Tampilkan postingan dengan label Artileri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artileri. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 25, 2020

SY400, Sistem Artileri China yang Menawarkan Fleksibilitas

SY400
SY400. (Gambar via Defpost)

Myanmar (Burma) telah menjadi pelanggan ekspor kedua untuk sistem artileri Multiple Rocket Launcher (MRL) SY400 China dan mulai menerima kendaraan peluncur dan rudalnya di awal tahun ini. Pelanggan ekspor pertama SY400 adalah negara dari Teluk Persia yaitu Qatar pada tahun 2017.

Sistem SY400 unik dalam beberapa hal. Kendaraan peluncurnya adalah WS2400 8x8 41 ton (muat). Truk ini masih berdesain truk Rusia tetapi menggunakan mesin Jerman termasuk komponen mekanis lainnya. WS2400 mengangkut seorang pengemudi dan tujuh penumpang. Kecepatan tertingginya 75 kilometer per jam dan jangkauan maksimal dengan bahan bakar internal mencapai 650 kilometer. Muatan maksimum adalah 22 ton.

WS2400 adalah kendaraan militer dan dikonfigurasikan untuk membawa dan meluncurkan berbagai jenis rudal atau roket. SY400 dapat mengakomodasi dua rudal balistik BP-12A dalam kontainer peluncur tertutup atau dua kontainer masing-masing berisi empat roket berpemandu SY-400 berkecepatan tinggi. Namun, truk SY400 pada umumnya membawa roket SY-400.

Proyektil SY-400 adalah roket berbahan bakar padat berdiameter 400 mm yang bobotnya sekitar dua ton dengan dua opsi hulu ledak. Dengan hulu ledak 300 kg, jangkauannya 150 kilometer. Dengan hulu ledak 200 kg, jangkauannya 200 kilometer.

Fitur unik dari SY400 adalah, meski bukan rudal balistik sejati, peluncuran rudal ini layaknya rudal balistik (lurus ke atas). Roket jarak jauh sebelumnya ditembakkan dari peluncur miring dan kendaraan harus disejajarkan menghadap ke target. Baik SY-400 dan rudal balistik BP-12A yang lebih besar keduanya ditembakkan lurus ke atas. SY400 memiliki fitur kontrol yang memungkinkannya miring begitu diluncurkan dan mengikuti lintasan roket artileri pada umumnya. Setelah diluncurkan, BP-12A naik ke ketinggian tertentu sebelum berbalik dan jatuh dengan karakteristik kecepatan tinggi rudal balistik.

Baik SY400 dan BP-12A menggunakan GPS/INS plus sistem panduan terminal yang memungkinkan keduanya untuk mendarat dalam jarak 50 meter dari titik tujuan.

BP-12A adalah rudal balistik sejati seberat empat ton, dengan diameter 600 mm, panjang enam meter dan jangkauan 280 kilometer dengan hulu ledak 480 kg. Sebagai rudal balistik, BP-12A lebih cepat dan lebih sulit untuk dicegat. SY-400 adalah roket berkecepatan tinggi tetapi tidak secepat rudal balistik dan memiliki lintasan yang lebih datar dan lebih mudah untuk dicegat karena kecepatannya yang lebih rendah.

Opsi rudal BP-12A untuk SY-400 mulai diperkenalkan pada 2008 untuk bersaing dengan rudal Iskander M Rusia. Rudal Rusia ini dikembangkan pada era 1990-an dan mulai beroperasi pada 2008. Iskander E (model ekspor) 3,8 ton menggunakan motor roket berbahan bakar padat dan berjangkauan 300 kilometer dengan hulu ledak setengah ton.

Rudal BP-12A
Contoh SY400 yang mengakomodasi 2 rudal BP12A. (Gambar via China Arms)

Rudal Iskander, seperti juga rekannya di China, dapat terus disimpan di dalam kontainer peluncur hingga sepuluh tahun.

Rusia menyediakan beberapa jenis hulu ledak untuk Iskander, termasuk munisi tandan (cluster), termobarik (fuel-air explosive) dan pulsa elektromagnetik (anti-radar, dan secara umum merusak perangkat elektronik). Ada juga hulu ledak nuklir, namun tidak diekspor Rusia. Bimbingannya sangat akurat, menggunakan GPS, plus inframerah homing untuk panduan terminal. Hulu ledak akan mendarat dalam jarak 10 meter dari titik tujuan. Iskander dibawa dengan truk 8x8 20 ton, yang juga menyediakan platform peluncuran. Ada juga truk lain untuk isi ulang yang membawa dua rudal.

Rudal SY400 tampaknya hanya menggunakan hulu ledak high-explosive yang dimaksudkan untuk membuat kerusakan besar pada lapangan terbang, pelabuhan, atau struktur lainnya.

SY400
Sebuah SY400 yang mengakomodasi 1 rudal BP-12A dan 4 rudal SY400. (Gambar via China Arms)

Masih belum jelas mengapa Myanmar membeli sistem SY400 karena negara ini tidak di bawah ancaman militer dari negara-negara tetangganya. Namun, Thailand belum lama ini menerima beberapa roket jarak jauh WS-1B (jangkauan 150 kilometer) dari China. Thailand dan Myanmar memang negara demokrasi, namun angkatan bersenjata keduanya terkadang mengambil alih pemerintahan. Selama beberapa dekade, Burma adalah kediktatoran militer sampai para jenderal mengizinkan pemilihan pada 2011, demi menghindari pemberontakan besar dan perang saudara. Negosiasi pengembalian dari militer ke demokrasi membuat militer memiliki banyak hak otonomi dan anggaran yang relatif lebih besar. Militer Burma diizinkan membeli apa pun dari anggarannya meskipun barang yang dibeli belum mendesak atau tidak begitu meningkatkan pertahanan nasional secara signifikan.

Qatar, pelanggan ekspor pertama untuk SY400, adalah negara Arab teranyar yang mendapatkan rudal balistik. Pada tahun 1988, Arab Saudi membeli puluhan rudal balistik bahan bakar cair DF-3 dari China, masing-masing dengan jangkauan 4.000 kilometer. DF-3 tidak pernah diuji tembak oleh Saudi dan tidak ditampilkan di depan umum sampai parade 2014. Selain itu, Saudi juga membeli selusin atau lebih rudal balistik berbahan bakar padat DF-21 dari China. Rudal ini memiliki jangkauan 1.700 kilometer. Sementara itu, Yaman membeli puluhan rudal balistik dari Korea Utara pada era 1990-an. Iran dan Israel membangun rudal balistik mereka sendiri tetapi Israel memiliki hulu ledak nuklir. Baik Israel dan Arab Saudi memiliki sistem anti-rudal yang andal yang telah terbukti dalam pertempuran.*

Selasa, Oktober 02, 2018

M109A7 155mm, Howitzer Baru Angkatan Darat AS

Howitzer M109A7 155mm
Howitzer M109A7 155mm

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) telah merilis kontrak pada 28 September 2018, mengenai produksi meriam Howitzer swa-gerak (Self-Propelled) M109A7 155mm dan kendaraan dukungan amunisi M992A3 dengan Perusahaan BAE Systems Land & Armaments LP, York, Pennsylvania.

Pada tanggal 28 September 2018, Angkatan Darat AS telah memerintahkan produksi artileri Howitzer M109A7 155mm (roda track) swa-gerak serta kendaraan lapis baja track dukungan amunisi M992A3 di bawah kontrak senilai lebih dari $ 215 juta.

M109A7 adalah generasi terbaru dari sistem artileri buatan Amerika dalam keluarga howitzer M109 155mm. M109A7 telah mengalami peningkatan yang signifikan dari pendahulunya M109A6 Paladin yang telah terbukti dalam pertempuran, diantaranya upgrade sistem lambung, turret, mesin, dan suspensi. M109A7 diawaki oleh 4 kru termasuk pengemudi, komandan, loader dan penembak.

M109A7 memiliki turret besar yang dipasang di bagian belakang sasis baru menggunakan komponen modem yang umum untuk M2A3 Bradley Fighting Vehicle. Turret dipersenjatai dengan meriam 155mm M284 dengan senjata M182A1 dan loader otomatis, dan memiliki jangkauan 24 km menggunakan putaran tanpa bantuan atau 30 km menggunakan putaran bantuan.

Untuk perlindungan diri, palka komandan dilengkapi dengan stasiun senjata yang dioperasikan secara remot yang dipersenjatai dengan satu senapan mesin berat 12,7 mm.

Howitzer M109A7 155mm
Howitzer M109A7 155mm

Kendaraan dukungan amunisi M992A3
Kendaraan dukungan amunisi M992A3

Kendaraan dukungan amunisi M992A3 dibangun pada sasis yang sama dengan  M109A7. Juga dikenal sebagai CAT (Carrier Ammunition Tracked) kendaraan ini berfungsi sebagai kendaraan lapis baja pembawa amunisi berat. Lebih khusus lagi, dirancang untuk membawa amunisi untuk howitzer M109A7.

M992A3 pada dasarnya mengunakan sasis dari howitzer standar M109A7 dengan roda trek yang mana bagian turret diganti dengan suprastruktur yang sepenuhnya tertutup. Di dalam suprastruktur inilah tersimpan amunisi dan suplai kebutuhan untuk M109A7. Suprastrukturnya dapat membawa 95 putaran artileri. (fr)

Kamis, Mei 24, 2018

Zuzana 2, Artileri Unik Slowakia Salah Satu yang Tercanggih di Dunia


Ketika DANA mulai diproduksi oleh Cekoslowakia (Czechoslovakia) pada akhir tahun 1970-an, tidak banyak yang menyukainya. DANA adalah meriam howitzer self-propelled (swa-gerak) besar 152 milimeter.

Ketika kala itu sebagian besar artileri bergerak didesain menggunakan trek, seperti halnya tank, DANA muncul dengan delapan roda. DANA adalah senjata pertama di ukurannya yang menggunakan roda - sambil mengusung mekanisme reload otomatis yang inovatif untuk meriamnya.

Angkatan Darat Cekoslowakia menginginkan DANA agar tidak lagi terlalu bergantung pada industri militer Soviet untuk memenuhi kebutuhannya - dan penggunaan roda dimaksudkan agar artileri bergerak lebih cepat - menyebarkan artileri. Kelemahan menonjol dari penggunaan roda ini adalah manuver off-roadnya yang lebih rendah.

Namun, secara keseluruhan DANA bekerja dengan baik. Meriam self-propelled ini sudah terjun langsung dalam perang, dengan lebih dari 670 unit total sudah diproduksi, dan diekspor ke Polandia, Libya, dan bahkan Uni Soviet - yang kemudian diturunkan ke negara-negara seperti Georgia dan Azerbaijan, yang saat ini masih memiliki DANA dalam gudang artilerinya.
Meriam howitzer DANA Ceko
Meriam howitzer DANA Ceko
Baru-baru ini, militer Ceko (Czech )menggunakan DANA di Afghanistan.

DANA lebih tepatnya adalah senjata Slowakia (Slovakia). Pada 1990-an, dimana Slowakia menjadi negara independen (Cekoslowakia pecah menjadi Ceko dan Slowakia) - dengan pabrik-pabriknya yang memproduksi DANA - yang kemudian memproduksi Zuzana, pengganti DANA yang serupa, kecuali meriam 155 milimeternya yang sudah didesain untuk mengakomodasi amunisi standar NATO. Satu-satunya negara di luar Slowakia yang pernah mengadopsi Zuzana adalah Republik Siprus.

Sekarang perusahaan Slowakia Konstrukta memiliki pengganti yang sangat menarik untuk DANA dan Zuzana yang dikenal sebagai Zuzana 2. Mesinnya sangat besar, dengan panjang lebih dari 14 meter - dan tampak lebih unik.

Pada 23 Mei 2018, Angkatan Darat Slowakia mengumumkan akan menjadi yang pertama memperoleh 25 unit Zuzana 2 senilai US $ 206 juta, yang telah diuji sejak tahun 2014.


Zuzana 2 tampak seperti alat berat konstruksi, dengan berat 37,5 ton, yang berarti 10 ton lebih berat daripada meriam howitzer M-109 Paladin milik AS. Sesuai dengan konfigurasi beroda dan menggunakan M-109 sebagai perbandingan, kecepatan Zuzana 2 lebih unggul 24 km/jam dengan kecepatan maksimum 80 km/jam - dan memiliki jangkauan 250 kilometer lebih jauh dari total 600 kilometer.

Seperti halnya Zuzana pertama, Zuzana 2 adalah howitzer 155 milimeter yang cocok dengan amunisi NATO. Kru telah dikurangi menjadi tiga, dari sebelumnya empat pada Zuzana 1, karena penambahan sistem otomatisasi.

Peningkatan yang paling penting dari Zuzana 2 adalah kemampuan “MRSI” atau multiple-round simultaneous impact - di mana komputer kontrol-tembak mengolah angka-angka untuk beberapa putaran untuk menembak pada lintasan yang berbeda dalam suksesi pendek, efeknya setiap peluru yang sangat eksplosif menghantam area yang sama pada saat bersamaan.

Kemampuan inilah yang menjadikan Zuzana 2 sebagai salah satu sistem artileri tercanggih di dunia.




Alasan mengapa meriam besar ini muncul sekarang mungkin ada hubungannya dengan tujuan Slowakia untuk melengkapi persenjataan batalyon artileri mereka agar dapat merespon krisis dengan cepat - apakah itu terkait Slowakia sendiri atau aliansi NATO, yang semuanya lebih menonjol mengingat kedekatan Slowakia dengan Ukraina.

Korps lapis baja Slowakia sebagian besar masih terdiri dari Tank T-72 dan kendaraan tempur lapis baja BMP-1 dan 2 era Pakta Warsawa (Uni Soviet), meskipun Slowakia telah mendapatkan puluhan kendaraan lapis baja Patria dari Finlandia untuk menggantikan BMP.

Seluruh gambar adalah Zuzana 2 kecuali gambar kedua (DANA).

Resources
  • Gambar: Kotadef Slowakia

Rabu, Desember 31, 2014

Menanti Datangnya K9 Thunder

K9 Thunder

Jika Amerika Serikat memiliki artileri Howitzer swagerak 155mm andalan M109 Paladin, Korea Selatan punya K9, kendaraan artileri swagerak yang tak kalah bagusnya. Pada K9 lah korps Artileri TNI AD melirik dan mempersiapkan akuisisinya.

Masa-masa realisasi pembangunan kekuatan TNI yang mengacu kepada MEF (Minimum Essential Force) Renstra I memang sudah hampir paripurna, dengan sebagian besar alutsista yang dipesan sudah mulai berdatangan.

Korps Artileri TNI AD sendiri kebagian 37 unit Howitzer berbasis truk CAESAR dari Perancis senilai USD 141 juta dan 36 unit sistem artileri roket ASTROS senilai USD 405 juta dari Brasil. Ini berarti Korps Artileri TNI AD bisa memodernisasi dan membentuk 4 batalyon artileri swagerak, diluar sejumlah meriam tarik 105mm Kh-178 dan 155mm Kh-179 yang dibelinya dari Korea Selatan.

Di luar perkiraan, di tengah masa transisi pemerintahan hasil Pemilu 2014, TNI ternyata tak lantas berhenti dan mengambil napas. MEF Renstra 2 yang sudah di ambang pintu perlahan-lahan mulai mengemuka.

Alutsista pilihan dan berkualitas kembali disasar untuk menjaga kedaulatan dan meningkatkan wibawa di antara negara kawasan. Satu yang dilirik untuk semakin memperkuat Korps Artileri TNI AD adalah sistem artileri swagerak berpenggerak roda rantai (tracked). Sistem semacam ini hanya dimiliki oleh sedikit negara. Yang paling mendominasi, tentu saja adalah M109 Paladin yang begitu laku dan dipergunakan hampir sebagian besar Negara NATO. Inggris memiliki AS90, dan Jerman Barat menggunakan Panzer Haubitze (PzH) 2000.

Korps Artileri TNI AD memang sangat butuh penyegaran untuk urusan artileri swagerak berbasis roda rantai. Pasalnya, AMX-13 AUF1 105mm yang dimiliki sudah amat terlalu uzur, pabriknya sudah bangkrut, dan suku cadangnya sudah tak lagi tersedia di pasaran. Untuk mendukung manuver gabungan dengan Kavaleri yang sudah dilengkapi MBT Leopard 2A4 dan Infantri Mekanis yang sudah menggunakan Marder 1A3 dan Anoa sudah pasti kepayahan. Apalagi jarak jangkau meriamnya semakin terbatas.

Namun begitu, pemilihan kandidat sistem artileri swagerak harus dilakukan dengan sejumlah pertimbangan yang benar-benar matang. Soal pertama, apalagi kalau bukan hantu embargo di medio 1990an dan awal milenium baru. Jangan sampai alutsista berharga mahal harus mangkrak karena kelangkaan suku cadang, atau tidak bisa digunakan karena larangan negara produsennya. Kedua, sistem yang dibeli tentu saja harus kompatibel dengan segala jenis munisi yang dipergunakan Korps Artileri TNI AD sendiri, mengingat TNI AD menggunakan amunisi yang berbeda-beda negara produsennya walaupun kalibernya sama.

Yang terakhir, TNI AD tentu mengutamakan keseimbangan. Walaupun pemerintahan lalu percaya pada jargon kosong diplomasi "zero enemy thousand friends", kenyataannya situasi geopolitik seringkali memaksa keberpihakan karena keadaan. Apabila kemudian keberpihakan tersebut dapat menimbulkan implikasi negatif bagi postur pertahanan Indonesia, TNI harus siap. Pengadaan alutsista dari multi negara dianggap mampu menjadi solusi, walaupun berdampak kepada logistik dan suku cadang yang harus disiapkan untuk mendukung penggelaran alutsista.

Nah, dari sejumlah kandidat yang dievaluasi, K9 Thunder buatan Korea Selatan kemudian menyeruak sebagai kandidat yang memiliki kans terbesar untuk dieksekusi pembeliannya. Sistem artileri swagerak terbaru ini menawarkan keganasan meriam 155mm dalam sasis yang sepenuhnya dibuat oleh perusahaan Korea Selatan, Samsung Techwin. Dengan sejarah mesra dimana meriam howitzer TNI AD sebagian besar memang diakuisisi dari Korea Selatan, K9 bak melengkapi kebahagiaan. Apalagi K9 Thunder sudah pula menyandang predikat 'battle proven'. Korps Artileri sendiri menargetkan akuisisi 2 yon tambahan sistem artileri berpenggerak rantai untuk memperkuat batalyon artileri medan TNI AD.

K9 Thunder, sang primadona baru
Korea Selatan sendiri sejak lama merupakan pengguna setia M109 Paladin. Tidak mau membeli mentah-mentah, Korea Selatan melisensi M109A2 sebagai K55 dan K55A1. Namun semakin berkembangnya teknologi, Korea Selatan semakin merasa ketinggalan.

M109 Paladin sudah mencapai iterasi A6 dengan jarak jangkauan yang semakin jauh, sementara K55A1 sudah jelas kalah jarak. Rival beratnya Korea Utara sudah diketahui memiliki sistem artileri swagerak berbasis sasis tank Type-59 berkode M-1978 Koksan dengan meriam kaliber 170mm.

K9 Thunder
K9 Thunder. Gambar: Samsung Techwin

Untuk mempersempit selisih tersebut, Korea Selatan menugaskan Samsung Techwin (sebelumnya bernama Samsung Defense Aerospace) untuk mengembangkan sistem artileri swagerak sebagai komplemen, dan kelak pengganti, K55 pada 1989.

Purwarupa pertama sudah ditampilkan pada 1994, dan pengujian lanjutan dilakukan sampai akhirnya dapat diterima oleh AD Korea Selatan pada 1998. Dengan kendaraan serial pertama masuk dinas aktif pada 2000an, boleh dikatakan usia K9 masihlah cukup muda.

Spesifikasi K9 Thunder

Selasa, Juli 01, 2014

Artileri: KMW Jerman Luncurkan BOXER dengan AGM

Pada Eurosatory 2014 lalu di Paris, perusahaan pertahanan Jerman KMW (Krauss-Maffei Wegmann) menampilkan teknologi terbaru sistem artileri AGM (Artillery Gun Module) beroda, yaitu sebuah kendaraan lapis baja multiperan (MRAV) ARTEC BOXER yang dilengkapi turet remot kontrol dengan meriam kaliber 155 mm.

AGM dipasang pada BOXER
AGM dipasang pada MRAV ARTEC BOXER, yang ditampilkan KMW di Eurosatory 2014 (Gambar: Shephardmedia)
BOXER adalah kendaraan tempur lapis baja 8x8 yang diproduksi oleh ARTEC GmbH (ARmoured vehicle TEChnology) Industrial Group (Jerman-Belanda). BOXER saat ini digunakan oleh Angkatan Darat Jerman dan Belanda.

Sebelumnya, meriam kaliber 155 mm ini juga dipasang pada Howitzer PzH 2000 (Panzerhaubitze 2000) yang saat ini digunakan oleh Angkatan Darat Jerman dan negara-negara NATO lainnya.

Artillery Gun Module hasil rancang KMW ini adalah sistem artileri yang sepenuhnya otomatis, dengan remot kontrol dan nir awak. AGM pada BOXER ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari PzH 2000.

PZH 2000 dan ARTEC BOXER
Pzh 200 (kiri) dan BOXER (kanan)
AGM tidak hanya menawarkan kekuatan dan keotomatisan dari PzH 2000, tapi juga memungkinkannya untuk diintegrasikan pada seluruh turet kendaraan militer yang cocok. Integrasi tidak hanya bisa diterapkan pada kendaraan roda track, tapi juga bisa untuk kendaraan beroda seperti saat ini. Dengan begitu, akan memberikan jangkauan penyebaran yang lebih jauh dan mobilitas yang tinggi.

AGM dilengkapi dengan sistem kontrol proyektil otomatis (terkomputerisasi) dan bertenaga listrik untuk proses loading dan unloading amunisi dari magazin. AGM BOXER ini dapat membawa 30 proyektil 155 mm, dioperasikan oleh dua orang kru (komandan dan pengemudi) dan siap menembak kemudian meninggalkan posisi hanya dalam waktu kurang dari 30 detik. Jangkauannya maksimumnya adalah 40 km.

Kamis, Mei 30, 2013

Kemhan Beli 6 Sistem Pertahanan Udara Oerlikon Skyshield

Mungkin karena banyak sobat yang "galau" terkait soal TNI yang menyebarkan meriam buatan tahun 1961 untuk mengantisipasi serangan udara beberapa waktu lalu, akhirnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) memutuskan untuk membeli sistem pertahanan udara dari di Swiss he..... Nggak lah bercanda... Tapi pembelian sistem pertahanan udaranya benar adanya.

Oerlikon Skyshield
Oerlikon Skyshield
(Foto Rheinmetall Air Defence)
Kemhan mengaku telah memesan sistem pertahanan udara yang bernama Oerlikon Skyshield dari perusahaan Oerlikon Contraves (sekarang Rheinmetall Air Defence) Swiss. Kepala Badan Sarana Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis mengatakan bahwa Kemenhan baru memesan 6 unit Oerlikon Skyshield dan saat ini sudah dalam proses produksi. Total biaya yang harus dikeluarkan untuk mengakuisisi 6 unit alutsista Swiss tersebut sebesar 202 juta dolar atau per unitnya sekitar 33,6 juta dolar. Sayangnya, pengiriman baru bisa dilakukan pada 2015 (4 unit) dan 2017 (2 unit).

Oerlikon Skyshield adalah sistem pertahanan udara jarak pendek, modular, ringan yang difungsikan untuk cepat menargetkan dan menghancurkan pesawat dan rudal yang mengancam. Terdiri dari dua cannon revolver 35 mm dengan laju tembakan 1.000 putaran per menit. Sistem kontrol tembaknya terdiri dari unit sensor dan pos komando terpisah. Skyshield ini dibuat juga untuk dilengkapi hingga dua rudal permukaan-ke-udara yang akan meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya. 

Skyshield mudah dimobilisasi dengan truk atau sistem transportasi lainnya. Sistem kontrol tembaknya menggunakan pencarian x-band dan pelacakan radar, dan unit lain untuk radar/TV dan/atau Laser/FLIR precision tracking. Pos komando dapat ditempatkan hingga jarak 500 meter dari unit kontrol tembak, menggunakan gelombang radio terenkripsi. Skyshield juga bisa digunakan dalam satu jaringan dengan sistem pertahanan udara lainnya untuk cakupan pertahanan udara yang lebih luas dan efektif.

AHEAD
Amunisi AHEAD yang bisa memuntahkan 152 proyektil tungsten
(Foto Rheinmetall Air Defence)
Kemampuan Oerlikon Skyshield semakin mumpuni jika menggunakan amunisi khusus buatan Rheinmetall bernama Advanced Hit Efficiency and Destruction (AHEAD). Jika ditembakkan, peluru ini mampu menyebar membentuk perisai, sehingga presisi tepat sasaran mencapai lebih dari 90 persen.

Minggu, November 25, 2012

Rusia Kembangkan MLRS 200 km

MLRS Rusia 200 km

Rusia mengembangkan Multiple-Launch Rocket Systems (MLRS) jarak jauh dengan guidance (bimbingan) yang baik yang memungkinkan mereka untuk menyerang target hingga 120 mil (200 km) jauhnya, juru bicara artileri Departemen Pertahanan Rusia mengatakan.

"Kami memiliki teknik militer yang potensial untuk menciptakan MLRS generasi baru dengan kisaran jangkauan 200 km," kata Letkol Nikolai Donyushkin.

Artileri saat ini yang digunakan Rusia antara lain 122-mm Grad, 220-mm Uragan, sistem roket 300-mm Smerch, Tornado-S, Tornado-G dan Uragan 1-M yang saat ini tengah menjalani uji coba negara. Tentara Rusia saat ini dalam proses penerimaan hingga 30 unit sistem artileri Tornago-G tahun ini untuk menggantikan BM-21 Grad.

Kemampuan Tornado-S saat ini sedang ditingkatkan dengan sistem satelit navigasi GLONASS yang digunakan dalam sistem rudal Smerch, Donyushkin mengatakan. Roket pandu (guided) dari Tornado-S meungkinkan untuk menyerang target di 72 mil (120 km).

"Tornado-S akan memiliki jangkauan yang lebih jauh, akurasi yang lebih baik dan muatan hulu ledak baru dan kesiapan waktu peluncuran hanya memakan waktu 3 menit," katanya.

Angkatan Darat Rusia secara bertahap menuju ke kemampuan baru dari roket artileri jarak jauh, katanya.

"Tingkat presisi yang tinggi dari artileri ini memungkinkan untuk memastikan penghancuran target yang berkemampuan tinggi sebelum digunakan di medan perang," pungkasnya.