Senin, Maret 05, 2012

Artileri Perang - Sejarah dan Perkembangannya


Artileri telah mendampingi manusia bahkan sejak sejarah peperangan itu ada. Berawal dari ketapel, onager, trebuchet, dan busur. Oleh sejarawan militer, semua itu disebut sebagai artileri. Secara umum, artileri merupakan sebutan untuk kesenjataan, pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Sebuah Trebuchet di Perancis
Pada awalnya, istilah artileri digunakan untuk menyebut alat berat apapun yang menembakkan proyektil di medan perang. Istilah ini juga dipakai untuk mendeskripsikan tentara yang tugasnya menjalankan alat-alat tersebut. Dengan ditemukannya pesawat terbang pada awal abad ke-20, artileri juga disebut  sebagai  senjata darat anti-udara.

meriam klasik
Artileri merupakan persenjataan darat paling mematikan dan paling efektif. Lihat Perang Napoleon, Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sebagian besar kematian disebabkan oleh pertempuran artileri. Pada tahun 1944, Joseph Stalin pun mengatakan bahwa artileri adalah "GOd of War". Perwira artileri yang paling terkenal dalam sejarah mungkin Napoleon.

“The King of Battles!”
(Mayjen HG Bishop, Field Artillery, 1935)

“An Infantryman’s best friend is not his mother It’s the artillery, brotheff"
(Anonim, Fort Benning, Goergia, 1931)

“No matterhowhighly trained the in/antryand otherbranches maybe, there is no action until the artillery is ready.”
(Mayjen William J. Snow, dalam The Shrapnel-1924)

“The artillery is the most important of our arms”
(Jenderal Dwight D. Eisenhower)

Dari kutipan-kutipan diatas tak berlebihan jika artileri kemudian disebut sistem persenjataan paling vital, Khususnya bagi para infantri. Kutipan-kutipan tersebut begitu faktual, karena diutarakan langsung oleh orang-orang yang tahu betul fungsi persenjataan ini. Pendek kata, artileri adalah pembungkam tembakan musuh di sepanjang garis pertahanan dan penghancur instalasi militer yang paling efektif.

howitzer jadul
Artileri kini bermacam-macam, mulai dari mortir, kanon, howitzer, dan pelontar roket. Artileri dengan mesiu propelan digunakan pertamakali pada 28 Januari 1132 ketika Jenderal Han Shizhong dari Dinasti Song untuk menyerang sebuah kota di Fujian. Kemudian menyebar ke Tengah timur dan sampai ke capai Eropa pada abad ke-13.

Di Asia, Mongol mengadopsi artileri Cina dan digunakan secara efektif dalam penaklukan-penaklukkan besarnya . Pada akhir abad ke-14, pemberontak Cina menggunakan artileri dan kavaleri yang terorganisir untuk memaksa bangsa Mongol meninggalkan Cina.

Artileri yang digunakan Tentara Mehmed II (penakluk Konstantinopel-1453), termasuk artileri yang paling canggih dan dahsyat pada masanya. Dinasti Utsmaniyah mengepung Konstanstinopel dengan enam puluh sembilan senjata artileri di lima belas tempat terpisah. Rentetan tembakan meriam Utsmaniyah berlangsung selama 40 hari, dan diperkirakan jumlah tembakan mencapai 19.320 kali. Wajar dengan tembakan sebanyak itu karena kita tahu Konstantinopel sangat "tidak mungkin" untuk ditaklukkan pada waktu itu. Kejatuhan konstantinopel membuktikan keefektifan penggunaan artileri pada perang yang akhirnya mengakhiri kekaisaran Bizantium.

Meriam Mehmed II
Meriam Mehmed II
Di Indonesia sejarah artileri di jaman kuno jarang terdengar. Sekitar tahun 1500- 1850an di kepulauan Nusantara setiap kapal saudagar besar pribumi pasti ada sebuah meriam Lantaka yang digunakan untuk menghalau serangan bajak laut. Biasanya, Lantaka terbuat dari besi atau perunggu dan sering dipasang pada kapal saudagar, biasanya beratnya di bawah dua ratus pound, dan bahkan ada yang hanya beberapa kilogram saja.