapat menembakkan versi anti-kapal dari rudal jelajah R-500 Kalibr dengan jangkauan 500 kilometer.

"Rudal-rudal ini disetel ulang untuk menargetkan kapal perusak kelas kedua dan ketiga - pada dasarnya kapal yang mampu membawa rudal Tomahawk dan bagian dari sistem pertahanan rudal balistik Aegis," dikutip dari dalam Rusia Beyond.

Rudal anti-kapal ini dapat terbang menuju target mereka dengan kecepatan 2.000 kilometer per jam. Mereka juga dapat terbang rendah di atas ai r- di ketinggian hanya 5 hingga 10 meter, yang berarti hampir tidak mungkin sistem rudal pertahanan berbasis laut apapun mencegatnya. Hulu ledaknya berkisar antara 200 hingga 500 kilogram. Hulu ledak yang lebih kecil biasanya ditargetkan untuk kapal perusak, sedangkan yang lebih besar ditujukan untuk kapal penjelajah.

"Tidak ada yang mampu lari dari para pembunuh ini," Rusia Beyond secara dramatis menyatakan.

Tetapi implikasi dari latihan Rusia tersebut - dan publisitas di media Rusia - jelas. Rusia mengirim pesan bahwa itu dapat menggunakan rudal balistik - atau setidaknya peluncur rudal balistik - sebagai senjata anti-kapal.

Sementara China mungkin banyak mengkloning banyak senjata Rusia, Rusia mungkin mengambil ide dari rudal "pembunuh kapal induk" dari China, yang mana rudal yang dimaksud adalah rudal balistik jarak menengah DF-26.

Meskipun DF-26 membuat Angkatan Laut AS khawatir akan keselamatan kapal induknya, rudal balistik pembunuh kapal induk masih merupakan senjata yang belum teruji, yang masih dihantam oleh pertanyaan seperti kemampuan mereka untuk target bergerak jarak jauh seperti kapal.

Tetapi juga perlu perhatikan bahwa DF-26 memiliki kisaran perkiraan 4.000 km, lebih jauh daripada rudal Kalibr atau Iskander-M. Rudal 500 km seperti Kalibr dan Iskander-M mungkin baik sebagai senjata pertahanan pantai di perairan terbatas seperti Baltik atau Laut Hitam, untuk mencegah kapal NATO mendekati wilayahnya, tapi itu bukan senjata penyangkalan akses jarak jauh.

Pertanyaannya adalah: Jika Rusia dapat meluncurkan rudal jelajah anti-kapal jarak pendek dari peluncur rudal balistik, lalu mengapa Rusia tidak meluncurkan rudal balistik jarak jauh seperti yang dilakukan China? (fr)

Jumat, Agustus 03, 2018

Keunggulan Sistem Rudal Pertahanan Udara Patriot AS

Sistem rudal pertahanan udara Patriot

Raksasa industri pertahanan Amerika Serikat, Raytheon, akan mengirim sistem rudal pertahanan udara Patriot ke Swedia, setelah menandatangani kontrak pembelian senjata yang telah menjadi standar anti-udara militer Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, 2 Agustus 2018, Swedia memang bukan anggota NATO, namun Swedia memiliki hubungan erat dengan aliansi NATO dan telah memperkuat militernya seiring meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina di Crimea.

Swedia dilaporkan akan membeli empat unit sistem rudal Patriot. Swedia memang memiliki sistem pertahanan udara sendiri, namun tidak dapat menembak jatuh rudal balistik.

Dilansir dari missilethreat.csis.org, Patriot MIM-104 adalah sistem rudal pertahanan udara utama Angkatan Darat AS. Awalnya dirancang sebagai sistem anti-pesawat, namun sistem rudal Patriot mendapat perhatian dalam Perang Teluk 1991 ketika digunakan sebagai pertahanan terhadap rudal-rudal Irak.

Sejak itu sistem rudal Patriot mendapat reputasi sebagai pertahanan terhadap rudal balistik taktis, tetapi tetap mampu melawan ancaman udara seperti pesawat tempur. Saat ini 13 negara telah mengoperasikan sistem rudal Patriot. Sistem rudal Patriot terdiri dari peluncur rudal, radar, unit komando jarak jauh dan unit kontrol serta peralatan pendukung lainnya.

Sistem rudal pertahanan udara Patriot

Gagasan sistem pertahanan udara menggunakan rudal pencegat pertama kali dicanangkan pada tahun 1961 oleh US Army Mission Command dan pada 1965 dimasukkan dalam program pengembangan SAM-D.

Sistem ini awalnya dirancang sebagai baterai pertahanan anti-pesawat, tetapi kemudian dikembangkan untuk pertahanan beragam target udara.

Uji coba dimulai lima tahun kemudian pada 1970, dengan pengembangan skala penuh dimulai pada 1976. Program SAM-D mengambil nama Patriot selama US Bicentennial pada 1976. Pada 1985, Angkatan Darat Amerika Serikat menyatakan sistem rudal Patriot beroperasi penuh dalam sistem persenjataan mereka.

Versi awal Patriot menggunakan rudal MIM-104A, juga dikenal sebagai versi standar, seperti dilansir dari Military Today. Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 100 kilometer. Rudal dilengkapi dengan hulu ledak fragmentasi yang meledak pada hantaman langsung atau dipicu oleh detonator.

Sistem rudal pertahanan udara Patriot

Versi pertama sistem rudal Patriot digunakan secara eksklusif sebagai senjata anti-pesawat. Awalnya sistem rudal Patriot tidak memiliki kemampuan melawan rudal balistik, namun kemampuan ini diperkenalkan pada akhir 1980-an ketika Patriot menerima perbaikan sistem secara besar-besaran untuk pertama kali.

Sistem pertahanan udara ini memiliki empat rudal untuk setiap peluncur. Rudal disimpan dan diluncurkan dari tabung aluminium yang dipasang pada sudut tetap.

Peluncur dipasang pada trailer menggunakan casis 8x8. Sistem pertahanan rudal Patriot adalah unit mandiri, yang memiliki daya listrik dan bahan bakar sendiri.

Peluncur ditarik oleh truk traktor Oshkosh M983 8x8 atau truk traktor lainnya. Versi bergerak sistem rudal Patriot menggunakan kendaraan mobilitas tinggi MAN KAT 1 8x8. Dibutuhkan 30 menit untuk menyiapkan posisi siap tembak. Sementara baterai peluncur dan kendaraan pendukung terkait dapat diubah posisi dan lokasinya.
Sistem rudal pertahanan udara Patriot
Patriot PAC-2 dan 3 (Patriot Advanced Capability) dapat mendeteksi 100 target yang berbeda dan mampu melibatkan sembilan rudal secara bersamaan. Sistem rudal Patriot dapat melaju hingga kecepatan mach 2 dengan jangkauan maksimal 70 km dan ketinggian 24 km. PAC-2 telah terbukti keampuhannya menghadang rudal Scud di Perang Teluk, dan PAC-3 adalah pengembangan dari PAC-2

Baterai sistem rudal Patriot atau unit tembak adalah elemen operasi dasar. Biasanya unit ini termasuk pos komando, radar, 8 peluncur dan kendaraan pendukung. Baterai dapat mencegat hingga 8 target secara bersamaan. Jika dimodifikasi, baterai sistem rudal Patriot dapat dipasang hingga 16 peluncur. Sementara untuk pertahanan efektif, baterai sistem rudal Patriot ditempatkan dengan jarak 30-40 kilometer pada jarak masing-masing unit baterai.

Radar mampu melacak pesawat jet tempur pada jarak 110-130 kilometer, pesawat pembom pada jarak 160-190 kilometer, rudal pada jarak 85-100 kilometer dan hulu ledak rudal di kisaran jarak 60-70 kilometer. Sistem rudal Patriot juga dapat menerima data target dari pos komando pusat atau pesawat pengintai, seperti E-3 Sentry.

Umumnya perintah penembakan sistem rudal Patriot dikeluarkan oleh pos komando batalion. Pos komando baterai sistem rudal Patriot dapat memberikan perintah tembak tanpa konfirmasi jika menghadapi situasi darurat, misalnya diserang tiba-tiba atau ketika komunikasi dengan pusat komando terhambat atau hilang karena kerusakan.


Resources
  • https://dunia.tempo.co/read/1113091/ini-keunggulan-sistem-pertahanan-rudal-patriot-amerika-serikat

Rabu, Juli 18, 2018

Mengenal Kh-29, Rudal ASM Andalan Sukhoi TNI AU

Kh-29TE

Rudal Vympel Kh-29 atau X-29 (kode NATO: AS-14 'Kedge') yang dalam inventori Departemen Pertahanan Rusia diberi kode 9M721 mulai digunakan dalam jajaran dinas AU Rusia (Uni Soviet kala itu) sejak tahun 1980. Hingga kini Kh-29 masih menjadi salah satu rudal udara ke permukaan (ASM - air to surface missile) paling berbahaya.

Pembuatan rudal ini dimulai tahun 1975 oleh biro desain Molniya di Ukraina yang sebelumnya telah melahirkan rudal udara ke udara semacam R-8, R-4 (K-80) dan R-40.

Dibandingkan dengan rudal AGM-65 buatan Hughes Missile Systems/Raytheon Amerika Serikat, kehadiran Kh-29 memang delapan tahun lebih lambat. AU AS mulai menggunakan AGM-65 Maverick sejak 1972 dan kini telah memasuki masa operasional 42 tahun serta digunakan oleh lebih 30 negara.

Rudal Kh-29 pertama kali diuji coba tahun 1976 dan terus disempurnakan hingga akhirnya masuk ke dalam jajaran arsenal AU Uni Soviet. Setahun berikutnya, pengembangan Kh-29 dilanjutkan oleh biro desain Vympel di Tushino dekat Moskow karena Molniya beralih ke proyek ruang angkasa.

Pada awal masa operasional, rudal Kh-29 menjadi senjata ampuh bagi armada pesawat penyerang darat Su-24M "Fencer". Rudal ini tercatat banyak digunakan perang Iran-Irak.

Rudal dengan panjang 3,9 m dan diameter 38 cm (40 cm lebih panjang dan 8 cm lebih besar dari Maverick). Dilengkapi hulu ledak seberat 320 kg, berarti lebih banyak dari hulu ledak Maverick yang berkisar antara 37-136 kg. Bobot keseluruhan rudal Kh-29 adalah 660-690 kg, atau lebih dua kali bobot Maverick yang 210-304 kg.

Dari sisi kecepatan terbang, Kh-29 mampu terbang dengan kecepatan 1.470 km/jam, atau lebih cepat dibanding Maverick yang 1.150 km/jam. Dibandingkan dari berbagai sisi, rudal Vympel Kh-29 dapat dikatakan memang lebih superior ketimbang AGM-65 Maverick buatan AS.

Tidak salah bila rudal Kh-29 didesain untuk menghancurkan sasaran yang lebih besar dari apa yang dapat dihancurkan Maverick. Kh-29 dapat menghancurkan infrastruktur seperti gedung industri, depot senjata, jembatan, shelter pesawat, landasan beton, hingga kapal dengan bobot benaman 10.000 ton.

Kh-29TE

Dari sisi kompatibilitas penggunaannya, Kh-29 dapat diluncurkan dari Su-22, Su-24, Su25, MiG-27, MiG-29, Su-27/30, Su-33, Su-34, dan bahkan penempur baru Su-35. Sementara Maverick dapat diluncurkan dari pesawat F-16, F-15, F/A-18, AV-8B, A-10, Hawk 100/200 dan beberapa pesawat baru seperti FA-50 dari Korea Selatan.

Di medan perang, Maverick tercatat lebih banyak digunakan di perang-perang besar. Termasuk dalam Operasi Badai Gurun di Irak tahun 1991. Sebanyak 5.000 rudal ini diluncurkan untuk menghancurkan kendaraan-kendaraan lapis baja Irak. Kemudian tahun 2003 sekira 1.000 rudal ini kembali diluncurkan dalam Operasi Iraqi Freedom.

TNI AU telah melengkapi armada Flanker Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin dengan rudal Kh-29T dan Kh-29TE (extended range).

Tidak ada perbedaan mencolok dari kedua varian ini kecuali jarak jangkau yang lebih jauh untuk varian Kh-29TE serta bobot yang lebih berat dan dimensi panjang yang lebih pendek sedikit. Kedua rudal ini berpemandu TV pasif (passive TV guided).

Kh-29T/TE memiliki ciri khas berupa kepala bulat dengan kaca transparan serta sirip-sirip lebar dan tipis di bagian depan dan belakang. Hal ini berbeda dengan varian Kh-29L yang memiliki kepala mengecil dan meruncing berpemandu laser semi aktif.

Basis rancangan Kh-29 secara umum diambil dari rudal udara ke udara R-60 (AA-8 Aphid), menunjukkan sisa-sisa peninggalan Molniya dalam merancang rudal udara ke udara sebelumnya. Sementara pemandu TV-nya diambil dari Kh-59 (AS-13 Kingbolt), rudal jelajah buatan Raduga.

Resources
  • http://www.tribunnews.com/sains/2018/07/17/kehebatan-rudal-kh-29-senjata-andalan-tni-au-untuk-menghancurkan-sasaran-di-darat

Rabu, Juli 04, 2018

Rusia Ingin Wujudkan Desain Senjata Era Soviet?

Terkadang, untuk maju ke depan kita perlu melihat ke belakang, dan itulah yang dilakukan militer Rusia dengan sekali lagi mempertimbangkan realisasi dari desain senjatanya di masa lampau.

Seiring kemajuan teknologi, ahli militer Rusia menginginkan desain senjata yang tampak seperti dari Blade Runner atau film fiksi ilmiah ainnya. Tetapi ini tidak berarti mereka melupakan desain yang pernah ada di masa lalu, seperti yang dibuktikan berikut ini.

Torpedo nuklir

Peluncuran torpedo

Pejabat militer Rusia tengah mempertimbangkan membuat torpedo dengan hulu ledak nuklir. Seorang akademisi Soviet Andrey Saharov pernah merancang desainnya tetapi teknologi waktu itu belum canggih, jadi proyek dibekukan. Namun, kemungkinan proyek ini benar-benar terealisasi masih sangat ada.

"Ini adalah salah satu karakteristik konstruksi senjata Rusia - kembali ke era Soviet dan mencoba mewujudkan ide-ide yang tidak dapat direalisasikan saat itu. Torpedo ini (jika dibuat) akan sepanjang 24 meter, akan dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir, dan akan mampu mengeliminasi target di jarak sejauh 50 km," kata Shamil Aliev, salah satu perancang torpedo terkemuka Rusia, kepada RIA Novosti.

'Rudal Super' Putin

Tu-95 luncurkan rudal khA-101

Salah satu rancangan senjata era Soviet paling dinanti-nanti dan menarik yang tampaknya akan terwujud adalah rudal jelajah dengan instalasi nuklir.

"Kami telah mulai mengembangkan jenis-jenis senjata strategis baru yang tidak menggunakan trayek balistik ketika terbang menuju target, yang berarti sistem pertahanan udara tidak akan mampu melawan mereka," kata Presiden Vladimir Putin pada 1 Maret, saat pidato tahunan untuk Dewan Federasi.

Desain misil itu terlihat mirip dengan X-101 dari Rusia dan Tomahawk dari AS. Tetapi, di dalamnya akan ada instalasi energi nuklir kelas berat yang meningkatkan jarak jangkauan senjata (jarak tembak Tomahawk 2.500 km dan X-101 5.000 km).

Seperti Tomahawk, senjata ini akan menjadi misil yang terbang rendah dengan kecepatan supersonik. Tapi, seperti yang dinyatakan oleh Putin, jarak tembak dan waktu penerbangan misil tidak akan dibatasi oleh mesin nuklirnya. Namun sayang belum ada publikasi gambar uji coba militer senjata ini.

Resources
  • https://id.rbth.com/technology/80353-apakah-rancangan-senjata-era-soviet-qyx